Contact

Rizky maulana / Sofi Pujiastuti

telp 08112240196 / 081320140019

email Rizfajzan @ gmail

twitter follow@AlfabbyRizky

Pasar Soreang Blok I & II E ( Hj Wewen ) Soreang Bandung

No Rek 13000 - 1122 - 4030 Bank mandiri Cab Soreang - Bandung

Hari kerja Senin - Jum'at ( kecuali hari Libur Nasional)

Jam kerja 08.00 - 16.00 WIB

Sabtu, 25 Juni 2011

Mengelola Wealth Producing Assets Dengan Gold Based Capital...

Mengelola Wealth Producing Assets Dengan Gold Based Capital... PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Senin, 20 June 2011 07:18
Penjelasan tentang Wealth Producing Assets (WPA) dan Gold Based Capital (GBC) keduanya sudah saya tulis sebelumnya, kali ini saya akan gunakan keduanya untuk day to day business practice. Ilustrasinya begini, bila Anda bekerja pada perusahaan yang asetnya Rp 100 Milyar 5 tahun lalu dan kini aset perusahaan tersebut meningkat dua kalinya menjadi Rp 200 Milyar – tetapi kok karyawan tidak merasakan adanya peningkatan kesejahteraan yang dua kalinya – mengapa ?. Karena dalam nilai daya beli riil Rp 200 Milyar sekarang sesungguhnya kurang dari Rp 100 Milyar lima tahun tahun lalu, dari teori peluruhan yang juga telah saya perkenalkan sebelumnya menunjukkan daya beli Rupiah terhadap emas menjadi separuhnya setiap 4.3 tahun !.

Mengapa tolok ukur baku itu kita gunakan emas, bukan angka inflasi ?. Kalau kita gunakan angka inflasi, angka inflasi mana yang kita gunakan ?. Inflasi umum yang rata-ratanya 6.8 % atau inflasi bahan pangan yang 12 % selama lima tahun terakhir ?. Mengapa hanya lima tahun ?, mengapa tidak 10 tahun , 20 tahun atau 30 tahun – yang lebih setara dengan lama kerja rata-rata karyawan?. Data puluhan tahun  yang terkait inflasi ini selain belum tentu ada dan kalau toh ada yang jelas juga belum tentu akurat. Maka mengapa tidak kita gunakan data yang sahih saja yang umurnya 1400 tahun lebih ?. Inilah data daya beli emas (Dinar) yang direpresentasikan dalam bentuk daya belinya terhadap kambing.

Dalam contoh ilustrasi diatas Rp 100 Milyar aset  setara dengan sekitar 125,000 Dinar (atau 125,000 ekor kambing ukuran baik) lima tahun lalu, asset perusahaan yang menjadi Rp 200 Milyar sekarang  hanya setara dengan 105,800 Dinar ( atau 106,820 ekor kambing ukuran baik). Bila seandainya Anda seorang peternak kambing, lima tahun lalu Anda memiliki 125 ekor kambing dan sekarang kambing tersebut tinggal 106 ekor apakah dapat dikatakan Anda bertambah makmur ?, jangankan bertambah makmur – mempertahankan kemakmuran Anda-pun tidak.

Bila perusahaan Anda sejatinya tidak bertambah makmur, lantas apakah perusahaan tersebut dapat memakmurkan orang-orang yang bekerja di dalamnya ?. Kemungkinan besarnya juga tidak.

Pertanyaan cerdas-nya adalah, bukankan perusahaan yang sudah berjerih payah di sektor riil seharusnya asetnya menjadi Wealth Producing Assets seperti dalam tulisan tersebut diatas ?. Betul demikian, tetapi setelah memberikan hasil – ibarat ember bocor – hasil jerih payah tersebut tersimpan kembali dan tercatat dalam nilai mata uang yang terus tergerus inflasi.

Hasil jerih payah usaha sektor riil tersebut yang belum digunakan saat ini untuk membayar biaya biaya – termasuk gaji Anda, sebagian besarnya akan tersimpan dalam mata uang kertas berupa retained earning, cadangan pengembangan usaha, cadangan penyusutan untuk membeli mesin-mesin atau peralatan baru nantinya, cadangan pesangon karyawan yang akan pensiun sekian tahun yang akan datang, cadangan biaya kesehatan karyawan dan keluarganya dlsb.dlsb.

Walhasil, cape-cape berusaha memutar aset menjadi Wealth Producing Assets – ketika menyimpan hasilnya di Wealth Reducing Assets – efek resultant-nya adalah dibawah Wealth Preserving  Assets. Hasil usaha sektor riil Anda sejatinya sudah bener  berada di daerah hijau pada grafik dibawah, namun karena hasilnya tersimpan di daerah merah – maka kemungkinan hasilnya di garis kuning atau bahkan diawahnya seperi contoh dalam ilustrasi kambing diatas.
 
Logarithmic Wealth Reducing, Preserving and Producing AssetsLogarithmic Wealth Reducing, Preserving and Producing Assets
Grafik logaritmik diatas menunjukkan bahwa, bila hasil jerih payah Anda yang tersimpan dalam mata uang Rupiah memberikan hasil bersih 6 % misalnya (Deposito) – sedangkan pertumbuhan harga emas rata-rata 18% saja – maka setelah 30 tahun (saat Anda pensiun !) dana yang Anda depositokan beserta akumulasi bagi hasil-nya setelah dikonversikan kembali ke emas tinggal 4.46% !. Wealth Reducing Assets inilah yang menggerogoti hasil jerih payah Anda berpuluh tahun.

Lantas bagaimana mengatasi hal ini ?. Sumber pelajarannya ada di Surat Yusuf 47-48 berikut : Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) secara sungguh-sungguh; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan”.

Menimbun emas, perak, gandum dlsb. di Islam adalah hal yang sangat dilarang (QS 9 : 34), namun mengapa di Al-Qur’an juga diberi contoh bagaimana Nabi Yusuf menganjurkan umat-nya menyimpan sebagian hasil panenannya selama tujuh tahun ?.  Karena yang dilakukan Nabi Yusuf tersebut bukan menimbun (yaknizun) tetapi membangun ketahanan ekonomi (yukhsinun). Gandum yang disimpan dibulirnya oleh Nabi Yusuf  berdasarkan kebutuhan yang nyata kedepan – yaitu menghadapi paceklik.

Kita yang hidup di jaman ini, tidak diberi wahyu untuk mendeteksi kebutuhan yang akan datang seperti Nabi Yusuf tersebut diatas. Tetapi kita diberi ilmu untuk bisa memahami data-data empiris bahwa daya beli mata uang kertas terus menyusut, bahwa biaya hidup kita akan terus meningkat, bahwa harga mesin atau peralatan usaha terus naik dlsb.dlsb., maka insyaAllah mempertahankan daya beli dari hasil jerih payah kita juga termasuk bentuk membangun ketahanan ekonomi – menjaga agar ‘gandum’ kita di ‘bulir’nya – yaitu tidak busuk dan tetap bernilai tinggi ketika waktunya dinvestasikan (ditanam) kembali atau digunakan di masa yang akan datang.

