Contact

Rizky maulana / Sofi Pujiastuti

telp 08112240196 / 081320140019

email Rizfajzan @ gmail

twitter follow@AlfabbyRizky

Pasar Soreang Blok I & II E ( Hj Wewen ) Soreang Bandung

No Rek 13000 - 1122 - 4030 Bank mandiri Cab Soreang - Bandung

Hari kerja Senin - Jum'at ( kecuali hari Libur Nasional)

Jam kerja 08.00 - 16.00 WIB

Kamis, 25 November 2010

Harga Emas Dan Uang Dari Awang-Awang Bank Sentral...

Harga Emas Dan Uang Dari Awang-Awang Bank Sentral... PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Selasa, 23 November 2010 07:08
Bagi Anda dan saya, umumnya kita hanya bisa menambah asset  dengan bekerja keras kemudian mendapatkan gaji bagi yang bekerja atau mendapatkan untung bagi yang berwirausaha. Perusahaan-pun demikian, asset bersih-nya hanya bertambah bila perusahaan bekerja keras dan sukses mendapatkan untung. Tidak demikian halnya dengan institusi yang namanya bank sentral, mereka bisa mencetak uang dari awang-awang atau bahkan sama sekali tidak perlu mencetaknya – cukup mengetikkan beberapa digit angka di komputernya – bahwa asset mereka bertambah – maka asset mereka-pun bertambah !.

Mau lihat buktinya secara nyata ?, perhatikan grafik di bawah yang menunjukkan asset bank sentral Amerika atau yang disebut the Fed. Pada akhir 2008 ketika Amerika berada di puncak krisis finansialnya, tiba-tiba asset the Fed melonjak. Asset ini berupa piutang ke institutsi-institusi keuangan Amerika yang saat itu babak belur dihantam badai krisis. Lantas dari mana the Fed tiba-tiba memiliki kekayaan (uang) begitu banyak untuk aksi penyelamatan tersebut ?, ya itu tadi mencetaknya dari awang-awang ( dalam bahasa inggris sering disebut printing money from thin air) atau bahkan tidak perlu mencetaknya sama-sekali – cukup mengetikkan beberapa digit angka di komputer – lantas pasar menyebutnya dengan nama keren Quantitative Easing.

Fed BalanceSource : Cleveland Fed
 
Bagaimana sih sebenarnya mereka melakukan ini ?. Berikut adalah gambaran sederhananya dari cara kerja mereka.

Misalnya bank sentral suatu negara (dalam contoh saya gunakan the fed-nya Amerika saja biar tidak ada yang marah sama saya) kawatir dengan inflasi akan melanda negeri, maka the fed akan mengeluarkan surat hutang negara misalnya US$ X Milyar. Maka surat hutang ini rame-rame dibeli oleh masyarakat atau institusi keuangan. Uang yang semula ada di masyarakat atau institusi keuangan kini tersedot ke bank sentral. Yang tersedot bukan hanya US$ X Milyar tersebut, tetapi bisa sampai tiga kalinya – karena biasanya perbankan ‘menggandakan uang’nya melalui proses credit. Uang bank hasil money creation-nya perbankan inipun ikut tersedot oleh the Fed mana kala mereka mengeluarkan surat hutang tersebut.

Sebaliknya juga terjadi, dalam situasi dimana negeri dilanda  ancaman krisis yang sangat serius bahkan menuju resesi – maka the Fed melakukan hal yang sebaliknya dengan yang diatas. Kali ini mereka akan membeli surat hutang negara misalnya US$ X Milyar, lho darimana duit-nya ?, gampang – ya dari awang-awang tadi. Maka ‘uang baru’ dari awang-awang ini mengalir masuk ke system keuangan AS dan sampai ke pasar. Ketika sampai ke pasar jumlahnya bukan lagi US$ X Milyar, tetapi berlipat-lipat karena adanya proses money creation dunia perbankan melalui credit yang mereka berikan. Proses yang kedua inilah yang melatar belakangi grafik pertama tersebut diatas.

Masalah mungkin tidak terlalu runyam bila seandainya uang dari awang-awang tersebut dapat secara proporsional menggerakkan ekonomi riil berupa peningkatan  produk barang dan jasa yang tercermin dari naiknya GDP.  Namun ini nampaknya juga tidak terjadi di AS karena ketika Asset the Fed meningkat lebih dari 170% dari kisaran US$ 850 Milyar sebelum krisis ke kisaran US$ 2.3 trilyun pasca krisis, GDP negeri itu hanya tumbuh di kisaran 2 % saja !.

US GDP Source : Trading Economics
Artinya apa ?, uang yang digelontorkan oleh the Fed yang seharusnya menggerakan aktifitas ekonomi yang terukur dengan tumbuhnya GDP – ternyata pengaruhnya tidak significant. Memang untuk sementara berhasil mengatasi krisis yang tercermin pada pertumbuhan negatif GDP semasa krisis, kearah positif pasca krisis – namun karena pertumbuhan GDP yang tidak sebanding dengan uang dari awang-awang yang tercipta – timbulah masalah baru yaitu ancaman inflasi.

Bagaimana inflasi atau kenaikan umum harga-harga ini terjadi sebagai dampak dari penciptaan uang dari awang-awang  pernah saya tulis dua tahun lalu dengan tulisan yang berjudul Ilmu Moneter Yang Menghancurkan dan Yang Memakmurkan. Ringkasnya dapat digambarkan dengan formula yang disebut equation of exchange : M x V = P x Q.  M adalah jumlah uang, V adalah kecepatan putarannya, P adalah tingkat harga-harga dan Q adalah jumlah produk barang dan jasa.

P x Q terepresentasikan dengan GDP sperti dalam grafik kedua diatas. Kita tahu kini bahwa M meningkat drastis seperti tercermin dari grafik pertama, sedangkan V relatif tetap yang berarti tidak bisa mendongkrak Q – terbaca dari grafik kedua. Maka bila dalam suatu persamaan di sisi kiri meningkat tajam (karena faktor M), pada saat yang bersamaan salah satu faktor di sisi kanan relatif tetap (Q) – maka satu faktor yang lain di sisi kanan pasti meningkat tajam juga – yaitu P atau harga-harga atau disebut inflasi.

Lho tetapi menurut data resmi pemerintah AS Inflasi mereka rendah kok ?, itu kan kata pemerintah karena kepentingan politiknya. Beruntunglah rakyat Amerika karena disana ada seorang kakek yang rajin mempublikasikan data pembandingnya yang kini sangat popular dikenal dengan nama Shadow Government Statistics (SGS). Menurut data SGS ini, inflasi negeri itu bisa jauh lebih tinggi dari yang secara resmi di publikasikan oleh pemerintahnya. Perhatikan perbandingannya pada grafik ketiga dibawah.

SGS CPISource : Shadow Government Statistics
 
Ketika inflasi terjadi, ada indikator lain yang sangat akurat – bahkan tentu lebih akurat dari datanya SGS tersebut diatas – yaitu perkembangan harga emas. Perhatikan sekarang grafik harga emas dibawah yang saya beri latar belakang dari grafik pertama diatas.

