Contact

Rizky maulana / Sofi Pujiastuti

telp 08112240196 / 081320140019

email Rizfajzan @ gmail

twitter follow@AlfabbyRizky

Pasar Soreang Blok I & II E ( Hj Wewen ) Soreang Bandung

No Rek 13000 - 1122 - 4030 Bank mandiri Cab Soreang - Bandung

Hari kerja Senin - Jum'at ( kecuali hari Libur Nasional)

Jam kerja 08.00 - 16.00 WIB

Rabu, 19 Januari 2011

Forecast Harga Emas Dunia 2011-2012 Oleh Credit Suisse...

Forecast Harga Emas Dunia 2011-2012 Oleh Credit Suisse... PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Selasa, 18 January 2011 06:59
Dalam tulisan saya akhir Desember 2011 lalu dengan judul Estimasi Konservatif Harga Emas/Dinar 2011, saya membuat prakiraan  harga emas akan berada di kisaran US$ 1,500/oz sampai US$ 1,600/oz pada akhir 2011 nanti.  Belakangan saya tahu bahwa kurang lebih pada waktu yang bersamaan ada lembaga keuangan global – Credit Suisse – yang membuat prakiraan harga emas akhir 2011 dekat sekali dengan prakiraan konservatif saya tersebut. Dalam laporannya akhir tahun lalu, Credit Suisse membuat forecast harga emas dunia akhir 2011 berada di angka US$ 1,580/oz dengan average sepanjang tahun 2011 ini di kisaran angka US$ 1,490/oz atau akan mengalami kenaikan sekitar 21 % dari average 2010 yang berada di angka US$ 1,225/oz.

Lebih jauh lagi Credit Suisse juga membuat forecast untuk rata-rata tahun depan 2012 yang menurut mereka akan berada di kisaran angka US$ 1,720/oz atau mengalami kenaikan sekitar 20% lagi dari posisi rata-rata tahun 2011 ini. Sebagai lembaga keuangan global yang sering menjadi rujukan,  tentu mereka punya dasar yang kuat untuk estimasinya tersebut.  Berikut adalah dasar-dasar dari forecast mereka :

·      Kekawatiran dunia akan penurunan daya beli uang kertas (currency debasement) atau inflasi yang telah melambungkan harga emas dunia sepanjang 2010 tetap akan berlanjut di tahun 2011. Kondisi  ini bahkan akan dianggap ‘normal’ dan berlanjut setidaknya sampai tahun berikutnya.
·      Bank-bank sentral dunia menjadi net buyer emas karena ditengah ketidak pastian ekonomi global, emas akan menjadi reserve asset yang memiliki kredibilitas paling kuat.
·      Satu-satunya institusi global yang menjual emas hanyalah IMF, namun rencana penjualan mereka sebesar 403.3 ton telah semuanya di realisir sampai akhir 2010 lalu.
·      Supply emas baru dari hasil tambang tidak banyak diharapkan bisa meningkat. Kondisi ini juga akan terus berlanjut paling tidak sampai beberapa tahun mendatang.
·      Permintaan emas untuk investasi swasta juga terus meningkat baik di belahan bumi barat maupun di timur khususnya India dan China.
 Gold Forecast
Walhasil dengan adanya lima faktor tersebut diataslah Credit Suisse beranggapan akan ada dorongan yang sangat kuat untuk naiknya harga emas dunia di tahun 2011 ini dan setidaknya berlanjut sampai tahun depan 2012.

Namun perlu diingat bahwa namanya juga forecast, meskipun yang membuat lembaga yang sangat competent sekalipun tetap saja bisa salah.  Kemungkinan salah ini menjadi semakin besar manakala – ada kejadian yang berada diluar parameter dari dasar prakiraan tersebut.  Wa Allahu A’lam.