Lantas teknisnya bagaimana ?, teknisnya sudah saya singgung pada tulisan Gold Based Capital tersebut diatas. Jerih payah usaha Anda yang tidak segera digunakan dalam setahun kedepan, dapat dirupakan dalam bentuk cadangan emas atau Dinar. Pada waktunya digunakan  untuk membeli mesin, memberi pesangon karyawan saat pensiun, ekspansi usaha dlsb. dicairkan dalam bentuk bisa digadai atau dijual. Solusi komprehensif tentang Gold Based Capital untuk korporasi atau institusi saat ini sudah dapat kami berikan sebagai hasil kerjasama kami dengan beberapa bank syariah yang sudah menunjukkan ketertarikannya. Karena solusi masing-masing korporasi atau institusi akan unique, maka silahkan menghubungi kami bila korporasi atau institusi Anda tertarik.

InsyaAllah kita bisa membangun dan sekaligus menjaga kemakmuran umat ini secara bersama-sama. Amin. 

Kamis, 02 Juni 2011

Gold Based Capital : Menumbuhkan Sektor Riil Untuk Melawan Inflasi...

Gold Based Capital : Menumbuhkan Sektor Riil Untuk Melawan Inflasi... PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Rabu, 01 June 2011 06:05
Di dunia perbankan ada istilah Capital Adequacy Ratio (CAR) atau Rasio Kecukupan Modal, yaitu suatu rasio yang menggambarkan perbandingan antara modal bersih yang dimiliki suatu bank dengan total asetnya – setelah memperhitungkan faktor risiko. Mirip dengan ini di dunia asuransi dikenal istilah Risk Based Capital (RBC), yaitu kekayaan bersih perusahaan juga setelah diperhitungkan dengan faktor-faktor risiko. Keduanya memiliki kesamaan yaitu aset perusahaan yang sesungguhnya yang dimiliki oleh bank atau asuransi – sangat bisa jadi tidak sebesar asset yang diperhitungkan berdasarkan standar akuntansi – setelah faktor-faktor risikonya dimasukkan dalam perhitungan. Lantas bagaimana dengan aset pribadi atau perusahaan Anda, berapa nilai yang sesungguhnya ?, tumbuhkah atau malah menyusut ?.

Saya tidak akan memperkenalkan formula yang njlimet seperti perhitungan CAR di perbankan atau RBC di asuransi untuk menghitung nilai sesungguhnya dari aset pribadi atau perusahaan Anda, saya perkenalkan saja apa yang saya sebut Gold Based Capital (GBC) – yang mengukur nilai riil aset Anda dengan menggunakan standar harga emas.

Untuk mudahnya dipahami konsep ini saya gunakan ilustrasi berikut : anggap lima tahun lalu (2006) Anda punya aset uang  sebesar lima unit (bisa satuan apa saja milyar Rupiah, juta dollar dlsb). Anda investasikan secara terpisah masing-masing satu unit ke Deposito Rupiah (asumsi hasil rata-rata 7 %), Deposito Dollar (asumsi hasil rata-rata 2.5%), Saham (asumsi hasil mengikuti pergerakan IHSG), Emas untuk nantinya dijual ke Rupiah ( asumsi apresiasi nilai mengikuti harga emas dalam Rupiah) dan Emas yang nantinya dijual ke Dollar ( asumsi apresiasi mengikuti harga emas dalam US Dollar).

Setelah lima tahun berlalu (2011),  berdasarkan asumsi-asumsi tersebut diatas pertumbuhan masing-masing aset Anda akan menjadi seperti pada grafik dibawah.
 
Asset Growth in Original CurrenciesAsset Growth in Original Currencies
Perhatikan semua aset nampak memberikan hasil atau tumbuh. Deposito baik dalam Rupiah maupun dalam US Dollar secara persistent tumbuh dibawah pertumbuhan harga emas baik di Rupiah maupun di Dollar. Saham yang direpresentasikan oleh fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), tumbuh secara fluktuatif – kadang jauh diatas harga emas tetapi kadang juga anjlog jauh dibawah.

Dengan kacamata Rupiah atau US Dollar, Anda mungkin sudah senang dengan pertumbuhan aset ini.  Masalahnya adalah daya beli riil Rupiah dan Dollar juga anjlog tergerus inflasi selama lima tahun ini – inilah faktor risiko yang hampir pasti terjadi yang mestinya ikut diperhitungkan dalam menilai aset Anda. Karena faktor risiko inilah nilai sesungguhnya dari aset Anda tersebut diatas perlu di adjusted dengan faktor inflasi – tetapi data inflasi yang mana yang bisa kita pakai ?, di negeri ini inflasi umum rata-rata lima tahun terakhir ‘hanya’ 6.8 % tetapi rata-rata inflasi bahan pangan untuk periode yang sama adalah 12 % !.

Agar Anda tidak pusing memikirkan data inflasi mana yang digunakan, maka gunakan saja harga emas sebagai patokan. Mengapa harga emas ?, Pertama harga emas di dunia dibentuk oleh mekanisme pasar yang nyaris sempurna – sehingga harganya adalah reliable, kedua data harga emas yang paling up-dated baik dalam Rupiah maupun dalam US Dollar ini selalu available setiap saat, dan utamanya yang ketiga karena harga emas telah terbukti stabil mencerminkan harga-harga benda riil kebutuhan manusia untuk periode yang amat sangat panjang yaitu lebih dari 1400 tahun !. Maka setelah aset-aset Anda tersebut diatas di adjusted atau di standarisasi dengan menggunakan harga emas, hasilnya akan seperti pada grafik dibawah.
 
Asset Growth Based on GoldAsset Growth Based on Gold
Emas baik yang semula akan dijual dalam Rupiah maupun US Dollar, bila di standarisasi dengan emas itu sendiri tidak tumbuh atau tidak bertambah sampai kapan-pun. Deposito Anda dalam Rupiah maupun dalam US$ nampak terus menyusut – semakin lama semakin menjauh dari standar harga emas. Untuk saham berfluktuasi kadang diatas dan kadang dibawah.

Saham yang sedikit mencerminkan sektor riil dapat menumbuhkan aset Anda yang dihitung dengan standar emas – meskipun berisiko tinggi. Untuk tingginya risiko investasi di saham ini pernah saya tulis di situs ini yang mengutip thesis S2-nya Ibu Sri Pangestuti.

Bila deposito-deposito nilai riilnya dengan standar emas terus menyusut dan investasi saham berisiko, lantas apa investasi yang paling tepat untuk Anda ?. Saya cenderung untuk terus mendorong Anda berinvestasi di sektor riil. Memang untuk ini Anda akan menghadapi setidaknya dua risiko sekaligus yaitu risiko usahanya sendiri dan risiko inflasi, namun insyaallah keduanya bisa di-minimized.

Risiko usaha dapat Anda minimized dengan memilih bidang yang sangat Anda pahami seluk beluknya, melakukan riset maksimal dibidang tersebut dari segala aspek yang terkait, membuat business model dan business plan yang matang serta mengimplementasikannya dengan prudent atau penuh kehati-hatian.

Risiko inflasi dapat Anda minimized atau bahkan hilangkan bila Anda bisa mengelola pertumbuhan aset Anda berbasis emas atau Dinar, bukan emas atau Dinar yang disimpan tetapi emas atau Dinar yang menjadi modal yang terus berputar.  Untuk lebih jelasnya,  ilustrasi dibawah ini menggambarkan siklus usaha Anda setelah menggunakan Dinar atau emas sebagai basis-nya.
 