 
Gold vs The FedSource : Kitco & Cleveland Fed
Sekarang Anda bisa melihatnya dengan sangat jelas, bahwa dampak dari penciptaan uang dari awang-awang the Fed secara perlahan tetapi pasti terkejar oleh kenaikan harga emas dunia yang sampai sekarang dinilai dalam US$ atau uang-nya the Fed.

Lantas bagaimana kedepannya ?. Yang jelas the Fed masih akan terus mencetak uang dari awang-awang bahkan dengan jumlah yang jauh lebih besar lagi melalui proses yang terkenal dengan Quantitative Easing 2 – maka dengan empat grafik diatas insyaAllah Anda bisa menduga secara relatif akurat kemana kira-kira arah pergerakan harga emas dunia pada tahun-tahun mendatang. Wa Allahu A’lam.

Deret Fibonacci dan Teori Peluruhan Untuk Menduga Harga Emas 10 Tahun Mendatang...

Deret Fibonacci dan Teori Peluruhan Untuk Menduga Harga Emas 10 Tahun Mendatang... PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Kamis, 18 November 2010 05:42
Tentang teori deret Fibonacci, saya pernah menulisnya hampir tiga tahun lalu untuk menggambarkan penurunan  nilai mata uang kertas. Kemudian saya juga telah menulis tentang teori peluruhan eksponensial sekitar 8 bulan lalu untuk menguatkan hal yang sama. Kini saya akan menggunakan dua teori tersebut untuk menjawab salah satu pertanyaan pembaca setia situs ini, yaitu seperti apa kiranya harga emas sepuluh tahun dari sekarang.

Sebelum saya uraikan aplikasi dari teori-teori tersebut, perlu saya jelaskan bahwa tidak ada seorang ahli-pun di dunia yang bisa mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi di masa yang akan datang – demikian pula dengan saya. Yang saya lakukan hanyalah mengolah data statistik harga emas dan nilai tukar Rupiah, kemudian menggunakannya dengan asumsi – bahwa peristiwa-peristiwa yang akan datang – tidak jauh berbeda dengan apa yang sudah pernah terjadi sebelumnya.

Untuk menduga harga emas 10 tahun yang akan datang, saya gunakan statistik harga emas dalam US$/Oz dan dalam Rp/Gram selama 40 tahun terakhir 1970 – 2010 yang sudah saya muat dalam tulisan tanggal 1 November 2010 di situs ini.

Dari statistik tersebut diatas, kita tahu bahwa seama 40 tahun terakhir – harga emas dunia rata-rata 2010 (sampai Oktober) dalam US$/Oz telah mengalami kenaikan sebesar 33 kali dibandingkan harga emas rata-rata tahun 1970; atau dalam Rupiah selama periode yang sama harga emas telah mengalami kenaikan sebesar 749 kali.  Dari data ini bila kita konversikan dengan bilangan Fibonacci (perkalian 1.618) dan waktu paruh US$ maupun Rupiah (yang berarti perkalian  2.0 untuk harga emas) ; maka selama  40 tahun terakhir dapat kita sarikan dalam tabel dibawah :

 
Deret FibonacciDeret Fibonacci dan Teori Peluruhan Untuk Menduga Harga Emas 10 Tahun Mendatang...

Cara membaca tabel diatas  adalah sebagai berikut :

·       Dalam kurun waktu 1970-2010; harga emas dalam US$ telah mengalami frekwensi Fibonacci sebanyak 7.05 dan dalam Rupiah sebanyak 13.5.
·       Rentang waktu (return period) dari satu titik Fibonacci ke titik berikutnya rata-rata selama 40 tahun terakhir  dalam US$ adalah 5.67 tahun sedangkan dalam Rupiah 2.96 tahun.
·       Dalam kurun waktu 1970-2010; harga emas bila dibeli dengan mata uang kertas telah berlipat dua (daya beli uang US$ maupun Rupiah tinggal separuh) sebanyak 4.85 kali (US$) dan 9.40 kali (Rupiah)
·       Selama 40 tahun terakhir, waktu paruh rata-rata mata uang kertas  adalah 8.25 tahun untuk US$ dan 4.26 tahun untuk Rupiah.

Dari rangkuman angka-angka statistik tersebut, dapat kita gunakan secara sederhana untuk menghitung berapa kira-kira harga emas sepuluh tahun yang akan datang baik dalam US$ maupun dalam Rupiah – dengan asumsi bahwa tidak terjadi pemburukan ekonomi dunia yang lebih parah dibandingkan dengan apa yang terjadi selama 40 tahun terakhir.

Deret Fibonacci dan Teori Peluruhan Untuk Estimasi Harga Emas 10 TahunDeret Fibonacci dan Teori Peluruhan Untuk Estimasi Harga Emas 10 Tahun

Dengan menggunakan pendekatan deret Fibonacci Harga Emas rata-rata   10 tahun yang akan datang dapat dihitung dari harga emas rata-rata tahun ini  x kelipatan Fibonacci (1.618) ^ (10 /return period Fibonacci). Hasilnya untuk US$ adalah US$ 2,789/Oz  dan dalam Rupiah adalah Rp 1,822,985/gram.

Bila kita gunakan teori peluruhan, maka harga emas rata-rata 10 tahun yang akan datang adalah sama dengan harga emas rata-rata tahun ini x 2 ^ (10/waktu paruh). Hasilnya untuk US$ adalah US$ 2,768/Oz dan dalam Rupiah adalah Rp 1, 831,898/gram.

Untuk memberi gambaran seberapa tinggi harga-harga tersebut dapat dibandingkan dengan tabungan US$ maupun tabungan Rupiah sebagai berikut :

·      Bila Anda menabung US$ 1,194 tahun ini (harga rata-rata emas dunia 2010 untuk 1 Oz), dengan hasil bersih rata-rata 1 % misalnya; maka 10 tahun yang akan datang uang Anda hanya menjadi US$ 1,319. Uang yang sama yang Anda rupakan emas menjadi antara US$ 2,768 – US$ 2,789 atau naik sekitar  2.2 kali dibandingkan dengan tabungan US$ Anda.
·      Bila Anda menabung Rp 359,000 (setara dengan harga 1 gram emas rata-rata tahun ini), maka bila tingkat hasil bersih rata-rata 6 % , setelah 10 tahun uang Anda akan menjadi Rp 749,000. Jumlah uang yang sama bila dirupakan emas akan bernilai antara Rp 1,822,985 - Rp 1,831,898    atau kurang lebih 2.6 kali dibandingkan yang ditabung dalam Rupiah.

Dari angka-angka diatas kita kemudian juga bisa menghitung pula bahwa harga Dinar saat itu (2020) insyaAllah akan berada di rentang rata-rata antara Rp 7,812,252/Dinar s/d Rp 7,850,445/Dinar.

