Contact

Rizky maulana / Sofi Pujiastuti

telp 08112240196 / 081320140019

email Rizfajzan @ gmail

twitter follow@AlfabbyRizky

Pasar Soreang Blok I & II E ( Hj Wewen ) Soreang Bandung

No Rek 13000 - 1122 - 4030 Bank mandiri Cab Soreang - Bandung

Hari kerja Senin - Jum'at ( kecuali hari Libur Nasional)

Jam kerja 08.00 - 16.00 WIB

Rabu, 06 Oktober 2010

Harga Emas Melejit : Seberapa Tangguh Dinar Real Time Engine Kita...? PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Rabu, 06 October 2010 07:30
Tanpa terasa sudah lebih dari dua tahun engine yang kami pakai untuk menghitung nilai tukar Dinar secara real time beroperasi sejak kami perkenalkan  tanggal 3 Juli 2008. Dari waktu ke waktu algorithm dan sumber data kami review untuk make sure bahwa hasil-hasil perhitungan harga Dinar  real time ini tidak ngaco, lebih-lebih pada saat harga emas dunia melejit seperti dalam dua hari terakhir.
Pagi ini ketika harga di perhitungan engine kami tersebut mencapai angka Rp 1,666,770 /Dinar; sekali lagi kami review engine tersebut – apakah hasil perhitungannya sudah benar ? Apakah harga Dinar kami ini tidak ketinggian ? dst. Meskipun confident dengan hasil perhitungan tersebut, tidak segan kami melakukan check and recheck. Berikut adalah poin-poin yang antara lain kami check :
1) Kami check kenaikan harga Dinar ini apakah proporsional dengan kenaikan harga emas dunia, setelah memperhitungkan nilai tukar Rupiah.
2) Kami check apakah sumber data harga emas dunia yang kami pakai memberikan masukan data yang in-line dengan data-data publik yang ada seperti Kitco dlsb.  Untuk diketahui, kami selalu menggunakan dua dari tiga sumber data real time yang kami miliki – jadi bila ada masalah dengan salah satu sumber data tersebut – engine kami akan selalu mengambil yang tidak bermasalah atau yang memberikan data secara konsisten.
3) Kami check dan bandingkan pula dengan harga Dinar emas yang available  dari negara lain. Tidak dari provider di Indonesia untuk menghindari subjektivitas persaingan yang tidak perlu, bagi kami penyedia Dinar lain di Indonesia adalah sparring partner dalam rangka fastabihul khairat – bukan pesaing.
Untuk poin pertama, pembaca juga dapat melakukan sendiri karena semua data baik harga Dinar real time maupun harga emas dan nilai tukar yang diperlukan tersaji di situs GeraiDinar.Com ini . Data-data tersebut ter-updated otomatis setiap 6 jam untuk transaksi , setiap 10 menit untuk data grafis deteksi trend harga, dan real time untuk harga emas dunia dan exchange rate.
Untuk poin kedua tidak bisa kami share secara angka karena menyangkut Intellectual Property Right (IPR), tetapi out-put-nya berupa harga emas dunia yang tersaji di situs ini dapat dibandingkan langsung dengan data publik yang ada seperti dari Kitco.com. Tidak akan sama persis dengan data Kitco.com misalnya, karena seperti yang kami jelaskan diatas – data kami adalah dua dari tiga data yang available secara konsisten.
Untuk poin ketiga, alhamdulillah sekarang saudara-saudara kita di Malaysia melalui World Islamic Mint Malaysia; dan Abu Dhabi melalui World Islamic Mint-nya juga mulai meng-up-date harga Dinar setiap hari. Meskipun tidak sesering yang dilakukan otomatis oleh engine kami yaitu setiap 6 jam, up-date yang mereka lakukan sekali setiap 24 jam ( setiap jam 15 waktu London) cukup memadai untuk kita gunakan sebagai pembanding. Melalui link-link yang saya berikan tersebut diatas, Anda juga dapat melakukan analisa perbandingan ini sendiri.
Untuk pagi ini misalnya, ketika harga Dinar di GeraiDinar menujukkan angak Rp 1,666,770 ; di WIM Malaysia menujukkan harga RM 627 atau kalau di Rupiahkan menjadi Rp 1,806, 199,-. Akhir pekan lalu ketika harga kami berada di angka Rp 1,627,600 ; angka mereka berada di RM 614 atau bila di Rupiah-kan menjadi Rp 1,780,600. Jadi secara persistent harga Dinar di Malaysia lebih mahal dari harga Dinar GeraiDinar.
Demikian pula dengan harga Dinar versi WIM Abu Dhabi dalam USD dan Euro. Dari kami pembanding yang kami gunakan adalah harga Dinar kami dalam USD dan Euro yang selalu tersaji otomatis di M-Dinar. Per pagi ini harga Dinar kami dalam USD adalah USD 185.06 dan dalam Euro adalah EUR 133.77 ; Anda dapat bandingkan langsung dengan harga WIM Abu Dhabi yang masing-masing menunjukkan harga pada USD 200.05 dan EUR 145.07. Dari data yang kami amati sejak pekan lalu, kami juga jumpai harga dari WIM Abu Dhabi secara persistent lebih mahal dari harga Dinar dalam USD dan EUR-nya GeraiDinar/M-Dinar.
GD Price vs WIM Malay & WIM Abu DhabiGD Price vs WIM Malay & WIM Abu Dhabi
 
Memang harga-harga kami yang persistent dibawah harga di Malaysia misalnya, berpotensi membawa masalah tersendiri dalam kaitan stock availability Dinar. Dinar dengan kwalitas tinggi kami yang di produksi oleh Logam Mulia dan terakreditasi dengan LBMA (London Bullion Market Association), bisa saja tiba-tiba diborong oleh orang-orang Malaysia karena harga yang lebih rendah tersebut. Bila ini terjadi maka akan ada kelangkaan Dinar LM di dalam negeri kita.
Untuk mencegah aliran Dinar keluar ini,  sementara waktu kami tidak akan menaikkan harga Dinar real time ini dengan mengubah algorithm di engine kami misalnya – tetapi kepada seluruh agen dan pengguna Dinar agar aware – bila ada arus pembelian Dinar dalam sekala besar.
Bila nantinya risiko Dinar lari keluar negeri  tersebut menjadi imminent (semakin nyata untuk terjadi) , maka tidak tertutup kemungkinan engine Dinar real time tersebut kami sesuaikan dengan harga-harga Dinar fisik yang ada di Malaysia, Abu Dhabi dlsb.
Jadi untuk sementara ini, setelah dua tahun lebih berjalan engine Dinar real time masih kami anggap cukup tangguh untuk menghasilkan harga Dinar yang akurat dan terjangkau oleh konsumen pengguna di Indonesia – meskipun memberikan harga Dinar fisik yang persistent lebih rendah dari harga Dinar di negara lain.  Memang ada harga Dinar elektronis yang lebih murah seperti di e-Dinar, tetapi di situs mereka ini bila Anda membeli Dinar fisik – harga yang dijual adalah harga Dinar fisik WIM Abu Dhabi tersebut diatas – jadi tetap lebih mahal bila dibandingkan apple to apple dengan Dinar fisik GeraiDinar.
Semoga Allah memudahkan langkah kita untuk amal Shaleh yang diridloiNya.

Senin, 27 September 2010

Harga Emas : Tinggi Tetapi Tidak Ketinggian...