Business Cycle Change From Fiat To GoldBusiness Cycle Change From Fiat To Gold
Mudahkah ini diimplementasikan ?. Kerjasama antara  Gerai Dinar dengan BMT Daarul Muttaqiin telah siap memfasilitasi Anda untuk memutar usaha berbasis Dinar ini,  namun bagi Anda yang belum comfortable atau familiar dengan Dinar – maka emas lantakan juga bisa digunakan sebagai basis modal untuk menggerakkan sektor riil. Untuk yang terakhir ini kami telah merintis pembicaraan dengan beberapa bank syariah untuk sinergi-nya, insyaAllah dalam waktu dekat layanan yang komprehensif yang terkait dengan penggunaan emas sebagai modal ini akan segera terwujud.

Sebagaimana lawan riba adalah perdagangan dan sedekah, maka inflasi harus bisa kita taklukkan dengan berputarnya harta di sektor riil dan ketika masih idle berupa cadangan modal-pun dia dalam bentuk yang tidak mempan digerus inflasi yaitu Dinar atau  emas. InsyaAllah.

Setelah Kelantan dan Utah, Bagaimana Dengan Kita...?

Setelah Kelantan dan Utah, Bagaimana Dengan Kita...? PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Selasa, 31 May 2011 07:33
Entah siapa yang lebih pinter dan lebih berpikiran maju di era tidak berdayanya mata uang kertas dalam menghadapi krisis financial global yang masih segar di ingatan kita, tetapi ada tiga peristiwa penting yang bisa jadi pelajaran kita yang  terjadi dalam setahun terakhir ini dalam hal mata uang dunia. Di Indonesia pekan lalu tanggal 24 Mei 2011, di Komisi XI DPR RI seluruh fraksi menyetujui RUU Mata Uang untuk selanjutnya dibawa ke rapat Paripurna untuk mendapatkan pengesahan. Di Amerika Serikat, salah satu negara bagiannya yaitu Utah dua bulan sebelumnya tepatnya  tanggal 25 Maret 2011 – Gubernur negara bagian itu secara resmi menanda tangani apa yang disebut Utah Legal Tender Act, yang intinya mengakui koin emas dan perak sebagai salah satu uang resmi yang bisa di gunakan di negara bagian itu.

Utah sebenarnya bukan negara bagian yang pertama yang secara resmi mengakui koin emas dan perak sebagai uangnya, di negeri tetangga kita negara bagian Kelantan - Malaysia sudah mendahuluinya hampir satu tahun lalu untuk secara resmi menggunakan koin emas Dinar dan koin perak Dirham sebagai uang di negara bagiannya.

Yang bisa menjadi pelajaran menarik adalah alasan di belakang kerja keras melawan arus yang dilakukan oleh para legislator yang berhasil meng-goal-kan koin emas dan perak tersebut sebagai uang resminya. Mengapa mereka sampai mau bersusah payah ‘melawan’ negara federal yang hanya mengakui uang kertas-nya sebagai uang resmi dengan meng-goal-kan koin emas dan perak juga sebagai uang resmi ?.

Di Kelantan selain mereka tahu keperkasaan daya beli  Dinar dan Dirham, upaya menggunakannya kini tidak terlepas dari upaya untuk menegakkan syariat – maka Dinar dan Dirham di negeri itu disebut sebagai Matawang Syariah.  Mereka juga melakukan berbagai upaya untuk memasyarakatkan Matawang Syariah ini, selain untuk membayar sebagain gaji pegawai – mereka juga menjadikannya sebagai identitas tersendiri. Bahkan di bandara udara sebagai pintu masuk Kelantan orang akan disambut dengan tulisan “Negara Dinar dan dirham”.

Utah tentu saja tidak concern dengan syariat, tetapi juga membutuhkan uang dari emas dan perak ini karena mereka yakin bahwa Dollar-pun seharusnya di backed –up dengan emas atau perak. Krisis financial tiga tahun terakhir yang hingga kini belum sembuh benar, telah membuat masyarakat yang cerdas negeri bagian itu mengkawatirkan kebijakan-kebijakan Obama yang akan bisa membuat uang Dollar mereka collapse. Kekawatiran ini tentu saja amat sangat beralasan karena sebelum gejala krisis muncul awal  2007, untuk membeli 1 Oz emas hanya dibutuhkan uang kertas  US$ 600-an dan kini hanya dalam waktu kurang lebih 4 tahun kemudian, untuk membeli 1 Oz emas yang sama dibutuhkan lebih kurang dua setengah kalinya yaitu US$ 1,500-an.

Di belahan dunia lain di negeri ini, para legislator kita yang saya yakin betul bahwa  lebih banyaknya Muslim sehingga mereka tentunya paham bahwa nishab zakat ditimbang dengan Dinar atau Dirham dan bukan Rupiah, nishab pencuri dan uang diyat dlsb juga ditimbang dengan Dinar atau Dirham, tidakkah mereka ingin mengikuti legislator Kelantan yang menjadi facilitator bagi rakyat/umatnya untuk dapat melaksanakan syariat dengan lebih akurat ?.

Saya agak yakin pula bahwa mereka mestinya juga paham dengan apa yang terjadi dengan daya beli uang kertas dalam dua dasawarsa terakhir – lebih-lebih para legislator ini pastinya sudah memasuki usia dewasa ketika uang kertas kita nyaris lumpuh dan daya belinya anjlog tinggal seperempatnya pada krisis 1997/1998. Melalui kehancuran mata uang kertas ini pula, sejumlah besar asset terbaik negeri ini berpindah tangan – mulai dari BUMN-BUMN telekomunikasi, perbankan sampai sejumlah industri kini berada ditangan asing – karena murahnya mereka membeli setelah Rupiah hancur pasca krisis 1997/1998 tersebut. Tidak-kah mereka tergerak untuk membangun ketahanan ekonomi berdasarkan uang yang kuat, yang daya belinya tidak bisa dipermainkan oleh para spekulan, yang daya belinya terbukti stabil lebih dari 1,400 tahun ?.

Tetapi sekali lagi kita tidak bisa hanya berandai-andai dan berharap pada manusia, kita bisa berbuat dengan apa yang kita bisa, mulai dari yang kita tahu – insyaAllah Allah akan membimbing kita dengan apa yang kita belum tahu. Hanya kepada Allah-lah kita berharap dan memohon pertolonganNya...Amin.

Dinar dan Dirham : Risk and Return...

Dinar dan Dirham : Risk and Return... PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Kamis, 19 May 2011 08:16
Dinar dan Dirham adalah ibarat sejoli yang hidup berdampingan dalam system mata uang Islam. Bila di situs ini tulisan saya selama ini masih lebih fokus ke Dinar – ini adalah karena Dinar lebih praktis pengelolaannya,  lebih rendah risikonya dan juga lebih rendah komponen biaya cetak untuk pengadaannya. Namun seiring dengan permintaan Dirham yang mulai juga tumbuh, insyaAllah kamipun akan meresponse permintaan tersebut secara memadai dalam waktu dekat. Sama dengan Dinar kami yang sekarang dicetak oleh LM-Antam dan PERURI, Dirham kamipun selain dicetak oleh LM-Antam seperti yang terjadi selama ini – juga akan dicetak oleh PERURI untuk menambah pilihan yang ada di masyarakat dan juga menambah supply.