Estimasi tersebut diatas adalah estimasi konservatif karena berasumsi bahwa tidak terjadi percepatan pemburukan ekonomi dunia dalam 10 tahun kedepan. Padahal kita tahu sejak beberapa tahun terakhir misalnya, daya beli US$ cenderung memburuk dengan cepat setelah berbagai langkah Quantitative Easing yang dilakukan oleh Federal Reserve-nya.  Jadi lebih besar peluang harga emas dunia untuk lebih tinggi dari perhitungan-perhitungan tersebut diatas – ketimbang peluangnya untuk lebih rendah.  Wa Allahu A’lam.

Senin, 08 November 2010

Ketika US$ Jatuh, Apa Yang Terjadi Dengan Rupiah dan Harga Emas...?

Ketika US$ Jatuh, Apa Yang Terjadi Dengan Rupiah dan Harga Emas...? PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Senin, 08 November 2010 08:17
Akhir September lalu ketika harga emas dunia mendekati angka psikologis US$ 1,300/Oz saya menulis tentang “Harga Emas : Tinggi Tetapi Tidak Ketinggian...”. Kini satu setengah bulan kemudian harga emas dunia terus melambung, jauh melewati angka psikologis US$ 1,300/Oz tersebut dan bisa jadi sedang menuju angka psikologis berikutnya. Mengapa seolah harga emas dunia ini begitu predictable ?, selain karena statistiknya begitu nyata, perilaku manusia-manusia yang mengendalikan daya beli US$ ini begitu mudah dibaca.

Jauh hari sebelum Quantitative Easing tahap 2 benar-benar diputuskan pekan lalu misalnya, pasar sudah menduganya – bahkan sampai ke angkanya yang hanya meleset sedikit (pasar menduga di kisaran US$ 500 Milyar, yang diputuskan  US$ 600 Milyar ). Jadi gejala jatuhnya daya beli US$ ini sebenarnya adalah terang benderang seterang siang hari, apalagi apabila dilihat dari kaca mata Qur’ani yang memang sudah menjanjikan akan dimusnahkannya Riba (QS 2 : 176).

Lantas bila jatuhnya daya beli US$ begitu nyata, apakah kita bisa melihat jatuhnya daya beli Rupiah ?. Tidak semua orang mungkin bisa melihat bahwa daya beli Rupiah juga sedang jatuh. Ini adalah karena adanya bias alat ukur, yaitu bila Rupiah diukur dengan US$ - maka nilai tukar Rupiah yang saat ini (08/11/2010) berada di kisaran Rp 8,900/US$ - kelihatan Rupiah seolah lagi perkasa. Mobil yang lagi berjalan mundur akan kelihatan berjalan maju, bila dilihat dari mobil lain yang berjalan mundur lebih cepat.

Kita hanya bisa tahu bahwa daya beli Rupiah juga lagi jatuh ketika kita pakai Rupiah tersebut untuk membeli kebutuhan riil sehari-hari yang terus bertambah mahal. Lebih kentara lagi bila digunakan untuk membeli barang-barang yang memiliki nilai baku sepanjang zaman seperti emas atau Dinar. Grafik dibawah adalah ilustrasinya.

IDRX, USDX and GoldPriceIDXR, USDX and GoldPrice
 
Grafik US$ Index adalah bila US$ dibandingkan dengan sekelompok mata uang kuat dunia, begitu pula grafik Rupiah Index. Di latar belakang adalah trend kenaikan harga emas dunia pada periode yang sama, jelas sekali bukan ?. Grafik garis hijau (US$ Index) turun, grafik garis merah (Rupiah Index) juga turun – pada saat yang bersaman grafik bidang emas (harga emas dunia US$/Oz) terus naik.

Maka karena saya belum bisa melihat akan adanya titik balik dari trend-trend terkini  tersebut diatas; saya tetap dengan pendapat saya satu setengah bulan yang lalu – bahwa  meskipun harga emas atau Dinar kini sudah sangat tinggi – tetapi tetap juga belum ketinggian !. Bukan hanya karena kelangkaan dan peminat yang terus bertambah, tetapi juga karena didorong oleh nilai tukar uang yang digunakan untuk membelinya terus mengalami penurunan. Wa Allahu A’lam

Jumat, 05 November 2010

G-20 Memberikan Noise, The Fed Memberikan Signal…


PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Jum'at, 05 November 2010 07:15
Dua pekan lalu saya menulis tentang hasil pertemuan tingkat menteri keuangan dan para gubernur bank sentral negara-negara G-20 yang telah memberikan noise pada pasar emas dunia. Seperti memberikan ‘angin surga’  hasil pertemuan para petinggi otoritas keuangan dunia tersebut sejenak meredam issue currency war yang semakin imminent saat itu.  Sejenak pula harga emas sempat turun karena dunia berharap bahwa currency war tidak terjadi. Namun realita yang terjadi kemudian ternyata sangat berbeda dengan apa yang dijanjikan oleh para petinggi keuangan G-20 tersebut, the Fed-nya Amerika bahkan memberikan signal dan bukan hanya noise  - bahwa dideklarasikan ataupun tidak – perang mata uang itu sungguh terjadi.

Tindakan the Fed untuk mencetak uang dari awang-awang dengan bahasa kerennya Quantitative Easing (QE) sampai US$ 600 Milyar yang akan diimplementasikan sampai pertengahan tahun depan – adalah signal bahwa US$ akan terus dibuat melemah dalam waktu yang panjang. Mengapa ini bukan juga noise seperti yang dihasilkan oleh pertemuan petinggi keuangan G-20 ?. Disinilah bedanya.

Ketika para pejabat tinggi Negara-negara G-20 bertemu, mereka akan cenderung saling berkata manis satu sama lain – seolah-olah tidak ada masalah diantara mereka. Hasil pertemuan ha ha hi hi inilah yang kemudian disampaikan ke media bahwa mereka sepakat untuk berbuat ini – itu yang meredam isu perang mata uang misalnya. Media kemudian menyebar luaskan hasil pertemuan tersebut sebagai positif dlsb. Maka pasar-pun sesaat terpengaruh dan berharap banyak bahwa kesepakatan-kesepakatan tersebut benar adanya. Saya katakan sesaat karena setelah mereka tahu realitanya, situasi akan segera berbalik seperti setelah adanya keputusan the Fed tersebut. Karena dampaknya yang sesaat inilah maka hasil pertemuan-pertemuan G-20 tersebut saya kategorikan sebagai noise saja.

Lain hanya dengan hasil pertemuan Forum Open Market Committee (FOMC)–nya the Fed.  Pertemuan mereka bukan pertemuan para pejabat yang saling bicara manis satu sama lain, bukan pula pertemuan ha ha hi hi…; pertemuan mereka adalah untuk mengambil keputusan yang konkrit dan bersifat fundamental – yaitu mencetak (lagi) uang dalam jumlah yang sangat besar dari awang-awang atau Quantitative Easing tersebut diatas.

Berbeda dengan hasil pertemuan G-20 yang tidak menghasilkan tindakan konkrit dan fundamental sehingga hanya bisa menimbulkan noise; keputusan hasil pertemuan FOMC – the Fed adalah konkrit diimplementasikan dan bersifat fundamental – maka signal-lah yang dihasilkan. Signal bahwa US$ akan terus menurun  daya belinya – yang berarti juga signal komoditi riil seperti emas akan cenderung naik terus dalam jangka yang panjang. Pasar yang meresponse signal ini misalnya telah membuat harga emas melambung  ke kisaran US$ 1,390/Oz sejak tadi malam.