Oleh Muhaimin Iqbal   
Senin, 27 September 2010 05:34
Ketika saya menulis tentang kinerja Dinar emas melalui tulisan tanggal 24/09/2010 – dimana di tulisan tersebut saya ungkapkan data bahwa harga Dinar emas telah melonjak 71.29% selama tiga tahun terakhir, berbagai pertanyaan disampaikan pembaca situs ini ke saya. Diantaranya adalah apakah harga emas atau Dinar sudah ketinggian sekarang sehingga waktunya menunggu harga turun sebelum membeli (lagi) ?.

Melihat harga emas dunia yang hampir menyentuh US$ 1,300/Oz dan harga Dinar sudah diatas Rp 1,600,000/Dinar , maka memang betul bahwa harga emas atau Dinar sudah sangat tinggi. Namun harga yang tinggi ini tidak harus berarti ‘ketinggian’ yang berkonotasi akan turun kembali.

Seberapa tinggi atau seberapa rendah harga emas yang dibeli dengan US$ atau Rupiah, sangat tergantung dengan kekuatan daya beli US$ atau Rupiah itu sendiri. Jadi Emas atau Dinar akan naik lagi atau akan turun, tergantung kearah mana kekuatan daya beli US$ atau Rupiah bergerak.

Masyarakat dunia melacak trend kekuatan daya beli US$ dengan US Dollar Index (USDX), sedangkan untuk Rupiah saya melacaknya dengan Rupiah Index (IDRX) – yang perhitungannya pernah saya perkenalkan lewat tulisan saya akhir tahun lalu.

Bila trend USDX dan IDRX tersebut kita sandingkan dengar trend pergerakan harga emas sejak tiga tahun lalu, hasilnya akan seperti grafik dibawah. Meskipun ruwet seperti benang kusut, namun grafik ini menyiratkan suatu pola yang bisa dibaca dengan cukup jelas.
IDRX, USDX and Gold TrendIDRX, USDX and Gold Trend
 

Perhatikan garis biru (USDX) dan kuning (Emas dalam US$/Oz), keduanya bergerak berlawanan arah sampai awal tahun ini.  Artinya bila USDX yang mencerminkan daya beli US$ menguat, maka harga emas akan cenderung turun. Ini terjadi dalam situasi normal, maupun dalam kondisi krisis – bila krisisnya bersumber dari US$ atau Ekonomi Amerika itu sendiri.

Kemudian selama kurang lebih enam bulan berikutnya, terjadi anomaly yaitu harga emas dalam US$ naik bersamaan dengan naiknya daya beli US$. Kok bisa ? pada periode ini Dollar menguat – tetapi daya belinya terhadap emas tetap menurun (harga emas tetap naik) karena penguatan Dollar tersebut bersamaan dengan melemahnya Euro yang didorong oleh krisis PIIGS. Krisis yang sempat membuat para pelaku dunia usaha dan  investor was-was dalam beberapa bulan tersebut mendorong permintaan emas sebagai  tempat berlabuh yang aman bagi dana usaha dan investasi mereka.

Tiga bulan terakhir ancaman krisis PIIGS mereda dan US$ mulai kelihatan jati dirinya yang asli – yaitu cenderung melemah. Dengan issue Quantitative Easing 2 (QE 2) yang terus menghantui masyarakat pelaku usaha dan  investor dunia, nampaknya kecenderungan melemahnya Dollar ini masih akan berlanjut. Dalam grafik (biru) nampak jelas trend penurunannya dalam tiga bulan terakkhir dan belum ada tanda-tanda berbalik arah. Sebaliknya harga emas tiga bulan terakhir nampak sudah mulai berperilaku normal yaitu naik ketika daya beli Dollar menurun (grafik kuning).

Lantas bagaimana dengan Rupiah ?. Rupiah Index (IDRX) yang mencerminkan daya beli Rupiah – pada umumnya berperilaku mirip dengan  US$ selama tiga tahun terakhir, harga emas dalam Rupiah naik ketika IDRX turun dan sebaliknya. Hanya saja naik turunnya IDRX ini tidak selalu bersamaan dengan naik turunnya USDX. Ketika krisis financial melanda AS akhir 2008 sampai awal 2009, supply uang US$ yang sempat menjadi langka membuat US$ Index melonjak tajam. Daya beli relatif Rupiah terhadap US$ turun yang ditunjukan oleh IDRX yang rendah pada periode waktu tersebut. Pada periode inilah harga Dinar sempat melewati angka Rp 1,600,000/Dinar – bukan karena harga emas dunia lagi setinggi sekarang (saat itu harga emas dunia ‘hanya’ di kisaran US$ 940/Oz), tetapi Rupiahnya-lah yang lagi anjlog – bahkan sempat menyentuh angka Rp 12,000/US$.

Hari-hari ini Rupiah terhadap US$ kelihatan perkasa yaitu dibawah angka Rp 9,000/US$; sayangnya keperkasaan ini hanya terjadi bila dibandingkan dengan US$ saja. Bila dibandingkan dengan sekelompok mata uang kuat dunia lainnya yang tercermin dari IDRX – maka sesungguhnya Rupiah-pun saat ini sedang dalam trend melemah seperti US$. Lihat ujung kanan grafik merah yang sejalan dengan grafik biru.

Dengan signal yang begitu kuat yang tercermin dari grafik merah dan biru yang menurun sedangkan grafik emas naik ini, maka nampaknya harga emas masih akan terus naik. Peluang turunnya tetap akan ada, yaitu bila ada noise – berupa isu-isu sesaat yang bisa mengacaukan signal. Setelah noise ini menghilang, kembali signal yang jelas-lah yang akan dominant.

Jadi saat ini harga emas atau Dinar memang lagi tinggi, tetapi berdasarkan grafik diatas kita bisa melihat signal-nya dengan jelas bahwa harga sekarang belum ketinggian. Wa Allahu A’lam.

Sabtu, 25 September 2010

Dinar Setelah 3 Tahun : Apa Yang Terjadi...? PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Jum'at, 24 September 2010 09:07
Bulan September ini genap tiga tahun sejak system kami mencatat secara rutin perkembangan harga Dinar dari hari ke hari. Dalam perkembangannya bahkan harga Dinar ini berhasil kami otomatisasikan berdasarkan perkembangan harga emas Dunia, dan ter-update setiap 6 jam dalam angka dan setiap 10 menit dalam grafik – seperti yang dapat Anda ikuti di www.geraidinar.com sampai sekarang.