Dibandingkan dengan Dinar yang sudah dikenal luas lebih dahulu oleh masyarakat, setidaknya tiga masalah tersebut diatas yaitu kepraktisan, risiko dan biaya cetak perlu dipahami juga oleh masyarakat sebelum Dirham ini juga digunakan secara luas sebagaimana Dinar.

Pertama adalah dari sisi kepraktisan ,  specific grafity emas adalah 19,320 kg/m3 sedangkan perak memiliki specific grafity 10,490 kg/m2 ; maka safe deposit box ukuran kecil dengan dimensi 12.5 cm x 12.5 cm x 60 cm akan dapat menyimpan emas (asumsinya tanpa pembungkus apapun) sekitar 181 kg, sedangkan untuk menyimpan perak hanya cukup untuk sekitar 98 kg.

Dengan tingkat harga saat ini Rp 420,000/gram untuk emas dan Rp 9,500/gram untuk perak, maka safe deposit box kecil tersebut cukup untuk menyimpan emas senilai sekitar Rp 76 Milyar, sedangkan untuk perak hanya cukup untuk menyimpan sekitar Rp 930 juta. Artinya dari sisi pengelola seperti Gerai Dinar , untuk mengelola Dirham dengan nilai yang sama dengan Dinar  akan memerlukan ruang penyimpanan yang besarnya kurang lebih 82 kalinya.

Kedua adalah dari sisi risiko fluktuasi nilai, bila selama sepuluh tahun terakhir harga emas tertinggi adalah 5.8 kali harga terendahnya, untuk perak harga tertingginya hampir mencapai 12 kali harga terendahnya. Dari sisi potensi gain memang besar sekali, tetapi ini juga terkait dengan potensi loss bila harga lagi turun.
 
Fluktuasi Emas 10 Tahun TerakhirFluktuasi Emas 10 Tahun Terakhir
Penurunan terbesar dalam sepuluh tahun terakhir untuk emas misalnya terjadi antara Maret 2008 ke Oktober 2008 yang mencapai 29 %. Pada periode yang kurang lebih sama penurunan harga perak mencapai sekitar 57%. Artinya peluang untuk memperoleh gain dari apresiasi yang tinggi di perak, juga harus disadari adanya peluang loss dari penurunan nilai yang juga tinggi.
 
Fluktuasi Perak 10 Tahun TerakhirFluktuasi Perak 10 Tahun Terakhir
Ketiga adalah dari sisi biaya cetak, bila biaya cetak Dinar hanya merepresentasikan sekitar 3.5% dari nilai Dinar, untuk Dirham biaya cetak ini bisa mencapai sekitar 48 % dari nilai Dirham.  Artinya  nilai Dirham hanya akan tetap terjaga selama dia dipertukarkan atau diberlakukan sebagai Dirham, bila harus dilebur untuk kegunaan lain misalnya – maka akan ada kehilangan nilai yang cukup besar dari hilangnya biaya cetak tersebut.

Memang sejatinya Dinar dan Dirham adalah alat tukar yang sesungguhnya, ketika keduanya diperlakukan sebagai alat tukar maka tiga permasalahan tersebut tidak terjadi. Tidak akan dibutuhkan tempat penyimpanan yang besar bila Dirham bisa terus berputar memfasilitasi perdagangan di masyarakat, tidak perlu dicemaskan fluktuasi nilainya dalam mata uang kertas karena daya belinya terhadap kebutuhan riil masyarakat jauh lebih stabil ketimbang mata uang kertas manapun, dan tidak juga terlalu perlu dirisaukan biaya cetaknya karena toh biaya cetak ini akan terbawa dalam nilai Dirham itu sendiri secara terus menerus selama dia tidak dilebur untuk kegunaan lain.

Maka dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut diatas, insyaAllah supply Dirham khususnya dalam bentuk koin 5 Dirham yang disebut Khamsah (Dirham) akan mulai kami tingkatkan dalam bulan-bulan yang akan datang. InsyaAllah !.

Rabu, 18 Mei 2011

Devisaku Tabunganku...

Devisaku Tabunganku... PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Jum'at, 13 May 2011 07:07
Harian Kompas kemarin (12/05/11) memberikan kabar baik bagi perekonomian Indonesia dengan mengutip pernyataan Gubernur BI bahwa “Neraca pembayaran kita tetap sehat dan surplusnya selalu besar dua tahun ini”. Bahkan cadangan devisa kita telah meningkat lebih dari 100 % dari  US$ 56.92 Milyar (2007) menjadi US$ 115.8 Milyar (Mei, 2011). Cadangan devisa ini seperti hasil kerja keras kita , sebagian kita konsumsi – kelebihannya kita taruh di tabungan untuk kebutuhan sewaktu-waktu. Kalau tabungan kita banyak, maka kita siap menghadapi berbagai keperluan mendadak. Demikian pula dengan cadangan devisa negara, bila cadangan devisa kita naik mestinya daya tahan ekonomi kita juga membaik.

Tidak ada yang salah dengan kenaikan cadangan devisa tersebut dan kita semua tentu gembira dengan kabar baik semacam ini yang jarang-jarang kita terima. Hanya saja kita juga harus sadar bahwa kenaikan cadangan devisa tersebut adalah diukur dengan nilai mata uang US$ yang kinerjanya runyam dalam dua tahun terakhir.

Untuk mengetahui kondisi sebenarnya dari kekuatan cadangan devisa yang kita miliki, akan lebih objektif  bila kita mengukurnya dengan daya beli riil dari ‘tabungan’ devisa kita tersebut. Lantas dengan apa kita mengukurnya ?, bisa dengan harga beras, harga gandum, harga minyak dlsb. Saya sendiri cenderung menggunakan harga emas untuk mengukur kekuatan devisa atau tabungan kita tersebut karena tiga alasan.

Alasan pertama adalah diantara komoditi yang ada di dunia, mekanisme terbentuknya harga emas dunia adalah yang paling mendekati mekanisme pasar yang sempurna. Sampai saat ini tidak terbukti adanya pihak yang bisa mempermainkan harga emas ini. Negara yang paling besar cadangan emasnya seperti AS, mereka ‘hanya’ memiliki cadangan emas sebesar 8,133 ton dari sekitar 165,000 ton emas yang ada di permukaan bumi atau kurang dari 5%. Dengan kekuatan yang kurang dari 5 % ini Amerika-pun tidak akan mampu mempermainkan harga emas dunia – sedangkan mempermainkan daya beli Dollar ?, ya itu tentu saja itu  keahlian mereka !.

Alasan kedua adalah ketersediaan informasi harga emas yang transparent dan up-to-date dengan sumber yang sangat banyak. Bila kita gunakan informasi Indeks Harga Konsumen atau Consumers Price Index misalnya, pertama datanya tidak selalu available secara up-to-date; dan kalau toh ada – banyak pihak juga meragukan akurasinya. Makanya sampai ada situs yang namanya Shadow Government Statistics di AS, karena begitu tidak percayanya publik disana terhadap data yang dikeluarkan oleh pemerintahnya.