Selasa, 11 Januari 2011

6 Irreversible Trends : Harga Emas di Era Doomy Gloomy-nya US$...PDFPrintE-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Senin, 10 January 2011 08:52
Bagi para pembaca yang sempat lemas dengan turunnya harga emas dan Dinar secara drastis sepanjang pekan lalu, tulisan ini barangkali bisa menjadi pengobatnya disamping tulisan saya sebelumnya yang berjudul “Bijak berinvestasi : Memahami Time Horizon Harga Emas...”. Tulisan ini saya sarikan dari ceramahnya Nick Barisheff - CEO and president of Bullion Management Group Inc.- pada acara seminar Investment Outlook 2011di Montreal – Canada Jum’at pekan lalu. Menurut Nick ini ada setidaknya enam trend yang akan mendorong harga emas ke atas tahun 2011 dan tahun-tahun berikutnya.

Trend-trend yang oleh Nick dkategorikan sebagai Irreversible – yang tidak berubah atau tidak berbalik arah –  paling tidak sejauh mata dia memandang ini,  adalah sebagai berikut :

1) Central Bank Buying

Pendorong harga emas tahun 2010 antara lain adalah membengkaknya belanja emas yang dilakukan oleh beberapa bank central besar seperti Rusia, China dan India. Cadangan emas Rusia di kwartal ke 3 tahun 2010 saja naik 7 % menjadi 756 ton. China mengimpor hampir 210 ton emas di bulan Desember  2010, sedangkan India pembelian emas oleh bank central-nya plus pembelian swasta  di duga mencapai 750 ton sepanjang tahun lalu.

Trend ini akan terus ada di tahun 2011 dan bahkan tahun-tahun sesudahnya karena untuk membuat cadangan emas Rusia dan China mendekati rata-rata negeri barat saja, Rusia membutuhkan tambahan cadangan sekitar 1,000 ton sedangkan China masih membutuhkan tambahan sekitar  3,000 ton lagi. Demand emas akan terus tinggi , sementara supply relatif tidak banyak perubahan.

2) Movement Away From US$

Tahun 2009, China , Rusia dan Perancis diduga secara diam-diam telah mulai meninggalkan US$ untuk perdagangan minyaknya dengan negeri-negeri Arab.  Tahun 2010 lalu, secara resmi Rusia dan China mengakui bahwa mereka tidak lagi menggunakan US$ untuk perdagangan bilateral antar kedua negara – tidak terbatas pada perdagangan minyak saja.

Ini memberikan sinyal kuat ke seluruh dunia bahwa untuk perdagangan antar negara, penggunaan US$ tidak lagi menjadi suatu keharusan. Bila International Demand terhadap US$ menurun – sementara US$ supply terus digenjot melalui Quantitative Easing – maka jelas harga barang-barang dalam US$ akan melonjak karena daya beli US$ yang turun.

3) China

Di China bukan hanya pemerintah melalui bank central-mya yang getol menaikkan cadangan emasnya. Rakyatnya-pun di dorong dan dipermudah oleh pemerintahnya untuk membeli emas. Dengan penduduk yang mencapai lebih dari 1.3 milyar jiwa dan dengan tingkat penghasilan yang terus meningkat, maka demand emas dari China akan terus mengkatrol harga emas ke atas.

4) The Aging Population in US

Baby boomers” yaitu ledakan penduduk yang lahir di Amerika paska Perang Dunia II tahun 1946 s/d 1963 berangsur-angsur memasuki usia pensiun. Amerika sedang menghadapi meningkatnya jumlah penduduk yang pensiun ini. Sedangkan jumlah tenaga kerja paskababy boomers ini cenderung menciut jumlahnya. 

Artinya adalah akan semakin banyak jumlah orang pensiun – yang memerlukan dukungan dana pemerintah untuk mendanainya – sementara kontributor terhadap pendapatannnya dari pajak perorangan akan cenderung menurun karena jumlah pekerja yang semakin sedikit. Untuk membiayai para pensiunan yang lebih banyak ini pemerintah tidak ada cara lain kecuali ‘mencetak uang dari awang-awang’. Unfunded liability pemerintah yang terus membengkak dibarengi dengan pencetakan uang secara besar-besaran – pasti berdampak pada penurunan daya beli US$ yang terus menerus.