Grafik dibawah menggambarkan perkembangan harga tersebut dalam rata-rata bulanan. Di awal kami mencatat harga tersebut, rata-rata bulan September 2007 – harga Dinar berada pada angka Rp 915,080/Dinar sedangkan rata-rata bulan ini harga tersebut berada pada angka Rp 1,567,420/Dinar – naik sebesar 71.29 % dalam waktu tiga tahun.
 Perkembangan Harga Dinar 2007-2010

Apa maknanya apresiasi nilai Dinar ini bagi uang Anda ?, untuk mudahnya saya berikan gambaran pembanding dengan Deposito standar dengan hasil rata-rata 6 % per tahun misalnya. Bila pada September 2007, Anda memiliki uang Rp 2,000,000 ; yang Rp 1,000,000 Anda taruh di Deposito sedangkan yang sisanya Rp 1,000,000,- Anda taruh di Dinar. Maka nilai uang Anda yang di Deposito kini menjadi Rp 1,196,680,-  sedangkan yang di Dinar menjadi Rp 1,712,879,- atau 43% lebih tinggi ketimbang yang di Deposito standar. Untuk lebih mudahnya memahami perbandingan ini, perhatikan grafik dibawah.
Dinar Sebagai 'investasi' vs. Deposito 

Selain sebagai fungsi investasi – yaitu bila Dinar dilihat dari kaca mata Rupiah  nampak memberikan hasil yang jauh lebih tinggi dari investasi dalam bentuk deposito – Dinar juga terbukti berfungsi efektif dalam melindungi nilai asset Anda dalam tiga tahun ini. Uang di Deposto Anda yang seolah tumbuh 19.67% dalam tiga tahun tersebut diatas, ternyata bila diukur dengan timbangan Dinar – bukannya tumbuh malah turun atau menyusut sekitar 25% dalam tiga tahun terakhir. Perhatikan grafik dibawah untuk penjelasan hal ini.
Dinar Sebagai Proteksi Nilai vs. Deposito 

Setelah fungsi investasi dan proteksi nilai ini terbukti efektif, kini tantangan berikutnya memang menggunakan Dinar sebagai alat transaksi atau medium of exchange. Untuk transaksi modal atau transaksi komersial, pinjam-meminjam dlsb. hal inipun sudah berjalan efektif – tinggal menggunakannya untuk transaksi konsumsi – ini yang merupakan challenge tersendiri.

Dengan adanya gagasan pendirian Pasar Madinah yang saya perkenalkan lewat beberapa tulisan sebelumnya, insyaAllah akan dapat ikut menyempurnakan penggunaan Dinar dalam arti yang sesungguhnya yaitu sebagai Unit of Account, sebagai Store of Value dan tentu saja sebagai Medium of Exchange. InsyaAllah.

Sabtu, 18 September 2010

Harga Emas : Bila Burung-Burung Canary Mulai Mati ...


Oleh Muhaimin Iqbal   
Jum'at, 17 September 2010 07:33
Burung kecil canary (Serinus canaria domestica) yang hidup di sekitar tambang batu bara – biasanya akan mati terlebih dahulu bila ditambang tersebut muncul carbon monoksida, gas methane atau gas beracun lainnya yang melebihi ambang batas aman. Para pekerja tambang harus segera meninggalkan tambang ketika melihat butung canary ini pada mati. Burung canary menjadi semacam ‘early warning system’ bagi para pekerja tambang batu bara – sehingga muncullah kiasan dalam bahasa Inggris yang berbunyi “canary in the coal mine” yang artinya kurang lebih ya peringatan dini tersebut.
Peringatan dini inilah yang diingatkan oleh Alan Greenspan mantan Chariman of The Fedselama dua dasawarsa dalam seperempat abad terakhir.  Kita tahu dalam hal uang fiat – uang yang tidak memiliki nilai intrinsik, nilainya tidak tergantung dengan benda fisiknya – masyarakat ekonomi dunia mengenal pemain utamanya adalah The Fed-nya Amerika. Nilai US$ yang ‘dikendalikan’ oleh The Fed ini berpengaruh langsung maupun tidak langsung ke seluruh perekonomian dunia karena US$ juga menjadi reserve currency di hampir seluruh negara di Dunia. Tokoh yang sangat menentukan dalam ‘pengendalian nilai US$’ ini di Amerika selama beberapa dasawarsa terakhir ya Alan Greenspan tersebut diatas – yang menjabat sebagai Chairman of The Fed  selama 20 tahun sampai pensiun empat tahun silam (2006).
Ironinya adalah  ‘guru’ uang fiat dunia tersebut ternyata selama ini juga tidak mempercayai nilai uang fiat itu sendiri. Dalam pernyataannya di depan Council on Foreign Relations yang dimuat di The New York Sun dua hari lalu misalnya, Greenspan mengeluarkan beberapa ‘pengakuan’ yang  sayangnya tidak dia keluarkan selagi dia masih menjabat dahulu. Beberapa pengakuan yang mengejutkan para pengagung uang fiat tersebut antara lain adalah sbb :
“Fiat money has no place to go but gold,”
“If all currencies are moving up or down together, the question is: relative to what? Gold is the canary in the coal mine. It signals problems with respect to currency markets. Central banks should pay attention to it.”

Keyakinan Greenspan terhadap emas tersebut selama 20 tahun menjabat dia aktualisasikan dengan menjaga US$ agar tidak keluar jauh dari nilai emas. Di awal dia menjabat Agustus 1987 harga emas berada pada angka rata-rata bulanan US$ 461/Oz, ketika pensiun akhir Januari 2006  harga emas rata-rata bulan itu berada pada angka US$ 549/Oz.  Di masa pengelolaaannya, harga emas dalam US$ ‘hanya’ mengalami kenaikan sebesar 19% dalam 20 tahun.
Bandingkan misalnya dengan penggantinya  Ben Bernanke yang belum genap lima tahun menjabat, harga emas sudah tidak terkendali dalam US$, naik dari rata-rata bulanan US$ 461/Oz Januari 2006 ke rata-rata US$ 1,250/Oz bulan ini atau mengalami kenaikan sebesar 171% dalam tempo kurang dari lima tahun !. Tidak sepenuhnya salah Ben Bernanke memang, tetapi setidaknya ini juga cerminan ketidak peduliannya sebagai Chairman of The Fed terhadap harga emas – yang seharusnya menjadi instrumen peringatan dini bagi daya beli uang kertas.
Tidak seperti pendahulunya yaitu Greenspan yang relatif mampu mengendalikan daya beli US$ terhadap emas karena menjadikan harga emas sebagai peringatan dini bagi uang fiat yang dikendalikannya,  “...gold is canary in the coal mine...”.
Karena ignorance-nya para pengendali uang fiat kini, “...burung-burung canary di tambang batu bara...” telah pada sekarat dan sebagian mati, berupa harga emas yang melonjak 171 % dalam US$ selama kurang dari lima tahun terakhir, atau dalam Rupiah melonjak 160% pada periode yang sama (harga emas Rp 140,000/gram  Januari 2006; Rp 365,000/gram September 2010) , maka kini waktunya – ‘para pekerja tambang’ – seperti kita-kita ini untuk menyelamatkan diri.
 “Kalimat hikmah (perkataan yang baik/bijaksana) adalah senjatanya orang mukmin, dimanapun ia mendapatkannya maka dia lebih berhak untuk mengambilnya” (HR. Tirmidzi/Ibnu Majjah)

Kamis, 16 September 2010

Harga Emas Dari September Ke September : Seasonal dan Systemic

Oleh Muhaimin Iqbal


Rabu, 15 September 2010 07:56

Ketika saya mulai tertarik mengkaji Dinar bulan September lima tahun lalu (2006), harga emas dunia saat itu masih berada di bawah US$ 600/Oz (September average US$ 598/Oz). Semalam harga emas dunia sempat ditransaksikan di angka US$ 1,275/Oz; dan average bulan ini (sampai tanggal 15) sudah mencapai US$ 1,250/Oz atau lebih dari dua kali lipat dari bulan yang sama lima tahun lewat. Ini menguatkan teori saya tentang peluruhan daya beli mata uang kertas yang memang rata-rata memiliki waktu paruh di kisaran 5 tahun saja !.
Memang teori ini perlu pembuktian secara ilmiah, namun biarlah para ilmuwan yang melakukannya. Sebagai pelaku ekonomi awam, saya sendiri cukup menggunakan pemahaman teori ini untuk menyelamatkan diri dari menjadi korban penurunan nilai mata uang kertas yang begitu terang benderang. Untuk pembuktian ilmiahnya sendiri, saya senang ada peserta Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin yang insyallah akan menyusun thesis Doktor-nya dengan subject peluruhan daya beli mata uang kertas ini.
Untuk bulan September sendiri, memang bulan ini adalah bulan yang khusus untuk harga emas dunia. Bahwa kenaikan harga emas yang terjadinya secara musiman atau seasonal di awali di bulan September, sudah pernah saya tulis sekitar satu setengah tahun lalu dengan judul Musim Membeli Emas/Dinar. Kenaikan yang bersifat musiman ini juga nampak di grafik dibawah, bila kumulatif kenaikan harga emas selama 5 tahun dari rata-rata tahunan hanya berada di angka 94% selama lima tahun ini; kenaikan kumulatif 5 tahun untuk rata-rata September mencapai 109%.