Minggu depan bukan hanya petinggi keuangan yang akan ketemu di Seoul – Korea Selatan; yang akan bertemu adalah para pemimpin negara-negara G-20. Tetapi pertemuan ini sekali lagi, hanya akan bersifat ceremonial, bicara manis – tetapi tidak akan membuat perubahan fundamental. Pertemuan tingkat tinggi G-20 ini misalnya, meskipun juga akan dihadiri oleh presiden Amerika sekalipun – tetap tidak akan bisa mengubah hasil keputusan FOMC-nya the Fed yang sudah bertekad bulat untuk melemahkan nilai tukar US$ - demi menyelamatkan ekonomi negeri itu.

Walhasil, pertemuan tingkat kepala Negara G-20 –pun hanya akan menghasilkan noise yang sesaat mengaburkan signal  tetapi tidak akan bisa meredam signal yang memang bersifat konkrit dan fundamental.

Jadi dalam mengambil keputusan investasi – terutama yang bersifat jangka panjang – jangan terlalu terpengaruh oleh noise, perhatikanlah signal-nya !. Wa Allahu A’lam.
Di-update pada Jum'at, 05 November 2010 07:30 

Kamis, 04 November 2010

Dinar Untuk Napak Tilas Jejak Karir...

PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Selasa, 02 November 2010 07:25
Melanjutkan cerita tentang teman saya yang berkarir cemerlang dengan posisi sekarang sebagai direktur di grup perusahaan besar, kali ini saya ingin mendalami mengapa dia selama 15 tahun terakhir tidak merasakan adanya peningkatan kemakmuran. Apa yang terjadi dengan karirnya ?. Untuk pendalaman ini saya minta dia mengingat-ingat setiap perubahan dalam karir dan pendapatannya, kemudian saya plot-kan berdasarkan tabel harga Dinar yang saya muat di situs ini kemarin (01/11/2010). Hasil dari pemetaan perubahan karir dia selama 15 tahun terakhir ini dapat dilihat pada grafik dibawah.

Dinar dan Jejak KarirDinar dan Jejak Karir

Kita bisa melihat dari grafik tersebut diatas bahwa sebenarnya tidak ada yang salah dengan perjalanan karir dia, bahkan sebagai professional dia termasuk professional yang karirnya cemerlang. Perhatikan ketika dia berhasil meningkatkan penghasilannya dua kali lipat pada tahun 2000 ketika dia pindah ke perusahaan lain sekaligus promosi menjadi general manager. Lompatan berikutnya terjadi ketika lima tahun kemudian  diangkat menjadi direktur di grup perusahaannya.

Lantas mengapa dengan perjalanan karir yang diatas rata-rata ini secara factual dia tidak bisa merasakan peningkatan kemakmuran ?. Ternyata ini adalah karena dia mengelola penghasilannya sama dengan pada umumnya masyarakat – yaitu mengelolanya dengan instrumen investasi finansial yang tidak terkait langsung dengan sektor riil.

Karena dari penghasilan dia baik yang di tabung di bank, deposito, asuransi, reksadana dan lain sebagainya semuannya ber-denominasi mata uang kertas Rupiah atau US$,  maka ketika daya beli uang kertas tersebut terus menyusut, tingkat kemakmuran dia juga ikut tergerus bersamanya. Perhatikan garis merah yang menunjukkan penghasilan dalam Rupiah yang secara angka terus naik, tetapi bila dibandingkan garis kuning yang menunjukkan penghasilan setelah  dikonversikan kedalam Dinar yang merepresentasikan daya beli uang terhadap benda riil – terus mengalami penurunan.

Sama dengan umumnya masyarakat Indonesia pula, pada tahun 1998 ketika krisis moneter terjadi – meskipun gaji dia dalam Rupiah masih mengalami kenaikan – daya beli terhadap kebutuhan sehari-hari yang diwakili oleh harga Dinar tergerus menjadi hampir sepertiganya. Posisi dia ini baru ter-recover setelah lompat ke perusahaan lain dengan posisi yang lebih tinggi pada tahun 2000.

Pelajaran apa yang sebenarnya bisa kita ambil dari pengalaman teman saya tersebut  di atas ?. Bahwa ternyata hanya mengandalkan perjalanan karir yang cemerlang sekalipun, bila kita hanya mengelola penghasilan kita dengan instrumen investasi finansial semata – akan sulit kita untuk dapat meningkatkan kemakmuran; bahkan mempertahankannya-pun bisa jadi tidak mudah.

Lantas apa solusinya ?,  solusi terbaik menurut saya adalah sedini mungkin menggunakan sebagian penghasilan Anda untuk investasi di sektor riil secara langsung. Pertama ini akan mengamankan hasil jerih payah Anda dari gerusan inflasi atau penurunan daya beli, kedua adalah bisa jadi ini menjadi sarana Anda untuk memberi manfaat pada orang lain dengan menciptakan lapangan pekerjaan baru.

Mudahkan langkah ini ditempuh ?. Jelas tidak mudah. Itulah sebabnya saya menganjurkan Anda untuk merintisnya sedini mungkin.

Ambil contoh pengalaman teman saya tersebut diatas. Seandainya ketika masih muda sebagai manager perusahaan asing tahun 1995 dengan gaji yang Rp 10 juta atau setara lebih dari 80 Dinar saat itu, dia mulai menyisihkan penghasilannya untuk investasi sektor riil secara langsung – kemudian dia harus mengalami jatuh bangun selama tujuh kali atau lebih sekalipun – sebelum ketemu sektor riil yang pas untuk dia; maka kemungkinan saat ini dia sudah akan mampu mempertahankan penghasilannya dari gerusan inflasi – atau bahkan mengalahkannya. Wa Allahu A’lam.

Senin, 01 November 2010

Dinar Sebagai Yardstick Kemakmuran dan Perencanaan Keuangan...


PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Senin, 01 November 2010 07:57
Ada seorang teman yang saya kenal baik sejak tahun 1990-an hingga kini, karena kedekatan tersebut dia cukup leluasa mengungkapkan segala problem financial-nya ke saya. Pada tahun 1995 dia diangkat menjadi manager di perusahaan asing dengan penghasilan sekitar Rp 10 juta per bulan; kini dia  direktur di salah satu group perusahaan besar dengan gaji Rp 100 juta-an per bulan !. Yang jadi pertanyaan dia ke saya adalah mengapa dengan gaji 10 kali lipat dibandingkan dengan gaji dia tahun 1995, dia tidak merasakan adanya peningkatan kemakmuran selama 15 tahun ini ?.
Disinilah problem yang terjadi dengan uang kertas, karena nilainya yang terus bergerak turun – angka di penghasilan kita bisa saja terus meningkat tetapi tidak berarti daya beli riil kita juga meningkat. Untuk bisa melihat daya beli riil kita, kita harus menggunakan timbangan yang juga benda riil – salah satunya adalah Dinar. Untuk melihat situasi financial teman saya tersebut diatas misalnya, kita dengan mudah dapat gunakan tabel dibawah.
Estimasi Harga Dinar 1970-2010Estimasi Harga Dinar 1970-2010
 
Penghasilan dia tahun 1995 yang Rp 10 juta saat itu kurang lebih setara dengan 82.29 Dinar. Dengan harga Dinar pagi ini dikisaran Rp 1,670,000,-/Dinar , penghasilan dia yang Rp 100 juta hanya setara dengan 59.88 Dinar !. Jadi setelah bekerja 15 tahun lebih dengan penghasilan dalam Rupiah yang sudah meningkat 10 kali lipat, tentu saja sang direktur tidak merasakan peningkatan kemakmuran karena daya beli riil dia selama ini bukannya naik tetapi malah turun.
Mengapa harga Dinar ini lebih akurat untuk mengukur daya beli riil kita ketimbang data inflasi di negara maju sekalipun ?; adalah sejarah ribuan tahun yang membuktikan hal ini. 1 Dinar di jaman Rasulullah SAW dapat untuk membeli 1 ekor kambing kurban yang baik, kini dengan 1 Dinar yang sama Anda tetap dapat memilih kambing kelas A untuk ber-kurban. Bila Dinar stabil daya belinya terhadap kambing, tentu dia juga memiliki daya beli stabil untuk kebutuhan kita lainnya.
Dengan menggunakan tabel yang sama, Anda juga dapat mengukur kinerja financial Anda dalam perjalanan karir Anda selama ini – jangan-jangan tanpa Anda sadari - Anda juga menjadi korban penurunan daya beli seperti teman saya tersebut. Lantas apa manfaatnya mengetahui kondisi riil kita ini ?. Bila kita berhasil mengidentifikasi masalahnya, maka ada kemungkinan kita bisa memperbaiki situasinya. Sebaliknya bila kita tidak tahu masalahnya, tentu akan sulit untuk mencari pemecahannya.
Untuk kasus teman saya tersebut misalnya; dengan penghasilannya sebagai direktur yang sekarang mendekati 60 Dinar per bulan – memang lebih rendah dari penghasilan dia sebagai manager tahun 1995 yang diatas 80 Dinar per bulan; tetapi sesungguhnya dia masih mampu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk diinvestasikan di sektor riil.
Apa dampaknya bila dia tidak melakukan action ini sekarang ?, penghasilan dia akan semakin menurun kedepan (dalam Dinar) padahal dia semakin  dekat ke usia pensiun yang kurang dari 10 tahun mendatang. Bila ini terjadi, maka dari sisi financial dia tidak akan lebih baik dari posisi financial dia di masa mudanya. Inilah mayoritas yang dialami oleh pegawai di sektor apapun pada tingkat apapun – bila dia tidak mulai mengambil aksi investasi pada bentuk-bentuk investasi yang bisa mengalahkan penurunan daya beli mata uang kertas.
Bentuk investasi sektor riil yang sederhana tetapi akan mampu mengalahkan penurunan daya beli mata uang salah satunya adalah perdagangan.
Bila Anda berdagang beras misalnya. Anda mengambil dari Cianjur dan menjualnya di Jakarta dengan keuntungan bersih 10 %, maka keuntungan Anda yang 10 % dari harga beras ini akan mampu melawan inflasi atau penurunan daya beli mata uang karena ketika inflasi itu terjadi harga beras otomatis naik dan penghasilan Anda juga otomatis naik – seiring kenaikan harga beras.
Bila sekarang Anda mulai menjual 1 ton beras per bulan, 10 tahun lagi mampu menjual 10 ton beras per bulan, maka kenaikan penghasilan Anda akan merupakan kenaikan penghasilan yang riil karena dikaitkan langsung dengan daya beli terhadap beras – bukan kenaikan semu hanya dalam angka seperti dalam contoh kasus teman saya tersebut diatas.
Jadi mengenal yardstick atau tolok ukur yang benar, bisa menjadi awal Anda untuk membuat perencanaan keuangan masa depan yang lebih akurat dan memakmurkan. InsyaAllah.

Selasa, 26 Oktober 2010

Risk and Return : Antara Saham Dengan Emas, Pilih Mana...?.


PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Selasa, 26 October 2010 06:22
Tulisan saya bulan Juli lalu dengan judul “Pilihan Investasi : Saham Atau Emas...?” telah memberikan gambaran perbandingan antara investasi di bursa saham internasional yang direpresentasikan oleh Dow Jones Industrial Average (DJIA) dengan investasi di pasar emas internasional. Lantas timbul banyak pertanyaan atas tulisan tersebut, apakah kondisinya juga demikian untuk pasar lokal ?. Meskipun saya belum sempat melakukan riset sendiri untuk menjawabnya, Alhamdulillah ternyata saya tidak perlu menjawabnya sendiri karena ada pembaca situs ini yang bisa secara ilmiah, objektif dan meyakinkan menjawab pertanyaan tersebut melalui Thesis S-2 Program Studi Magister Akuntansi di perguruan tinggi negeri ternama dan salah satu yang tertua di negeri ini.

Pembaca tersebut adalah Sri Pangestuti yang lulus dengan nilai A untuk thesis S-2 nya yang berjudul “Analisis Return LQ45 Dibandingkan Return Emas dan faktor-Faktor Yang mempengaruhi Return LQ45 dan Return Emas Selama Periode 1995 – 2010 ”.  Untuk keperluan penelitian ini, Sri  Pangestuti menggunakan data sekunder yang antara lain diperoleh dari jurnal Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia (SEKI) yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia, data pasar modal Indonesia dari Bursa Efek Jakarta dan berbagai sumber lainnya termasuk data dari internet.

Sebagai pembanding emas digunakan data dari  45 saham-saham unggulan atau yang disebut LQ 45 atau juga biasa disebut saham-saham blue chips – yang pada umumnya memberikan imbal hasil yang tinggi. Sri Pengestuti menggunakan berbagai uji statistik yang sangat njlimet untuk bisa meyakinkan para pengujinya – yang tentunya juga sangat menguasai bidangnya masing-masing sebelum akhirnya lulus dengan sempurna (nilai A).

Berbagai pengujian ilmiah tersebut menjadi terlalu teknis untuk saya angkat disini, namun yang sangat menarik adalah butir-butir kesimpulan thesis Sri Pangestuti yang saya kutip secara lengkap dengan ijin langsung  dari yang bersangkutan sebagai berikut :

1.        Harga emas yang telah di-adjust dengan inflasi menunjukkan trend peningkatan harga yang lebih tinggi daripada nilai indeks LQ45 yang juga telah di-adjust dengan inflasi. Hal ini menunjukkan bahwa daya beli (purchasing power) emas dalam jangka panjang lebih baik daripada saham  LQ45 sehingga dapat disimpulkan bahwa investasi emas dalam jangka panjang lebih menguntungkan daripada investasi saham LQ45 karena daya belinya lebih baik.