Ketiga ada sumber berita di Islam yang sangat-sangat tinggi akurasinya dan terjaga dalam ribuan tahun, sumber berita seakurat ini tidak dimiliki oleh peradaban manapun di dunia hingga kini - sumber berita ini apa lagi kalau bukan Al-Qur’an dan Al Hadits. Bila di Al-Quran mengabarkan bahwa beberapa keping uang perak cukup untuk membeli makanan untuk beberapa orang, maka ini terbukti hingga kini. Bila di hadits mengabarkan bahwa satu Dinar emas cukup untuk membeli kambing – ini-pun tidak terbantahkan hingga kini !.

Jadi seperti kita menabung saja, kira-kira kita lebih percaya menabung dalam mata uang US$ - yang nilainya bisa dipermainkan oleh si pencetak Dollar , atau dengan suatu timbangan yang terbukti nilainya baku sepanjang zaman ?. Maka seperti itulah kita bisa melihat cadangan devisa tersebut secara lebih objektif. Grafik dibawah adalah gambaran cadangan devisa kita selama lima tahun terakhir dalam nilai US$ dan bila disetarakan dengan nilai emas.
 
Sumber : Diolah dari kompas, BI dan Kitco.com
Hal yang sama dapat Anda lakukan untuk melihat nilai sebenarnya dari tabungan Anda baik yang ada di bank, asuransi, reksadana, dana pensiun dan lain sebagiannya. Sebagai pembanding harga emasnya antara lain dapat Anda gunakan data emas yang saya sajikan dalam tulisan tentang Dinar Sebagai Yardstick....Wa Allahu A’lam.

Senin, 09 Mei 2011

Dinar Peruri : Babak Baru Dalam Penyebaran Dinar...

Dinar Peruri : Babak Baru Dalam Penyebaran Dinar... PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Jum'at, 06 May 2011 05:48
Sejak pertama kali memperkenalkan Dinar emas ke masyarakat lebih dari tiga tahun lalu, kami sudah mengidentifikasi setidaknya ada dua institusi atau lembaga yang bisa mencetak Dinar dengan kwalitas terbaik dibidangnya di Indonesia yaitu Logam Mulia  (LM) – PT. Aneka Tambang, Tbk dan Perum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri). LM memenuhi standar kwalitas terbaik karena produk mereka diakui secara internasional melalui sertifikasi London Bullion Market Association (LBMA), sedangkan Peruri mampu memenuhi standar kwalitas terbaik karena merekalah perusahaan yang memang spesialisasi utamanya adalah dalam bidang percetakan uang – yang selalu menuntut akurasi yang sangat tinggi.

Alhamdulillah perusahaan-perusahaan  milik pemerintah tersebut kini keduanya siap merespon kebutuhan Dinar yang ada di masyarakat. Bila selama ini Dinar yang kami sebar luaskan ke masyarakat adalah Dinar yang diproduksi oleh Logam Mulia, tentu ini akan kami lanjutkan karena LM telah berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan Dinar masyarakat secara maksimal. Pada saat yang bersamaan peningkatan kebutuhan Dinar di masyarakat yang tinggi – yang beberapa bulan lalu bahkan sempat harus menunggu 1 – 2 bulan, insyaallah akan segera dapat terpenuhi seluruhnya karena adanya tambahan supply Dinar dari Peruri ini. Kini kami merasa lebih comfortable karena ada dua perusahaan milik pemerintah  yang siap mem-backup kebutuhan Dinar yang disebar luaskan melalui situs ini dan agen-agen-nya.

Dinar Peruri yang design dan sample produk-nya sudah kami terima dapat dilihat pada gambar dibawah. Dibandingkan dengan Dinar LM, Dinar Peruri kelihatan lebih kecil karena faktor diameter. Dinar LM berdiameter 23 mm, sedangkan Dinar Peruri berdiameter 20 mm. Untuk mengimbangi diameter yang lebih kecil ini, Dinar Peruri lebih tebal dari Dinar LM. Namun keduanya memiliki berat yang sama 4.25 gram dan kadar karat yang sama pula yaitu 22 karat atau 91.7%. Dari sisi ciri khas design yang mudah dikenali, bila Dinar LM menggunakan gambar timbul berupa Ka’bah di Masjidil Haram – Dinar Peruri menggunakan gambar timbul masjid Istiqlal – Jakarta.
 
Dinar PeruriDinar Peruri

Insyaallah Dinar Peruri ini akan available dalam satu sampai dua bulan kedepan karena saat ini sudah dalam finalisasi process pencetakannya. Bila saatnya nanti Dinar Peruri sudah benar-benar diproduksi, kami akan memberlakukannya secara sama dengan Dinar LM. Selain harga jual dan harga beli-nya yang sama; masyarakat bisa menukarkan Dinar LM yang dipegangnya dengan Dinar Peruri dan juga sebaliknya dari Dinar Peruri ke Dinar LM. Bila stok keduanya ada, klien-klien GeraiDinar dan jaringan agennya boleh memilih salah satu dari keduanya atau kombinasi dari keduanya – tergantung preferensi masing-masing.
 
Sertifikat Dinar PeruriSertifikat Dinar Peruri
Kehadiran Dinar Peruri ini adalah hasil kerjasama Peruri dengan Gerai Dinar. Peruri menyediakan infrastruktur percetakan uangnya yang sangat canggih dengan teamnya yang sangat berpengalaman, sedangkan Gerai Dinar menyediakan bahan baku dan pasarnya. Kerjasama ini juga  menandai babak baru dalam penyebaran Dinar ke masyarakat. Pertama masyarakat bisa memiliki pilihan dari Dinar-Dinar yang diproduksi oleh dua perusahaan negara yang masing-masing sangat berkompetent dibidangnya tersebut diatas, dan yang kedua ketersediaan supply Dinar insyaAllah akan menjadi semakin terjamin.

Semoga Allah senantiasa memudahkan jalanNya bagi kita semua untuk beramal yang diridloiNya.

Kamis, 05 Mei 2011

Bobot Uang Kertas : Seperti Menimbang Jeruk Dengan Jeruk...

Bobot Uang Kertas : Seperti Menimbang Jeruk Dengan Jeruk... PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Kamis, 05 May 2011 08:01
Sepanjang tahun 2011 ini Rupiah lagi luar biasa terhadap Dollar, sehingga di seluruh media yang memberitakan tentang ekonomi dan Rupiah tidak ada yang tidak sepakat bahwa Rupiah lagi kuat. Sayapun setuju bahwa Rupiah memang lagi kuat, tetapi setujunya saya ini dengan catatan bahwa pembandingnya adalah masih uang kertas lain  – khususnya  Dollar yang selama ini paling banyak dipakai sebagai pembanding. Lantas apa manfaat keperkasaan Rupiah ini bagi kita ?, Apakah barang-barang menjadi murah ?. Ternyata tidak, barang-barang khususnya kebutuhan pokok seperti bahan makanan tetap menjadi semakin mahal – bahkan setahun terakhir naik lebih dari 11 %.

Sama dengan kiat memilih kata yang pernah saya tulis sebelumnya, memilih kata ‘Rupiah menguat’ atau ‘Rupiah melemah’ juga berpengaruh pada sikap yang akan kita ambil. Bayangkan bila Anda memegang otoritas moneter di negeri ini misalnya, bila persepsi Anda ‘Rupiah menguat’ dan penguatan Rupiah ini bisa membuat ekspor kita kalah bersaing – maka kebijakan apa yang Anda akan ambil ? pastinya adalah kebijakan yang melemahkan Rupiah atau setidaknya mengerem laju penguatannya – agar ekspor kita kembali bisa bersaing. Sebaliknya juga terjadi bila persepsi Anda ‘Rupiah melemah’, kebijakan Anda akan cenderung menguatkan Rupiah.