Tetapi kenaikan harga emas dari September ke September dan dari tahun ke tahun, tidak hanya bersifat seasonal – karena kalau hanya faktor seasonal – harga emas akan kembali rendah di bulan-bulan yang lain. Kenyataannya rendahnya di bulan-bulan lain sangat jarang menyamai rendahnya harga emas di bulan-bulan yang sama tahun sebelumnya. Dengan kata lain, ada kenaikan harga emas yang sifatnya terus menerus dan bersifat systemic dari tahun ke tahun.
Ada setidaknya 9 faktor systemic yang insyaAllah akan terus mendorong harga emas keatas yang saya ringkaskan dari karya Dr. Martin Murenbeeld – Chief Economist dari Dundee Wealth Economic sebagai berikut :

1. Global Fiscal and Monetary Reflation - yaitu Negara-negara di dunia yang masing-masing membanjiri ekonominya dengan hutang untuk sekedar tidak tenggelam dalam kebangkrutan.

2. Global Imbalances – dimana Dollar nampak perkasa hanya karena mata uang negara-negara lain melemah. Dollar sendiri sebenarnya terus melemah dengan neraca perdagangan yang terus deficit. Amerika sekurangnya akan menambah hutangnya sebesar US$ 10 Trilyun dalam dekade ini.

3. Excessive Global Foreign Exchange Reserves – cadangan devisa Negara-negara di dunia akan menggelembung secara exponential – tetapi tersimpan dalam nilai mata uang kertas yang nilainya terus menyusut – sementara cadangan emas negara-negara di dunia akan terus melanjutkan penurunannya yang sudah dimulai sejak tiga puluh tahun lalu (1980).

4. Central Bank Attitudes to Gold – bank-bank central dunia akan cenderung menambah cadangan emasnya dan hanya IMF yang menjual emasnya ( dan Indonesia yang menjual cadangan emasnya 24 % pada akhir 2006 lalu !). Bank sentral India misalnya membeli seluruh 200 ton emas yang dijual IMF akhir tahun lalu, sedangkan bank sentral China malah berhasil melipat gandakan cadangan emasnya dari 395 ton ke angka 1,054 ton dalam dekade terakhir.

5. Gold Is Not Bubble – harga emas adalah harga barang yang secara fisik tidak pernah kehilangan nilainya dalam sejarah peradaban manusia. Jadi tingginya harga emas bukan gelembung atau bubble – yang bisa meletus dan kehilangan nilainya.

6. Mine Supply Is Flat – Sumber-sumber emas dari galian tambang baru relatif tidak bisa mengejar pertumbuhan permintaan, selama 20 tahun terakhir galian baru ini hanya menambah supply sebesar 25 % atau rata-rata 1.25% saja per tahun.

7. Investment Demand – karena kekawatiran terhadap berbagai instrumen investasi lainnya, permintaan investasi pada emas akan terus meningkat secara global. Sejak awal 2009 permintaan emas dunia terus meningkat – bahkan pada kwartal kedua tahun ini permintaan tersebut dua kali lebih besar dari periode yang sama tahun sebelumnya. Ini yang menjelaskan mengapa sepanjang tahun ini harga emas dunia tidak turun-turun.

8. Commodity Price Cycle – sejak tahun 1800 harga komodity dunia mengalami siklus naik turun yang periodenya masing-masing siklus bisa satu sampai beberapa dekade. Jadi bull cycle yang sekarang bisa saja masih akan terus berlangsung sampai beberapa tahun mendatang.

9. Geopolitical Environment – Secara historis harga emas selalu tinggi pada saat terjadi gejolak politik maupun finansial. Puncak harga emas dunia misalnya pernah terjadi di tahun 1980 ketika terjadi krisis penyanderaan warga AS di Iran yang nyaris memicu perang besar. Tahun- tahun mendatang masih banyak sumber konflik global yang bisa meledak kapan saja. Setelah meredanya krisis Iraq misalnya, masih ada krisis di Afganistan yang dipicu serangan tentara AS dan sekutunya ke negeri itu, krisis Palestina yang dipicu pendudukan tentara yahudi yang tidak berhak atas wilayah itu, keberanian Iran untuk terus menyiapkan program nuklirnya, demikian pula ancaman Korea Utara yang bisa nekat kapan saja.

Well, jadi meskipun bulan ini harga Dinar kemungkinan akan terus tinggi karena bahan bakunya yaitu emas dunia yang memang lagi tinggi; tidak ada yang bisa tahu apakah bulan-bulan kedepan atau tahun-tahun mendatang harga Dinar bisa turun lagi ?. Sesaat saya yakin bisa saja turun, tetapi dalam jangka panjang kecenderungan naik oleh 9 faktor tersebut diatas-lah yang akan lebih dominan. Kebutuhan kita akan proteksi nilai justru akan terus meningkat di waktu-waktu yang akan datang. Wa Allahu A’lam.

Jumat, 20 Agustus 2010


Trend Harga Emas : Sejauh Mana Mata Memandang...
Oleh Muhaimin Iqbal  
Selasa, 27 July 2010 08:05

Pertanyaan yang terus sampai ke saya , khususnya dari para pengguna Dinar baru adalah “...kapan membeli Dinar yang paling tepat ?”. Pertanyaan sejenis pada saat harga lagi rendah seperti sekarang adalah “...apakah harga akan turun lagi ?” , kemudian pada saat harga lagi tinggi pertanyaannya adalah “...apakah harga akan terus naik ?” dan seterusnya.

Jawaban saya selalu sama yaitu Wa Allahu A’lam – dan Allah-lah yang Maha Tahu, karena seberapa ahli-pun kita, kita tidak akan bisa mengetahui apa yang akan terjadi esuk hari. Yang paling banter adalah kita memahami apa yang sudah terjadi sampai saat ini, kemudian menduga-duga apa yang selanjutnya akan terjadi. Berbagai teknik forecasting dikembangkan orang, tetap saja tidak ada yang menjamin keakuratan hasilnya.

Dari sekian banyak teknik ‘duga-menduga’ tersebut yang saya suka menggunakannya adalah analisa trendline, karena selain sederhana – di standar grafik Excel  ada fasilitas ini. Anda juga bisa mengolahnya sendiri berdasarkan harga-harga emas dan nilai tukar Rupiah yang ada di pasar.