2.        Return emas yang telah di-adjust dengan inflasi dalam jangka pendek lebih fluktuatif dibandingkan return LQ45 yang juga telah di-adjust dengan inflasi. Dalam jangka pendek LQ45 memberikan return yang lebih baik dalam arti lebih stabil dibandingkan emas.

3.        Dari point 1 dan 2 tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa investasi saham LQ45 dalam jangka pendek lebih baik dibandingkan emas karena fluktuasinya lebih rendah daripada emas. Namun dalam jangka panjang emas memberikan return yang lebih baik yang ditunjukkan oleh harga emas yang jauh lebih tinggi dibandingkan saham LQ45, dan purchasing power emas lebih baik daripada saham LQ45.

4.        Return LQ45 dan return emas dipengaruhi secara bersama-sama oleh faktor-faktor perubahan kurs, harga crude oil, inflasi, dan jumlah uang  beredar, serta peristiwa-peristiwa politik/ekonomi secara signifikan. 

5.        Perubahan kurs, inflasi, dan jumlah uang beredar secara individual  mempengaruhi return LQ45 dengan signifikan. Sementara faktor yang signifikan mempengaruhi return emas secara individual adalah perubahan kurs dan uang beredar. Sementara perubahan harga minyak mentah (crude oil) dan peristiwa-peristiwa politik/ekonomi tidak mempengaruhi baik return LQ45 maupun return emas.

6.        Untuk tiap unit risiko LQ45 memberikan return sebesar 0,08567 atau 8,567%, sementara emas memberikan return sebesar 0,19840 atau 19,840% untuk tiap unit risiko. Bila diperbandingkan di antara keduanya, untuk tiap unit resiko yang sama emas memberikan hasil lebih besar yaitu 2,31577 kali dari yang diberikan oleh saham LQ45.
 LQ45 vs Emas
Saya terus terang sangat gembira ketika mendapatkan dari penulis langsung copy dari thesis tersebut. Bukan hanya karena butir-butir kesimpulannya yang secara umum selaras dengan pola pikir yang kita kembangkan di situs ini, tetapi juga karena mulai munculnya kajian ilmiah yang objektif tentang kinerja emas ini. Emas tidak bisa lagi diolok-olok sebagai bentuk investasi yang kuno, karena kini terbukti bahwa dalam jangka panjang emas lebih baik dari saham-saham blue chip sekalipun.

Hasil thesis ini mungkin bisa membuat sebagian orang kawatir kalau para investor ter-discourage untuk investasi di pasar modal dan rame-rame pindah ke emas. Menurut saya sendiri hal ini tidak perlu terjadi, malah sebaliknya – seharusnya menjadi pendorong agar bursa saham bisa me-representasi-kan kinerja sektor riil secara lebih baik. Dapat pula menjadi pendorong bagi para investor agar lebih memperhatikan kinerja riil para emiten daripada isu-isu sentimen pasar sesaat.

Mengapa demikian ?, investasi terbaik menurut saya sendiri adalah investasi sektor riil yang dijalankan dengan baik. Bahwasanya ternnyata saham-saham unggulan sekalipun tidak memberikan hasil lebih baik dari emas (yang sejatinya bernilai tetap – hanya kelihatan terus naik nilainya karena nilai emas diukur dengan nilai mata uang yang nilainya terus mengalami peluruhan), ya karena bursa saham itu sendiri selama ini belum berhasil merepresentasikan kinerja sektor riil yang seharusnya diwakilinya.

Harga-harga saham bisa saja menjulang meskipun kinerja perusahan emiten-nya biasa-biasa saja;  sebaliknya, harga bisa hancur lebur padahal kinerja emitennya masih ok. Pergerakan naik turunnya harga yang lebih banyak didorong isu sentimen pasar sesaat dan bukan disebabkan oleh faktor fundamental tersebutlah yang telah membuat investasi pada saham unggulan sekalipun beresiko lebih tinggi dari investasi emas dan pada saat yang bersamaan memberikan hasil yang lebih rendah dari appresiasi harga emas (butir kesimpulan no 6).

Lebih lanjut thesis semacam ini bisa menjadi pemicu agar para investor bertindak cerdas dalam ber-investasi terutama bila ber-investasi pada jenis investasi yang sophisticated seperti pada bursa saham tersebut diatas. Bila tidak yakin bisa melakukannya dengan benar – ya pilihannya ada di kesimpulan no 6 tersebut diatas.

Kedepannya akan dibutuhkan thesis-thesis sejenis untuk berbagai bidang investasi lainnya, agar investor awam terbantu melihat segala sesuatunya secara lebih jernih. Maka ketika Sri Pangestu mengutarakan niat untuk mengambil tema teori peluruhan mata uang kertas sebagai thesis S-3 yang akan ditempuhnya – insyaAllah kami siap mendukung sepenuhnya. Dari thesis Doktor ini kelak masyarakat akan bisa melihat lagi secara ilmiah, objektif dan transparan mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada uang kertas.

Segala tulisan dan penjelasan saya di situs ini yang selama ini hanyalah analisa orang awam yang mengandalkan ‘kecerdasan jalanan’ – street-smart – insyaAllah satu demi satu akan mendapatkan dukungan dan pembenaran ilmiahnya. Amin.

Kamis, 14 Oktober 2010

Pasca Currency War : New Global Currency Atau Emas/Dinar...?.


PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Selasa, 12 October 2010 07:51
Perang mata uang meskipun tanpa deklarasi resmi – diakui atau tidak oleh para pelakunya – faktanya kini tengah terjadi.  Dan sebagaimana sejarah membuktikannya, perang pasti berakhir.  Yang belum pasti adalah akan seperti apa akhir dari peperangan ini, seperti apa wajah dunia saat itu ?, seperti Hiroshima dan Nagasaki-kah ?. Bisa jadi demikian, maka berbagai pihak kini  bersiap menghadapinya.

Melihat fakta sejarah, dimana Amerika tega dan nekat menjatuhkan bom atom Little Boy di atas Hiroshima (6/8/45) dan Fat Man di atas Nagasaki (9/8/45) yang keduanya membunuh sekitar 250,000-an orang tidak terkecuali bayi, wanita dan orang-orang jompo, maka untuk mengakhiri perang mata uang ini – sangat mungkin Amerika bisa melakukan hal yang nekat dan tega lagi – dengan mengorbankan kepentingan bangsa-bangsa  lain di dunia.

Kondisinya sekarang adalah Amerika sudah geregetan dengan mitra-mitra dagang utamanya  seperti China, Jepang, Korea, Thailand dan bahkan Swiss yang gemar melakukan intervensi pasar uang untuk menekan nilai mata uangnya. Dampak dari deficit perdagangan dengan negara-negara tersebut – yang di trigger oleh tidak competitive-nya US$, konon kini tingkat pengangguran di Amerika mencapai 17.1 % berdasarkan U6 Index terakhir dengan trend menaik.