Lantas bagaimana kita seharusnya memandang apakah Rupiah ini lagi kuat atau lagi lemah ?, seperti menimbang buah saja. Bila Anda membeli buah jeruk, maka anak timbangannya harusnya adalah anak timbangan baku yang beratnya sudah tertentu seperti logam kuningan dengan berat 1 kg, 0.5 kg dan seterusnya. Anda tentu tidak mau bila jeruk Anda ditimbang dengan jeruk lainnya, karena jeruk lain tersebut beratnya juga tidak tentu dan bisa menyusut pula. Barang yang beratnya tidak tentu, tidak bisa dipakai untuk menimbang berat barang lainnya – karena hanya akan bisa memberikan hasil yang relatif dan bukan hasil yang baku.

Untuk kasus uang kertas Rupiah dan Dollar, hasil ‘timbangan ‘ tersebut dapat dilihat pada grafik dibawah ini. Bila Rupiah ditimbang dengan US$, maka telah terjadi penguatan sampai 21% sepanjang 2 tahun terakhir (garis merah). Tetapi bagaimana dengan ‘timbangan’ Dollar sendiri ?, ‘bobot’ Dollar yang sesungguhnya adalah daya belinya terhadap benda riil – saya gunakan emas karena daya beli emas yang terbukti baku sepanjang lebih dari 1400 tahun. Ternyata dalam dua tahun yang sama US$ ‘bobotnya’ menyusut sampai 39 % (garis hijau).
 
Bobot Uang KertasBobot Uang Kertas
Jadi ‘jeruk’ yang satu yaitu Rupiah kelihatan naik sampai 21 % tetapi relatif terhadap ‘jeruk’ yang lain yang bobotnya turun sampai 39%. Untuk mengetahui berat ‘jeruk’ yang pertama Rupiah secara baku, maka dia tidak bisa ditimbang dengan ‘jeruk’ lainnya yaitu Dollar – Rupiah harus ditimbang dengan benda riil pula – ya contohnya kembali ke emas tadi. Dengan timbangan baku emas, kita tahu bahwa ‘berat’ baku Rupiah ternyata melemah sampai 26 % sepanjang dua tahun terakhir (garis kuning). 

Inilah yang menjelaskan mengapa harga-harga barang tetap naik meskipun seluruh media mengabarkan Rupiah lagi menguat. Bayangkan sekarang bila Anda misalnya sebagai pemegang otoritas moneter mengambil keputusan untuk ‘melemahkan Rupiah’ berdasarkan hasil timbangan ‘jeruk’ dengan ‘jeruk’ diatas – maka yang menjadi korban adalah daya beli masyarakat. Anda insyaallah akan dapat mengambil kebijakan yang lebih adil bila kebijakan Anda mengelola supply uang kertas berdasarkan ‘timbangan’ sesungguhnya yang bernilai baku – yaitu daya beli uang kertas terhadap benda-benda riil yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat – ini antara lain terwakili oleh harga emas diatas. InsyaAllah.

Selasa, 12 April 2011

Revisi Estimasi Harga Dinar & Emas Akhir 2011...

Revisi Estimasi Harga Dinar & Emas Akhir 2011... PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Senin, 11 April 2011 07:16
Akhir pekan kemarin harga emas dunia mencapai rekor tertingginya yang baru, yaitu ditutup pada kisaran harga US$ 1,475/Oz. Apakah dengan demikian harga akhir tahun akan jauh lebih tinggi lagi ?. Bisa jadi demikian, namun saya lebih comfortable menggunakan estimasi yang konservatif dengan model matematika yang sudah saya perkenalkan melalui tulisan tanggal 22 Februari 2011. Karena model ini bersifat dinamis tergantung pergerakan harga yang riil di pasar internasional, ketika ada data yang kita update untuk rata-rata Maret 2011 yang sudah definitif dan April 2011 sampai tanggal 10/04/2011 – maka formula matematika yang dihasilkan sedikit bergeser dari yang pernah saya sajikan sebelumnya.

Berdasarkan data terbaru tersebut, model yang paling akurat tetap model polynomial dengan akurasi yang dicerminkan oleh R2 lebih dari 98% , model yang lain yaitu exponential hanya menghasilkan R2 sekitar 97% sedangkan model linear hanya memberikan R2  di kisaran 89% - lebih detilnya dapat dilihat di grafik berikut.
 
USD GoldGold Estimate in US$
Dengan menggunakan bulan ke satu-nya Januari 2000, maka bulan Desember 2011 adalah bulan ke 144 atau dengan memasukan x=144 kita dapat memprediksi dengan cukup akurat harga emas akhir tahun ini akan berada di kisaran US$ 1525/Oz atau naik di kisaran 10% dibandingkan dengan harga emas akhir 2010 lalu.

Lantas bagaimana dengan harga emas dan Dinar dalam Rupiah ?. Bila harga emas international yang harganya dibentuk dengan mekanisme pasar, tidak demikian halnya dengan harga emas di Indonesia. Pasar emas Indonesia terlalu kecil untuk membentuk harganya sendiri melalui mekanisme pasar.
 
IDR GoldGold Estimate in Rupiah
Harga emas dalam Rupiah lebih banyak tergantung pada harga emas internasional dan nilai tukar Rupiah itu sendiri. Yang menjadi masalah adalah nilai tukar Rupiah terhadap Dollar tidak bisa didekati dengan cukup akurat oleh model matematika layaknya harga emas internasional tersebut diatas. Maka untuk konversi harga emas international dalam US$ ke harga emas Indonesia dalam Rupiah saya gunakan pendekatan nilai tukar random kemudian dirata-rata.

Selain faktor random ini saya beri pula load fisik di kisaran angka 2 %  dari pengalaman survey pasar emas fisik. Mengapa demikian ?, Karena harga emas internasinal adalah berdasarkan perdagangan di bursa yang emasnya sendiri belum tentu diserahkan secara fisik. Sedangkan perdagangan emas yang kita inginkan adalah perdagangan emas fisik lengkap dengan faktor-faktor biaya pengangkutan, security, biaya cetak dlsb.

Dengan menggunakan pendekatan random dan memberi load biaya-biaya tersebut, maka harga emas dalam Rupiah akhir tahun ini diperkirakan akan berada di kisaran Rp 450,000/gram dan Dinar di kisaran Rp 1,915,000/Dinar.

Namanya juga estimasi, tidak ada jaminan akan kebenarannya atas estimasi ini. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui – Wa Allahu A’lam. 

Kamis, 31 Maret 2011

Bila Financial Catastrophe Global Terjadi, Kemana Kita Bisa Berlari...?

Bila Financial Catastrophe Global Terjadi, Kemana Kita Bisa Berlari...? PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Rabu, 30 March 2011 07:26
Catastrophe adalah istilah untuk kejadian atau musibah luar biasa yang sangat besar dampaknya bagi harta benda dan jiwa manusia. Dalam dunia risk management istilah ini biasa digunakan untuk bencana alam sekelas tsunami Aceh akhir 2004, dan yang masih segar diingatan kita adalah gempa bumi dan tsunami di Jepang yang kemudian juga disusul dengan bencana radiasi radioaktif. Sejak krisis financial 2008, karena skalanya yang luar biasa – para financial risk manager juga mulai menggunakan istilah catastrophe ini untuk menggambarkan luasnya dampak bencana financial waktu itu.