Perhatikan dua grafik dibawah contohnya yang saya olah berdasarkan data harga emas dalam US$/Oz dan harga dalam Rupiah/Gram. Grafik pertama saya ambil dari data dua tahun terakhir, trendline untuk harga emas dalam Rupiah cembung kebawah yang dapat diartikan bahwa untuk dua tahun terakhir  cenderung stabil atau bahkan menurun. Sebaliknya trendline dalam US$, cekung keatas yang dapat diartikan bahwa harga dalam US$ cenderung naik secara significant.


Trend harga Emas 2 Tahun


Grafik kedua saya ambilkan data yang sama, hanya untuk periode yang lebih panjang yaitu 10 tahun terakhir. Perhatikan sekarang trendline-nya baik dalam US$ maupun dalam Rupiah; keduanya menunjukkan cekung keatas secara tajam. Artinya dalam sepuluh tahun terakhir harga emas baik dalam US$ maupun dalam Rupiah mengalami kecenderungan naik yang significant.



Trend Harga Emas 10 Tahun

Lantas apa makna dari kedua grafik tersebut pada keputusan kita ?. Untuk dana-dana jangka panjang seperti tabungan untuk pergi haji, biaya anak sekolah, dana pensiun, tabungan untuk membeli atau memperbaiki rumah, tabungan modal usaha dlsb. insyallah akan selalu cocok untuk dikonversikan ke Dinar kapan saja.

Untuk dana jangka menengah, seperti rencana anak masuk sekolah dalam setahun dua tahun ini misalnya – maka dapat dikonversikan ke Dinar atau tetap dalam Rupiah, tidak terlalu banyak perbedaannya dari sisi daya beli – meskipun dari sisi ketenangan pikiran bisa jadi berbeda.

Untuk dana jangka pendek yaitu biaya kebutuhan rutin bulanan misalnya, atau biaya lain yang akan digunakan kurang dari setahun ini – kecuali kebutuhan tersebut dapat dibeli/dibayar dengan Dinar – maka untuk dana jangka pendek ini  tetap dipertahankan dalam Rupiah akan lebih ekonomis.

Bila uang Anda saat ini masih dalam US$ ceritanya lain lagi; saya termasuk yang sangat tidak menganjurkan Anda memegang US$ baik untuk kepentingan jangka pendek maupun kepentingan jangka panjang. Dua grafik diatas menyampaikan pesan yang loud and clear (suara keras dan sangat jelas) bahwa ibarat pilot tempur dengan pesawat Dollar, kini saatnya Anda menekan tombol penyelamat dan tinggalkan pesawat Dollar Anda. Pesan yang sama-pun disampaikan PBB sebulan lalu; jadi bukan pendapat saya yang subjektif.

Pesan inipun juga tidak terlepas dari realita US$ sendiri yang di – “cetak” dalam berbagai bentuknya dengan jumlah yang sangat-sangat berlebihan dua tahun terakhir seperti ditunjukkan oleh grafik dibawah. Lagi pula kita-pun tidak membutuhkan US$ sebagai alat tukar, untuk apa pula kita pegang ?.



US$ Money Supply

 Jadi, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut diatas sangat tergantung dari rencana investasi Anda atau kapan  dana-dana tersebut Anda akan gunakan, dan tergantung pula dengan currency uang yang sekarang Anda pegang. Wa Allahu A’lam.

Harga Emas : Antara Selera dan Realita...
Oleh Muhaimin Iqbal  
Rabu, 28 July 2010 07:46

Sejak saya belajar ilmu pertanian 30 tahun lalu sampai sekarang, daya beli petani kita tidak banyak berubah. Kebanyakan mereka masih termasuk golongan masyarakat yang memiliki daya beli terendah di negeri ini. Mengapa demikian ?, karena mereka kebanyakan mengikuti selera dalam pola tanamnya. Ketika cabe di pasar harganya tinggi, maka serentak petani rame-rame menanam cabe. Pada saat mereka panen harga jatuh karena demand cabe kan tidak serta merta naik ketika supply tinggi dari panenan yang melimpah.

Tetapi ada sekelompok teman-teman saya yang sangat sukses di bidang pertanian/perkebunan. Mereka tidak menanam sesuatu hanya karena orang lain rame-rame menanamnya. Mereka hanya menanam suatu jenis tanaman apabila sudah di riset seberapa besar pasarnya, dan siapa-siapa yang sudah akan mengisi pasar tersebut. Dengan demikian pada saat mereka panen, pasar cukup kuat menyerap hasil panennya dan harga terjaga.

Pola tanam (bisa juga dibaca : investasi) yang sama sebenarnya juga terjadi di bursa saham dan pasar emas dunia, selera (appetite) sangat mempengaruhi keputusan investasi kebanyakan investor. Turun drastisnya harga emas dunia tadi malam misalnya adalah karena secara tiba-tiba begitu banyak investor yang selera untuk mengambil risiko investasi-nya membaik.

Ketika beberapa negara Eropa diguncang krisis, para investor dihinggapi rasa ketakutan sehingga mereka rame-rame mengamankan dana investasinya sebagian di emas; permintaan emas yang melonjak saat itu mendorong harga emas tinggi selama beberapa bulan terakhir.

Kemudian ketika beberapa pekan terakhir ada kabar bahwa kondisi keuangan bank-bank besar Eropa ternyata tidak seburuk yang dibayangkan sebelumnya, karena bank-bank besar tersebut ternyata lolos stress tests – maka para investor kembali merasa aman untuk mengalihkan dananya dari safe haven emas, ke bentuk-bentuk investasi yang lebih berisiko seperti saham, mutual fund dan lain sebagainya. Itulah sebabnya harga emas yang rendah hari-hari ini, akan bersamaan dengan tingginya harga-harga di saham dan sejenisnya.

Lantas apakah kita perlu rame-rame mengikuti masyarakat investor yang memburu saham dan sejenisnya tersebut ?. Kalau saya tidak akan saya lakukan karena tingginya harga-harga saham secara global hari-hari ini juga bukan karena didorong oleh kinerja perusahaan-perusahaan yang mengeluarkan saham-saham tersebut. Lagi-lagi tingginya harga saham-saham tersebut lebih banyak didorong oleh selera atau appetite para investor untuk lebih berani mengambil risiko. Ketika selera memudar (dan selera memang gampang sekali pudar oleh berbagai sebab !), maka harga saham akan kembali berguguran. Lihat tulisan saya  dengan judul Pilihan Investasi : Saham atau Emas...?.

Lantas apa yang akan saya lakukan ?, belajar dari teman-teman yang sukses dibidang pertanian/perkebunan tersebut – saya akan lebih banyak mengambil keputusan berdasarkan riset pasar dan realita yang ada  pada supply and demand emas secara global dan dalam jangka panjang.

Untungnya tidak seluruh riset dan realita tersebut harus kita kumpulkan dan analisa sendiri; banyak sekali kajian para pakar dibidang ini yang bisa kita baca dan pelajari analisa mereka. Salah satunya adalah yang pernah saya kumpulkan dalam satu tulisan yang berjudul Prediksi Harga Emas oleh Para Ahlinya.