Kali ini bukan bom atom yang akan dijatuhkan, tetapi bisa saja berupa apa yang disebut Quantitative Easing 2 (QE 2). Bila QE 1 yang mereka lakukan di puncak krisis 2008/2009 bersifat darurat untuk mencegah ekonomi negeri itu terjuh bebas, QE 2 ini akan menjadi alat Amerika untuk sembuh dari penyakit kronis dalam system ekonominya.

QE 2 yang akan berdampak pada penurunan nilai tukar  US$ yang significant, bisa jadi akan menyembuhkan penyakit kronis negeri itu – tetapi akan menjadi musibah bagi negara-negara lain. Tidak hanya ekspor mereka ke Amerika menjadi tidak lagi kompetitif, tetapi juga kekayaan mereka (cadangan devisa) yang mayoritasnya masih dalam bentuk US$ - akan hancur nilainya.

Hikmahnya adalah dari puing-puing kehancuran perang mata uang ini, dunia akan belajar bahwa mereka tidak lagi bisa mengandalkan  mata uang suatu negara untuk menjadi reserve currency. Ketika negara yang mata uangnya diandalkan untuk reserve currency tersebut berbuat sewenang-wenang terhadap uangnya, negara-negara lain di dunia yang terkena getahnya.

Maka beberapa otoritas keuangan dunia yang paham betul situasi yang dihadapi, mulai mewacanakan mata uang baru global yang tidak tergantung oleh mata uang suatu negara. Wacana ini misalnya teleh dilontarkan oleh pemimpin China maupun Perancis – meskipun keduanya menyangkal bahwa keduanya telah berkoordinasi sebelumnya.

Bahkan menteri keuangan Perancis Christine Lagarde baru-baru ini menyatakan bahwa Perancis akan menggunakan kesempatan G20 presidency mereka untuk mengganti Dollar.  Secara specific dia mengusung Bancor yaitu gagasan mata uang global dari ekonom kondang Keynes di tahun 1940-an. Berbeda dengan Special Drawing Rights (SDRs) –nya IMF yang mendasarkan nilainya pada seklompok mata uang kuat dunia, Bancor mendasarkan nilainya pada sekelompok komoditi metal khususnya.

SDRs maupun Bancor nampaknya akan menjadi preferensi bank-bank sentral dunia untuk antisipasi dampak dari perang mata uang yang tengah berlangsung ini. Tetapi preferensi sentral bank tidak berarti juga preferensi pasar. Pasar akan lebih comfortable dengan emas sebagai uang global ketimbang SDRs maupun Bancor tersebut.

Pendapat bahwa emas akan lebih disukai sebagai uang global ini misalnya diungkapkan oleh Jims Rickards konsultan investasi terkenal yang kliennya tidak hanya dari kalangan korporasi swasta, investment banks dlsb., tetapi juga dari kalangan pemerintahan seperti national security and defense-nya Amerika.

Walhasil perang mata uang secara global ini nantinya akan menyisakan dua pihak saja di partai final yang akan bertarung, yaitu uang kertas global yang akan terwakili oleh SDRs, Bancor atau sejenisnya di satu pihak dan uang emas seperti Dinar dan sejenisnya di pihak yang lain.

Seperti pendapat Jim Rickards yang mewakili pasar,  sudah barang tentu saya juga menjagokan uang emas khususnya Dinar yang akan keluar sebagai pemenang pada akhirnya.  Emas atau Dinar sebagai uang yang fitrah selama ribuan tahun, tidak ada alasan untuk tidak menjadi uang kembali di masa kini dan masa mendatang.

Bagi Anda yang sudah mengenal Dinar sejak tiga tahun ini misalnya, beruntunglah Anda – bukan hanya karena nilainya telah berlipat dua atau lebih, tetapi juga karena Anda telah melangkah lebih dahulu – mendahului jamannya - jaman uang kembali ke emas (Dinar) atau perak (Dirham). Wa Allahu A’lam.

Currency War : Menang Ora Kondang, Kalah Ngisin-Ngisini...


PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Senin, 11 October 2010 07:10
Currency war atau perang mata uang menjadi topik hangat di seluruh dunia sepanjang pekan lalu. Ancaman akan pecahnya perang mata uang ini menjadi semakin serius karena para pemimpin keuangan dunia termasuk didalamnya Bank Dunia dan IMF – dalam pertemuannya di Washington akhir pekan lalu – gagal mengatasi pertikaian dalam masalah daya beli uang kertas ini. Apa maknanya ini bagi kita ?.

Seperti ‘perang’ antar geng atau kelompok masyarakat yang akhir-akhir ini banyak terjadi di tanah air, ‘perang’ mata uang antar negara adalah perang yang sia-sia.  Ada pepatah jawa yang pas untuk menggambarkan situasi ini yaitu Menang Ora Kondang, Kalah Ngisin- Ngisini ( menang tidak menjadikan terkenal, bila kalah memalukan).

Mengapa demikian ?, mari kita lihat contoh kasusnya yang konkrit pada pertempuran yang sedang terjadi antara Amerika dan China. Amerika terus berusaha menekan China agar secepatnya menaikkan nilai tukar mata uang mereka, karena para produsen di Amerika menuduh nilai tukar Yuan terlalu rendah sampai 40 % dari nilai yang seharusnya.

Akibat nilai tukar Yuan yang begitu rendah, barang-barang yang dihasilkan di China menjadi sangat competitive dibandingkan barang-barang yang diproduksi oleh negara lain – termasuk Amerika. Akibat produknya tidak bisa bersaing dengan barang-barang dari China, maka di Amerika jutaan lapangan kerja di sektor manufactur menghilang dan menjadikan negeri yang seharusnya makmur itu kini juga bergelimang dengan pengangguran.

Kekalahan ini tentu ngisin-ngisini bagi pemerintah Amerika sekarang – karena pemerintahan Obama ternyata juga tidak bisa menciptakan lapangan kerja baru atau bahkan tidak bisa pula sekedar mempertahankan lapangan kerja yang semula ada.

Lantas China yang lagi memenangi pertempuran tahap ini - belum tentu bisa memenangi perang  mata uang ini nantinya. Kemengan China bahkan tidak membuatnya kondang di mata rakyatnya sendiri. Mata uang mereka yang rendah daya belinya – membuat jerih payah rakyat yang mayoritasnya adalah masyarakat pekerja tidak dihargai yang seharusnya. Apa artinya kenaikan penghasilan 5 %  – 10 %, bila ternyata uang mereka 40% lebih rendah dari yang seharusnya ?.

Di mata masyarakat dunia-pun jelas China tidak kondang,  selain dibenci (terutama oleh Amerika, Jepang dan negara-negara pesaing utamanya) , bila kondisi ini berlangsung terus – daya beli masyarakat di negara tujuan ekspor akan terus menurun hingga tidak mampu lagi membeli produk-produk China yang murah sekalipun. Bila ini terjadi, maka industri di China juga akan lumpuh karena tidak lagi bisa mengandalkan pasar ekspor yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian mereka.

Perang mata uang ini akan berakhir sia-sia, seperti akhir perang Barata Yudha – tidak jelas lagi siapa pemenang dan siapa pecundang-nya.  Keduanya ludes bergelimang dengan korban perang  ( pengangguran) dan kehancuran ekonomi.