Pekan lalu istilah Financial Catastrophe kembali diangkat di media oleh sekelompok mantan ahli ekonomi Gedung Putih dengan membuat surat terbuka yang intinya mengingatkan bahwa mendung Financial Catastrophe sedang membayangi negeri itu.

Yang lebih konkrit lagi, akhir pekan lalu juga – LSM yang misinya menyiapkan warga Amerika untuk menghadapi hyperinflasi – National Inflation Association (NIA) - me-release  12 tanda-tanda bahwa hyperinflasi bisa jadi akan segera terjadi di negeri itu. 12 tanda-tanda ini adalah :

1.     Federal Reserve yang membeli sendiri sampai 70% surat hutang baru yang dikeluarkan negeri itu. Artinya surat hutang negeri itu mulai tidak laku dijual.
2.     Pihak swasta mulai menghentikan pembelian surat utang negara.
3.     China mulai ancang-ancang meninggalkan US Dollars sebagai reserve currency-nya.
4.     Jepang yang merupakan negara no 2 terbesar pemegang surat utang negara AS mulai menjual portfolio-nya.
5.     Tidak biasanya, tingkat suku bunga the Fed kini berada pada angka 0.00 – 0.25 % sejak Desember 2008.
6.     Year –Over- Year (yoy) Consumer Price Index (CPI) meningkat sampai 92% selama tiga bulan terakhir.
7.     Lalainya control media dan masyarakat akan tingginya kenaikan CPI di no 6.
8.     Budget Deficit yang memecahkan rekor baru di angka US$ 222.5 Milyar.
9.     Tingginya persentase deficit yang mencapai 43% dari total pengeluaran.
10.   Obama yang dituduh berbohong dalam kebijakan luar negerinya. Dahulu warga negeri itu berharap Obama akan mengurangi keterlibatan dalam perang di negeri orang, kini ternyata malah memulai perang baru seperti di Libya – siapa lagi yang akan menanggung bebannya selain warga negeri itu sendiri ?.
11.   Obama juga dituduh menyesatkan definisi Balanced Budget dengan mengeluarkan beban bunga dari hutang nasional-nya, padahal justru beban bunga ini yang meledak sangat besar.
12.   Amerika harus memikul kenaikan beban bunga yang sangat besar yang besarnya diperkirakan bisa mencapai 30% - 40 % dari penerimaan pajak negeri itu. Tidak ada negeri yang bisa selamat dari hyperinflasi dengan beban bunga sebesar ini !.

Dengan 12 tanda-tanda tersebut, NIA mengingatkan warga Amerika akan bahaya hyperinflasi yang diprediksi bisa terjadi pada paruh kedua tahun ini, atau bila tidak maka peluang terbesarnya adalah diantara tahun 2013 – 2015, dan bila tidak juga terjadi– maka hampir pasti menurut NIA hyperinflasi akan terjadi di Amerika sebelum dasawarsa ini berakhir.

Apa relevansinya hyperinflasi di Amerika dengan kita yang jauh disini ?. Sama seperti gempa bumi di Jepang yang menimbulkan efek tsunami dan radiasi radioaktif – yang membuat seluruh dunia waspada, bila terjadi hyperinflasi di Amerika dengan uang Dollarnya – maka dia menjadi epicentrum dari gempa financial global yang tidak ada satu negarapun yang tidak akan terkena dampaknya.

Bila terjadi hyperinflasi terhadap US$, daya beli uang ini akan runtuh – sedangkan hampir seluruh negara-negara di dunia memegangnya dalam berbagai bentuk. Kita juga memegangnya dalam bentuk cadangan devisa yang kini nilainya  mendekati US$ 100 Milyar – tepatnya US$ 99.619 Milyar per 28/02/2011. Saling keterkaitan dengan US$ yang begitu kuat juga akan menyeret daya beli  mata uang negara lain ikut runtuh bersamaan dengan runtuhnya  Dollar.

Lantas bagaimana kita menyikapi akan potensi Financial Catastrophe yang  meskipun kemungkinan besar epicentrum gempanya nun jauh di Amerika sana tetapi dampaknya akan sampai ke kita juga ini ?. Jawabannya pernah saya tulis di sini melalui dua tulisan.

Yaitu pertama belajar dari cara nabi Yusuf Alaihi Salam menafsirkan ‘prediksi’ paceklik dari mimpi sang raja (QS 12:47),  bercocok tanam secara sungguh-sungguh selama tujuh tahun adalah jawabannya. Bercocok tanam disini adalah representasi upaya untuk mencukupi kebutuhan sendiri dari apa-apa yang bisa dihasilkan di bumi ini.

Yang kedua adalah belajar dari apa yang dilakukan oleh  seluruh nabi-nabi dan juga jenis pekerjaan yang diindikasikan dalam hadits akan tetap baik dilakukan hingga akhir jaman – yaitu menggembala (memelihara) kambing di bukit-bukit. Menggembala kambing di bukit-bukit adalah merepresentasikan pembebasan diri dari rusaknya system yang menyelimuti dunia saat itu. Keluar dari ecosystem global yang rusak dan membangun ecosystem skala kecil tetapi  terjaga dengan baik adalah jawaban keduanya.

Salah satu bukti empiris dari kebenaran petunjuk Al-Qur’an dan hadits tersebut diatas dapat saya saksikan di desa kelahiran saya – 4 jam perjalanan darat dari Surabaya ke arah barat. Hingga jaman modern kini di desa ini orang tetap bisa hidup nyaris tanpa uang – awalnya terpaksa !, karena begitu sedikitnya uang yang berputar di desa ini.

Anda mungkin tidak kebayang, di sekolah madrasah yang didirikan bapak saya di desa itu – hingga kini kami hanya mampu membayar sekitar 40 gurunya dengan gaji di kisaran Rp 100,000 per orang per bulan. Tetapi jangan dibayangkan bahwa guru-guru tersebut adalah orang-orang yang menderita, mereka adalah orang-orang yang terhormat dan paling berpendidikan di desa itu. Dari penampilannya ketika mereka mengajar, Anda tidak akan mengira bahwa mereka adalah orang-orang yang bergaji Rp 100,000 per bulan. Semua mereka tampil keren dan terhormat di mata 700-an murid-muridnya.

Lantas bagaimana mereka bisa hidup dengan Rp 100,000/bulan ?. disinilah rahasianya. Hampir segala macam kebutuhan hidup mereka bisa tercukupi dari apa yang tumbuh di pekarangan-pekarangan mereka di desa itu. Di desa seperti ini, dimana orang bisa hidup nyaris tanpa uang – bencana financial skala global sekalipun insyaallah tidak akan membawa dampak.

Saya yakin sebagian dari Anda juga memiliki desa asal seperti saya, maka kembali membangun desa dengan sawah, ladang dan ternak-ternaknya insyaallah akan merupakan langkah yang jitu dalam membangun ketahanan ekonomi. Bagi Anda yang tidak memiliki desa Asal, Anda masih dapat men-create desa Anda sendiri di tempat-tempat yang tidak terlalu jauh dari Jakarta misalnya.