Dengan memahami realita-realita semacam ini, insyaallah kita bisa memaksimalkan keputusan yang didasarkan pada informasi yang memadai (well informed decision) – bukan hanya didorong oleh selera sesaat kita. Wa Allahu A’lam.
Penggunaan Emas/Dinar Dalam Pengelolaan Risiko ...
Oleh Muhaimin Iqbal  
Rabu, 18 August 2010 08:53

Waktu saya belajar tentang manajemen risiko dahulu, hal yang mendasar yang kita pelajari antara lain adalah bagaimana memilah-milah risiko dari yang bisa terjadi dengan yang pasti terjadi.  Untuk risiko yang masuk kategori bisa terjadi (kecelakaan misalnya), kemudian dipilah berdasarkan severity dan frequency-nya untuk kemudian dihindari, diminimisasi atau dihadapi. Untuk risiko yang pasti terjadi (kematian misalnya) – tidak ada pilihan lain kecuali harus di hadapi.

 Naik turunnya harga emas dunia adalah juga merupakan suatu risiko; tetapi masuk kategori yang mana ?. Tergantung dari seberapa jauh kita memandangnya, untuk jangka pendek dia adalah risiko yang bisa terjadi (bisa naik atu turun), tetapi untuk jangka panjang dia lebih mendekati risiko yang pasti terjadi – uang fiat hampir pasti turun daya belinya terhadap emas. Sampai saat ini belum ada satupun uang kertas dunia yang mampu bertahan daya belinya terhadap emas dalam rentang waktu yang panjang.

 Ambil contoh kasus harga emas tahun ini misalnya;  bila dilihat dari statistik seharusnya sejak akhir Maret lalu sampai awal September nanti harga emas mestinya berada pada musim rendah. Namun untuk tahun ini nampaknya pola pergerakan harga musiman ini tidak berlaku, bahkan bulan Juni lalu harga emas dunia sempat berada di kisaran angka US$ 1,266/Oz.  Per pagi ini harga emas dunia berada pada kisaran angka US$ 1,225/Oz  - mengalami penurunan US$ 42/Oz atau turun 3% dari harga tertingginya 2 bulan lalu, namun angka ini masih US$ 270 lebih tinggi atau mengalami kenaikan 28.33% dari harga emas Dunia yang pada bulan yang sama tahun lalu yang berada di kisaran US$ 955/Oz.

 Semakin panjang kita menarik rentang waktu yang kita lihat, akan semakin jelas penurunan daya beli uang kertas terhadap emas ini. Anda bisa perhatikan misalnya pada grafik 10 tahunan yang ada pada situs ini – trend naiknya dalam rentang waktu yang panjang menjadi  amat sangat jelas.

 Setelah apa yang terjadi dengan Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara 1997/1998, Amerika tahun 2008 dan Eropa tahun 2010 ini, kita semua baik individu , perusahaan maupun negara nampaknya kini memang perlu mengkaji kembali strategi pengendalian risiko yang dihadapinya. Satu aspek risiko yang begitu nyata mendekati kepastian, yaitu risiko penurunan daya beli uang kita – sangat bisa jadi masih luput dari konsideran kita dalam konteks implementasi pengendalian risiko.

 Akan tidak ada gunanya misalnya suatu usaha mencapai sukses luar biasa dan menghasilkan keuntungan yang tinggi bagi para investornya – bila keuntungan tersebut dihargai dengan suatu nilai uang kertas yang nilainya sendiri mengalami peluruhan dengan cepat. Demikian pula dengan hasil jerih payah kita; tidak ada gunanya kita tabung bila nilai daya belinya tidak bisa kita pertahankan.

 Karena risiko penurunan nilai (baca : inflasi) uang kertas adalah suatu keniscayaan atau mendekati kategori risiko jenis kedua – yaitu risiko yang pasti terjadi, maka mau tidak mau kudu kita hadapi. Dengan apa kita menghadapinya ?, ya antara lain menggunakan emas atau Dinar ini. Seandainya toh karena satu dan lain hal emas atau Dinar belum bisa difungsikan sebagai alat tukar atau medium of exchange; penggunaan emas atau Dinar sebagai unit of account dan store of value akan dapat sangat efektif dalam pengelolaan risiko penurunan daya beli uang kertas atau inflasi. Wa Allahu A’lam

Sabtu, 13 Maret 2010

Antara Mekanisme Pasar Yang Fitrah & Inflasi Yang Harus Dicegah…

Written by Muhaimin Iqbal  Thursday, 11 March 2010 08:32

 
Sudah beberapa hari ini harga emas mengalami penurunan dan puncaknya semalam ketika pasar internasional turun secara significant dari US$ 1,121/Oz ke angka US$ 1,108/Oz. Akibatnya pagi ini harga Dinar kembali turun mendekati angka Rp 1.4 juta lagi. Ini kabar baik bagi kita yang di Indonesia, bahwa uang kita masih bernilai baik – meskipun (mungkin) ini hanya bersifat jangka pendek.
Pada kesempatan ini saya ingin share data harga emas dalam Rupiah yang sudah terkumpul di system kami sejak 14 September 2007. Pada grafik disamping Anda akan lihat pergerakan naik turunnya harga emas harian, yang kurang lebih berimbang antara hari-hari dimana harga emas naik dan hari-hari dimana harga emas turun.
Naik turunnya harga emas harian ini lebih banyak didorong oleh mekanisme pasar yang bekerja secara global; ketika harga tinggi orang banyak yang menjual emasnya sehingga supply meningkat dan akan mendorong harga turun. Demikian pula ketika harga rendah, banyak peminat akan berburu emas sehingga demand meningkat dan harga kembali naik, demikian seterusnya.
Kalau harga emas hanya didorong oleh mekanisme pasar, maka seharusnya angka berfluktuasi pada kisaran nilai tertentu - seperti bandul jam yang berayun di sekitar angka 6. Namun ternyata tidak demikian yang terjadi pada harga emas; diawal system kami mulai mencatat harga emas harian, harga ini berada di kisaran Rp 220,000/gram ; kini harga berada pada kisaran Rp 330,000/gram atau naik sekitar 50% dalam 2.5 tahun terakhir.
Artinya selain mekanisme pasar yang mendorong berayunnya harga emas secara harian tersebut; ada kekuatan lain yang hari demi hari mendorong harga emas keatas. Kekuatan lain ini hanya nampak bila kita lihat dalam rentang waktu yang panjang - kekuatan apa ini ?. Inilah yang namanya inflasi atau penurunan daya beli uang kertas terhadap benda riil yang dalam hal ini diwakili oleh emas.
Naik turunnya harga karena mekanisme pasar ini tidak boleh dicampuri oleh siapapun; bahkan dalam Islam Rasulullah SAW-pun tidak mau mempengaruhi-nya sebagaimana Hadits Ashabus Sunan dengan perawi yang shahih sebagai berikut :
Telah meriwayatkan dari Anas RA., ia berkata :” Orang-orang berkata kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, harga-harga barang naik (mahal), tetapkanlah harga untuk kami. Rasulullah SAW lalu menjawab, ‘Allah-lah Penentu harga, Penahan, Pembentang, dan Pemberi rizki. Aku berharap tatkala bertemu Allah, tidak ada seorangpun yang meminta padaku tentang adanya kedhaliman dalam urusan darah dan harta”.
Sebaliknya dorongan kenaikan harga secara terus menerus yang disebabkan oleh inflasi mata uang kertas, ini tidak boleh terjadi. Penguasa negeri wajib mengendalikan jumlah uang (fulus) yang beredar sehingga rakyat tidak terdhalimi oleh penurunan nilainya. Inilah yang sudah juga diingatkan oleh Ibnu Taimiyyah berikut :
“Jumlah fulus ( uang yang lebih rendah dari Dinar dan Dirham seperti tembaga, kertas dlsb.) hanya boleh dicetak secara proporsional terhadap jumlah transaksi sedemikian rupa sehingga terjamin harga yang adil. Penguasa tidak boleh mencetak fulus berlebihan yang merugikan masyarakat karena rusaknya daya beli fulus yang sudah ada di mereka”.
Masalahnya sekarang adalah kita hidup dai zaman uang kertas; di seluruh dunia uang kertas inilah yang digunakan – dan tidak ada satu negarapun yang terbukti bisa mengendalikan inflasi. Maka sangat bisa jadi kini zamannya sudah semakin dekat prediksi pemenang hadiah Nobel ilmu ekonomi tahun 1974 Friedrich August Von Hayek, dan juga prediksi ‘dewa’ ekonomi-nya dunia barat John Naisbitt untuk terbukti : masanya uang ‘swasta’ untuk berjaya menggantikan uang nasional.
Bila megatrend itu bener-bener terjadi, maka insyallah kita-pun sudah siap untuk menyongsongnya. Semoga Allah selalu menunjuki kita ke JalanNya. Amin.