Lantas apa yang bisa kita lakukan agar tidak terlibat dalam perang yang sia-sia ini dan juga tidak menjadi korbannya ?. Ada dua tingkatan yang seharusnya bisa kita lakukan yaitu di tingkat pemerintah dan di tingkat masyarakat itu sendiri.

Di tingkat pemerintah, agar tidak terlalu fokus menghabiskan energi ikut bermain di daya beli mata uang. Sebaliknya pemerintah hendaknya fokus pada daya saing industri secara riil. Mumpung negara-negara lain sibuk dengan mata uangnya, kita sibuk mendandani kendala-kendala di infrastruktur industri dan segala macam peraturan yang membuat Indonesia terpuruk ke ranking 122 dalam tingkat kemudahan berusaha.

Di tingkat masyarakat, agar memperbanyak atau meningkatkan kemampuan untuk menciptakan lapangan kerja buat minimal dirinya sendiri – syukur-syukur bisa menciptakan lapangan kerja bagi orang lain. Kemampuan ini menjadi semakin penting karena ‘pasca perang Barata Yudha’ akan banyak sekali korbannya, yaitu pabrik-pabrik yang tutup, perusahaan yang bangkrut dan pengangguran yang semakin meraja lela.

Manfaat kedua dari tumbuhnya entrepreneurship masyarakat adalah berubahnya asset tabungan masyarakat dari yang semula bersifat finansial (tabungan, deposito, dana pensiun, asuransi dlsb.), menjadi asset riil berupa barang dagangan, stok bahan baku, stok produk dan berbagai asset produktif lainnya – yang insyaAllah akan lebih mampu bertahan (nilainya) dibandingkan dengan asset finansial.

Sekali lagi, insyaAllah kita bisa menghindarkan diri dari perang yang tidak mebuat kita kondang atau malah ngisin-ngisini ini. Wa Allahu A’lam.
Ini Bukan Perang Kita, Mengapa Kita Harus Jadi Korban...? PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Kamis, 07 October 2010 07:24
Dari sejarah kita tahu, yang berperan men-trigger Perang Dunia II (PD II) adalah serangan kolosal 353 pesawat-pesawat tempur Jepang ke pangkalan angkatan laut Amerika di Pearl Harbor, Hawaii pagi hari 7 Desember 1941. Setelah serangan ini, esuk harinya Amerika secara resmi mengumumkan perang terhadap Jepang yang kemudian menjadi awal dari rangkaian PD II. Bisa jadi Jepang juga akan men-trigger ‘Perang Dunia III’ lagi,  tetapi kali ini tidak dengan serangan militer, tetapi dengan intervensi finansial.

Gejala-gejala ‘perang’ di dunia financial ini pernah saya ingatkan melalui tulisan tanggal 24 Agustus 2010, saat itu harga emas dunia masih berada di angka US$ 1,226/Oz. Kini tidak sampai enam minggu kemudian harga emas berada di kisaran US$ 1,348/Oz  atau naik hampir 10%. Harga ini berkemungkinan terus naik karena ‘perang’ baru saja dimulai.

Adalah Jepang yang memulainya secara terbuka melalui menteri keuangannya Yoshihiko Noda yang baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka akan melakukan decisive steps termasuk intervention bila perlu terhadap foreign exchange market. Karena intervensi ini tidak dilakukan Jepang dalam enam tahun terakhir, maka tidak heran bank-bank central lainnya tentu mulai pasang kuda-kuda terhadap deklarasi terbuka dari Jepang ini.

Diantara negara-negara yang akan terkena ‘serangan’ Jepang ini langsung maupun tidak langsung, ada yang meresponsenya dengan diam-diam seperti yang dilakukan Swiss Nation Bank dengan membeli milyaran Euro agar nilai tukar Swiss Franc terhadap Euro rendah – agar ekonominya tetap kompetitif. Ada pula yang mulai mengangkatnya menjadi issue serius dan provokasi terbuka seperti yang dilakukan China dan Amerika.

Apa dampak dari perang terbuka di dunia financial ini bagi kehidupan (ekonomi) kita ?. Saat ini pasar uang dunia nilainya sekitar US$ 4 trilyun per hari , sedangkan nilai kapialisasi stock market di seluruh dunia totalnya sekitar US$ 36 trilyun. Artinya bila seluruh nilai saham yang diperdagangkan di dunia dikumpulkan jadi satu, ini hanya setara dengan 9 hari perdagangan di pasar uang.

Nah sekarang pasar uang yang juga merupakan pasar terbesar di dunia tersebut rame-rame di intervensi oleh berbagai kekuatan besar yaitu bank-bank central masing-masing negara dengan saling menurunkan daya beli uangnya agar lebih competitive ekonominya satu sama lain,  maka bisa dibayangkan dampak kerusakan yang bisa ditimbulkannya.

Dalam skala sangat mikro saja, persaingan antar tukang cukur yang pernah saya tulis dalam tulisan saya hampir setahun lalu berakibat konyol pada para pelakunya – apa jadinya bila hal ini dilakukan oleh para pengelola mata uang fiat dunia.

Namun kekonyolan ini tidak akan nampak bila kacamata yang kita gunakan adalah sesama uang fiat. Ketika uang fiat-uang fiat tersebut tenggelam bersama – maka hanya kacamata emas/Dinar yang bisa melihat bahwa uang fiat sedang tenggelam.  Hari-hari ini misalnya kita melihat harga emas melejit dan sempat diperdagangkan diatas US$ 1,350/Oz semalam, tetapi sejatinya bila dilihat dengan timbangan emas - bukan harga emas-nya yang naik – tetapi mata uang US$ (dan juga mata uang fiat lainnya) yang sedang tenggelam.

Bersamaan dengan tenggelamnya daya beli uang fiat, seluruh asset kita yang dinilai dalam denominasi mata uang fiat ikut pula tenggelam. Asset-asset  ini (baik dalam US$ , Rupiah maupun mata uang kertas lainnya) bisa berupa dana pensiun, nilai asuransi, nilai saham, deposito, reksadana, tabungan dan berbagai asset lain yang tidak bersifat intrinsik.

‘PD III’ di dunia finansial tersebut akan menghancurkan asset finansial kita semua, tetapi insyaAllah tidak akan menyentuh asset-asset fisik seperti rumah, tanah, kebun, ternak, pabrik dlsb. dan tentu juga tidak menyentuh emas/Dinar dan perak/Dirham Anda.

Lantas bagaimana agar kita tidak menjadi korban ‘PD III’ tersebut diatas ?, pertahankan seminimum mungkin asset yang bersifat finansial semata – sebatas seperlunya, selebihnya amankan dalam bentuk asset atau investasi sektor riil yang nilainya ditentukan oleh intrinsik-nya, asset yang nilainya tidak bisa menjadi target dalam peperangan finansial yang nampaknya telah dimulai.

Kita tidak perlu terlibat dalam perang global di dunia finansial ini, dan tentu saja kita tidak mau menjadi korbannya. InsyaAllah.