Dengan memiliki desa-desa untuk 'kembali' ini, bila bencana financial global tidak terjadi, kita juga tidak rugi karena kita toh membangun desa kita sendiri. Bila bencana financial global seperti yang diingatkan oleh para ahli tersebut diatas benar-benar terjadi, kita-pun tahu kemana kita bisa berlari. InsyaAllah.

Dinar & Dirham Drain : Disparitas Harga Dan Upaya Minimisasi –nya...

Dinar & Dirham Drain : Disparitas Harga Dan Upaya Minimisasi –nya... PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Sabtu, 19 March 2011 06:55
Sebulan terakhir saya coba mengamati harga-harga Dinar dan Dirham yang terjadi di luar negeri khususnya adalah Malaysia melalui World Islamic Mint Malaysia, UAE melalui World Islamic Mint (Abu Dhabi) dan e-Dinar. Hasilnya ternyata masih seperti yang pernah saya tulis sekitar 6 bulan lalu ketika harga emas dunia mulai melejit,  yaitu harga-harga Dinar dan Dirham yang kami perkenalkan melalui situs ini secara persistent berada jauh dibawah harga-harga Dinar dan Dirham di negeri Jiran dan Timur Tengah. Rata –rata sebulan terakhir harga Dinar kita lebih rendah hampir 10% dari Dinar di negeri Jiran, bahkan harga Dirham kita berada di sekitar 36 % lebih rendah dari Dirham di negeri tetangga tersebut.

Pada saat artikel ini saya tulis misalnya, dengan spesifikasi kadar dan berat yang sama Dinar di Malaysia dihargai RM 660 atau sekitar Rp 1,910,000,- dan Dirham di hargai RM 23 atau sekitar Rp 66,000,-.  Pada saat yang bersamaan di Abu Dhabi Dinar diharga US$ 213 atau sekitar Rp 1,868,000,- dan Dirham dihargai US$ 7.39 atau sekitar Rp 64,000,-. Yang masih lebih murah dari kita hanya e-Dinar yaitu Dinar US$ 194.03 ( sekitar Rp 1.7 juta) dan Dirham 3.35 (sekitar 30 ribu), hanya saja ketika Anda klik di Dinar & Dirham Shop mereka untuk membeli Dinar dan Dirham secara fisik – maka harga yang digunakan adalah harga Dinar dan Dirham yang sama dengan World Islamic Mint – Abu Dhabi tersebut diatas. Walhasil dibandingkan dengan ketiga sumber di luar negeri tersebut – harga Dinar dan Dirham di jaringan Gerai Dinar selama ini adalah terlalu murah. Hal ini bisa dilihat dari grafik perbandingannya sebulan terakhir dibawah.
 
DisparitasDisparitas Harga Dinar Emas Indonesia vs Malaysia
Disparitas harga Dinar dan Dirham fisik di Indonesia yang terlalu jauh dibandingkan dengan produk sejenis diluar negeri yang berspesifikasi kadar dan berat sama, sangat   berpotensi menyebabkan apa yang kami sebut Dinar & Dirham Drain (D3) atau Dinar & Dirham capital flight ke negeri-negeri yang menghargainya (dengan uang kertas) lebih tinggi.  Bila ini terjadi, maka good money berupa Dinar dan Dirham fisik kita akan secara bertahap tersedot keluar dan digantikan dengan aliran bad money berupa Ringgit atau Dollar – uang kertas yang dicetak dari awang-awang.

Untuk mengantisipasi hal ini insyaAllah sejauh yang kami bisa, kami akan terus memantau aliran Dinar dan Dirham fisik tersebut diatas. Namun cara yang paling efektif untuk mencegah D3 sebenarnya adalah harus dihilangkan penyebabnya. Karena penyebabnya adalah disparitas harga yang significant – maka disparitas harga ini yang dari waktu-ke-waktu akan kami minimalisir secara bertahap as and when situasinya tepat untuk melakukannya.

Upaya meminimisasi disparitas harga ini akan berdampak terkatrol naiknya harga Dinar dan Dirham fisik di jaringan Gerai Dinar, sedikit menjadi lebih berat bagi yang hendak membelinya – namun secara umum akan otomatis meningkatkan nilai Dinar dan Dirham yang sudah dimiliki oleh masyarakat  – relatif terhadap uang kertas. Bila Anda melihat harga jual - beli Dinar dan Dirham kami per pagi ini lebih tinggi dari kemarin-kemarin, ini adalah dampak dari penyesuaian harga bertahap tersebut.

Setiap langkah tentu ada risikonya, termasuk langkah-langkah untuk mengurangi disparitas harga ini. Bagi kami sendiri dan agen-agen kami tentu sepintas lalu akan membuat Dinar dan Dirham kami kurang menarik bagi calon pembeli –  ini kami sadari sepenuhnya. Tetapi di sisi lain masyarakat pengguna Dinar dan Dirham kami juga toh yang akhirnya akan diuntungkan – karena kami menghargai buyback-nya juga otomatis lebih tinggi. Selisih harga jual dan beli yang kami selalu pertahankan tidak lebih dari 4 % - bahkan bisa turun tinggal 1% - 2 % saja melalui fasilitas penjualan ke sesama pengguna seperti yang sering kami umumkan di situs ini – insyaAllah akan menjaga harga Dinar dan Dirham yang telah ada di tangan Anda.

Masyarakat juga sering membandingkannya dengan emas lantakan, seolah harga Dinar ini jauh lebih mahal dari harga emas lantakan. Untuk obyektifnya ketika membuat perbandingan hendaknya diperbandingkan dalam kondisi yang sama – yaitu sama-sama termasuk ongkos cetaknya. Ketika saya menulis ini misalnya, harga emas di Logam Mulia (harga kemarin 18/03/2011) tertulis Rp 408,000/gram. Tetapi bila Anda membeli emas lantakan yang 4 atau 5 gram ( yg ukurannya dekat dengan Dinar), harga tersebut menjadi Rp 418,500,-/gram – karena memasukkan unsur ongkos cetak di dalamnya. Masih lebih menguntungkan emas lantakan karena 24 karat ?.

Ketika Anda jual balik ke tempat Anda membeli, atau dijual kemanapun biaya cetak emas lantakan akan dihilangkan/tidak diakui. Oleh mereka emas lantakan 5 gram Anda tersebut diatas misalnya bila Anda jual balik pada saat harga jual mereka Rp 408,000/gram – harga belinya berada pada Rp 392,000/gram. Jadi dengan asumsi tingkat harga tetap, ketika Anda membeli harganya 5 x Rp  418,500 = Rp 2,092,500; Anda menjualnya 5 x Rp 392,000 = Rp 1,960,000 atau ada loss sekitar 6.3% sebagai dampak selisih harga jual-harga beli dan tidak diakuinya biaya cetak ketika Anda menjual balik. Bandingkan ini dengan harga jual – beli Dinar yang mengakui ongkos cetak baik ketika menjual maupun membeli, ditambah system jual beli antar pengguna yang kami fasilitasi yang memungkinkan transaction loss hanya 1%-2% – maka insyaAllah secara keseluruhan Dinar ini akan tetap menarik dan memiliki nilai jual yang tinggi.
 
Semoga Allah meridloi upaya ini dan memudahkan kita pada amal shaleh yang diridloiNya pula...Amin.