Kamis, 04 Maret 2010

Antara Visi, Mimpi dan Do’a…



PDFPrintE-mail
Written by Muhaimin Iqbal   
Thursday, 04 March 2010 17:35
Vision
Dalam sejarah dunia abad lalu, ada pemimpin dunia yang sangat terkenal akan kekuatan visinya yaitu John F. Kennedy. Di hadapan Konggres Amerika pada tahun 1961 dia mengungkapkan  visinya bahwa bangsa Amerika harus bisa mencapai bulan sebelum akhir dekade itu.
Di tengah bangsa Amerika yang lagi limbung sebenarnya visi ini jauh melampaui jamannya. Visi ini muncul ketika bangsa Amerika ragu apakah jalan hidup yang mereka pilih sudah benar, apakah bukannya komunis yang benar karena saat itu komunis  lagi menghebohkan dengan keberhasilan Soviet meluncurkan satelit yang mengorbit bumi. Bahkan bangsa Amerika lagi nggumun-nggumun-nya dengan keberhasilan soviet mengirim kosmonot Yuri Gagarin ke antariksa.

Namun sekitar delapan tahun kemudian, meskipun JFK sendiri sudah meninggal – visinya teralisasikan dengan sejarah Neil Amstrong dan Buzz Aldrin sebagai manusia-manusia pertama yang menginjakkan kakinya di bulan pada tanggal 20 Juli 1969.
 Jadi visi lebih penting ketimbang sumber daya dan kondisi yang melingkungi manusia itu sendiri. Dengan sumber daya melimpah tetapi tidak didukung oleh visi yang jelas – maka sumber daya yang melimpah ini tidak akan banyak manfaatnya.
Sebaliknya dengan sumber daya yang terbatas dan dengan lingkungan yang tidak sepenuhnya kondusif sekalipun, pemimpin yang mempunyai visi yang kuat akan bisa mengeluarkan rakyatnya dari penderitaan dan bahkan bisa menjadi bangsa pemenang – meskipun tidak harus tercapai pada saat dia memimpin.
Lantas bagaimana kita tahu apakah kita sudah memiliki visi yang jelas atau kita baru sekedar bermimpi ?. Bedanya terletak pada jabaran-nya. Visi yang jelas dapat dijabarkan menjadi Mission, Goals, Strategies dan Action Plans sampai sedetilnya. Sedangkan mimpi tidak perlu penjabaran, Anda bisa saja mimpi lagi menikmati liburan di Paris tetapi berangkatnya naik sepeda dari Depok – namanya juga mimpi, boleh-boleh saja dan tidak perlu penjelasan detil.
Perbedaan antara visi dan mimpi ini pulalah yang antara lain membedakan sedikit karyawan yang benar-benar pindah kwadrant menjadi pengusaha, dengan mayoritas karyawan yang tetap menjadi karyawan sampai pensiun – padahal sejak awal bekerja yang mayoritas ini juga bervisi (sebenarnya masih mimpi) menjadi pengusaha. Golongan yang pertama menjabarkan visinya dan berbuat (action plans) maka sampailah apa yang di-visi-kannya; golongan kedua tidak bermuat apa-apa dengan mimpinya – maka mimpi tetap menjadi mimpi.
Dalam hal visi ini, sebagai umat Islam kita sesungguhnya punya contoh tauladan yang jauh lebih agung dari John F. Kennedy. Tauladan kita adalah bapak para nabi yaitu Nabi Ibrahim A.S.  Bayangkan ditengah padang pasir yang gersang tidak ada pepohonan, di tempat yang sangat jauh dari keramaian manusia – nabi Ibrahim sudah memiliki visi yang sangat jelas akan seperti apa tempat itu nantinya. Visi ini dituangkan dalam do’a-do’a-nya yang diabadikan di Al-Qur’an antara lain sebagai berikut :
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian… ". (QS 2 :126)
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS 14:137).
Kini ribuan tahun kemudian, visi itu benar-benar terwujud. Kita bisa menikmati buah-buahan apa saja di Mekkah, meskipun buah-buahan itu sendiri tidak ditanam disana. Buah-buahan, makanan, pakaian dan berbagai kebutuhan manusia mengalir bak air bah dari seluruh dunia ke tempat yang di visikan nabi Ibrahim tersebut diatas. Lebih dari itu manusia yang berduyun-duyun ke Mekkah juga mayoritasnya memiliki  satu tujuan saja yaitu menyembah Allah semata yang dimanifestasikan dalam bentuk sholat.
Nah, kalau Kennedy saja yang tidak membaca petunjuk Al-Qur’an bisa membawa bangsanya mencapai bulan. Kita yang dituntun dengan petunjuk dan contoh yang sempurna dari Al-Qur’an dan Hadits – sudah seharusnya dapat berbuat lebih dari yang dilakukan oleh JFK.
Bukan hanya petunjuk dan contoh yang sangat komprehensif yang kita punya, tetapi juga kita dibekali dengan do’a-do’a yang matsur seperti yang dilafalkan Nabi Ibrahim tersebut diatas.
Ayo sekarang kita semua, mulai dari diri kita – bangun dari mimpi-mimpi kita dan mulai membangun visi sambil tidak berhenti untuk terus berdo'a. Semoga Allah menunjuki jalanNya untuk kita semua…Amin.

US$, Rupiah & Harga Emas…


Paradox PDFPrintE-mail
Written by Muhaimin Iqbal   
Wednesday, 03 March 2010 08:03
US$ Index
Melalui beberapa tulisan saya sebelumnya, saya sudah mengungkapkan ‘keperkasaan’ uang kertas US$ maupun Rupiah yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.  Rupiah misalnya saat artikel ini saya tulis berada pada nilai tukar Rp 9,257/US$ ; ini angka yang luar biasa ‘perkasa’ mengingat Rupiah sempat menyentuh angka Rp 12,000/US$ pada puncak krisis akhir 2008.
 Logikanya adalah apabila Rupiah lagi perkasa, bukankan barang-barang kebutuhan kita bisa kita beli dengan murah saat ini ?. Ternyata tidak seluruhnya demikian. Untuk barang-barang yang biasa kita beli dari luar seperti komputer, software dlsb.; memang terasa penurunan harga barang-barang ini dalam Rupiah.
Namun untuk barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti beras, minyak goreng, gula dlsb; ibu-ibu yang suka belanja lebih tahu – harga barang-barang kebutuhan seperti ini tidak mengenal turun. Bahkan khususnya beras, saat ini lagi dirasakan mahal-mahalnya oleh masyarakat kita.
Mengapa demikian ?, karena menguat atau melemahnya Rupiah bukan diukur dari daya beli riil terhadap kebutuhan kita sehari-hari; melainkan diukur relatif terhadap kekuatan mata uang lain. Padahal mata uang negara lain ini baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama tidak mencerminkan daya beli riilnya juga.
Paradox kekuatan mata uang terhadap daya beli riilnya ini lebih mudah bila dilihat dengan harga barang yang bersifat baku. Lagi-lagi saya gunakan emas sebagai barang yang memiliki nilai daya beli baku karena sudah terbukti lebih dari 1400 tahun 4.25 gram emas (1 Dinar) cukup untuk membeli 1 ekor kambing.
Perhatikan grafik diatas untuk melihat paradox daya beli US$ ini secara visual. Anda bisa lihat pada umumnya harga emas turun ketika kekuatan  US$ yang diukur dengan US$ Index naik, namun beberapa bulan terakhir meskipun US$ Index naik – harga emas dalam US$ juga tetap naik.
Apa maknanya ini ?; inilah tanda-tanda menurunnya daya beli secara keseluruhan dari system mata uang dunia. US$ yang sedang menunjukkkan keperkasaannya saja, daya belinya secara significant menurun sampai lebih dari 50 persen dalam waktu kurang dari 5 tahun saja (tepatnya sejak januari 2006). Apalagi mata uang negara lain yang pada umumnya lemah !.
Trend inilah yang saya duga juga dipahami oleh petinggi IMF, sehingga merekapun mendorong bangsa-bangsa di dunia untuk siap-siap meninggalkan US$ - terlepas dibalik ini sangat bisa jadi mereka juga memiliki agenda lain untuk mengantisipasi kehancuran US$ ini.
Lantas apa langkah antisipasi kita untuk terhindar dari depresiasi nilai terhadap hasil jerih payah kita berpuluh tahun ?; usahakan simpanan jangka panjang Anda dalam bentuk benda-benda atau investasi yang memiliki asset riil seperti Emas/Dinar, kebun, barang dagangan dlsb. Wa Allahu A’lam.

Dan IMF-pun Mengajak Meninggalkan US$ …?



PDFPrintE-mail
Written by Muhaimin Iqbal   
Tuesday, 02 March 2010 08:14
IMF Failure
Ada berita menarik yang bisa Anda baca pada harian Republika yang terbit hari ini (02/03/2010) bahwa IMF menyerukan untuk meninggalkan US$. Berita ini sendiri tentu saja  valid karena merujuk  pernyataan Dominique Strauss-Kahn, the head of the International Monetary Fund pada jum’at pekan lalu.
Bukannya saya lebih tahu atau lebih pinter dari pimpinan tertinggi IMF tersebut; namun kalau Anda baca tulisan saya hampir 6 bulan lalu dengan judul Tinggalkan Dollar Selagi Sempat , maka Anda akan tahu bahwa seruan atau wacana yang dilontarkan oleh orang nomor 1 di IMF ini adalah hal yang sudah seharusnya dilakukan dan tidak akan mengejutkan Anda.
 Masalahnya yang perlu diwaspadai oleh umat dan juga bangsa-bangsa lain di dunia adalah – ada apa dibalik pernyataan ini. Mengapa baru sekarang wacana mengganti US$ dimunculkan ?. Dan apa pengganti US$ yang mereka pikirkan ?.
 Saya mencoba menduga-duga  apa kira-kira jawaban atas dua pertanyaan tersebut diatas. Mengenai mengapa baru sekarang wacana ini dimunculkan; dugaan saya karena mereka (para petinggi IMF) juga tahu kalau US$ tidak akan survive dalam waktu yang lebih lama lagi – wacana ini dimunculkan untuk semacam sosialisasi ke dunia akan kondisi yang sangat mungkin akan terjadi.
Nampaknya mereka ingin memperbaiki sejarah kegagalan IMF pertama, ketika terjadi kejutan Nixon Shock Agustus 1971 – dimana secara sepihak dan mendadak –Nixon mengguncang Dunia dengan meninggalkan emas sebagai rujukan mata uang Dollar-nya. Kali ini mereka ingin masyarakat dunia tahu dulu – bahwa Dollar berkemungkinan gagal (lagi) dan dunia tidak akan bisa mengandalkannya.
Lantas mengapa mereka ‘berbaik hati’ memberi isyarat pada dunia bahwa US$ akan gagal ?; sederhana – karena mereka juga masih ingin (tetap) memimpin dunia dengan aturannya. Ingat ketika IMF gagal pertama dengan kejadian Nixon Shock Agustus 1971;  penggantinya tetap IMF juga hanya ‘undang-undang’-nya yang berganti dari Breton Woods Agreement (1945) menjadi Article of Agreement of IMF yang ditanda tangani di Smithsonian Institute – December 1971. Dari lokasi penanda tangananan ini saja sebenarnya umat Islam yang cerdas sudah harus tahu siapa dibelakang mereka ini dan untuk kepentingan siapa program-program mereka dibuat.
Pertanyaan kedua mengenai apa pengganti US$ yang mereka pikirkan ?. terungkap dari pernyataan Dominique bahwa pengganti US$ sebagai reserve currency yang akan datang adalah “similar to but distinctly different from the IMF's special drawing rights, or SDRs”.
SDR adalah reserve asset yang diciptakan oleh IMF tahun 1969; awalnya nilai 1 SDR setara dengan 0.888671 gram emas – yang seharusnya saat itu juga bernilai 1 US$.  Setelah kejadian Nixon Shock tersebut diatas, ‘uang’ SDR yang tadinya setara emas tersebut-pun berganti menjadi setara dengan sekeranjang mata uang - mata uang kuat dunia. Untuk saat ini isi keranjang tersebut terdiri dari US$ , Poundsterling, Euro dan Yen.
Lantas berapa nilai SDR tersebut sekarang ?, per kemarin (01/03/2010) 1 SDR nilainya setara dengan US$ 1.52771 atau kalau dibelikan emas hanya dapat 0.0425 gram. Jadi uang SDR itu-pun kini nilainya tinggal sekitar 1/20 dari nilai awal ketika diperkenalkan 41 tahun lalu.

Maknanya apa ini semua ?, bila US$ sebagai reserve asset diganti dengan SDR bentuk baru sekalipun (yang dikatakan Dominique sebagai similar but distinctly different dengan SDR yang sekarang) – tetap tidak dapat menjadi reserve asset yang sesungguhnya – karena nilainya juga mengalami keruntuhan sebagaimana sekeranjang mata kertas uang yang digunakan untuk menghitung nilainya.

Kita umat Islam tidak seharusnya menggunakan timbangan yang mereka ciptakan; kita memiliki timbangan yang adil sepanjang masa – yaitu emas, perak, gandum , kurma dan benda-benda riil yang memiliki nilai instrinsik lainnya. Waktunya kita mengikuti petunjuk jalan kita sendiri dan tidak mengikuti mereka memasuki lobang biawak berikutnya. Wa Allahu A’lam.