Menurut catatan Nick Barisheff ini, lima mata uang terbesar dunia termasuk US$ telah kehilangan 70%-80 % daya belinya terhadap emas selama 10 tahun terakhir. Emas sejatinya bukan terus naik harganya, tetapi mata uang yang dipakai membelinya-lah yang terus menyusut daya belinya.

5) Outsourcing

Industri besar Amerika yang beberapa diantaranya sekarang masih menguasai dunia seperti komputer , notebook, handphone misalnya, mereka memilih memproduksi barangnya dengan cara meng-outsource-kan produksinya ke negara lain yang lebih murahcost of production-nya. Dampaknya negeri itu akan terus kehilangan banyak lapangan kerja.

Dampak berikutnya ketika orang tidak bekerja adalah mereka juga mengurangi konsumsi barang dan jasa. Jadi system outsourcing yang kini semakin popular di Amerika dan bukan hanya pada bidang manufacturing tetapi juga melanda bidang-bidang jasa spertiaccounting services, administration, data entry, call centre dlsb. akan secara berlipat ganda berdampak pada GDP negeri itu.

Ketika GDP tidak lagi tumbuh atau bahkan turun, maka tumpukan hutang negeri itu akan semakin menggunung dan uangnya akan semakin berkurang daya belinya.

6) Peak Oil

Yang dimaksud dengan Peak Oil adalah tingkat produksi minyak yang telah mencapai puncaknya dan akan menurun setelah itu. Peak Oil ini sudah terjadi di beberapa sentra produksi minyak dunia seperti  AS ,  Alaska dan North Sea. Sentra-sentra produksi lainnya akan segera mrenyusul.

Meksiko misalnya yang sekarang menjadi salah satu supplier terbesar minyak Amerika, beberapa tahun mendatang tidak akan lagi bisa mengekspor minyaknya. Sebaliknya mereka malah akan butuh impor minyak untuk menopang ekonominya sendiri. (Ini mirip Indonesia yang  sudah lebih dahulu menjadi net importer untuk minyak, meskipun untuk energi secara keseluruhan - termasuk didalamnya gas dan panas bumi - Indonesia masih net eksporter).

Walhasil secara keseluruhan dari 6 trend hasil  pengamatan dan analisa yang dilakukan oleh pelaku ekonomi barat sendiri seperti Nick Barisheff ini, kita bisa simpulkan bahwa masa depan Amerika dengan US$-nya sedang memasuki era doomy gloomy  - era masa depan suram menyerupai kiamat – sepertinya there is no tomorrow for US$ !. Menjelang ajalnya US$ tetap ada dan tetap bisa untuk membeli barang dan jasa, tetapi apapun yang dibeli dengan US$ akan terus melonjak harganya – termasuk tentu saja emas. Wa Allahu A’lam.

Bijak Berinvestasi : Memahami Time Horizon Harga Emas ...

Bijak Berinvestasi : Memahami Time Horizon Harga Emas ...PDFPrintE-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Jum'at, 07 January 2011 08:04
Hari-hari ini harga emas lagi rendah, harga internasionalnya dalam US$ berada di kisaran US$ 1,371/Oz atau mengalami penurunan sekitar 3.5% dalam perdagangan sepekan terakhir dibandingkan dengan penutupan akhir tahun 2010 pekan lalu yang berada di kisaran US$ 1,421/Oz.  Hal ini bisa menyakitkan bagi yang mulai terjun di emas ini pada periode harga tinggi sampai akhir tahun lalu. Itulah sebabnya di situs ini selalu kami sajikan trend jangka pendek sampai jangka panjang,  mulai dari 24 jam (sehari semalam), sepekan, sebulan, setahun sampai 10 tahun.

Maksud dari grafik-grafik tersebut adalah agar pengguna Dinar dapat melihat kinerja nya dalam time horizon yang bervariasi. Grafik harian sampai grafik tahunan bersifat dinamis – real time ; sedangkan grafik 10 tahunan-an diambil rata-rata tahunan untuk masing-masing tahun – inipun bergerak dinamis karena tahun terakhir (pasti belum genap setahun) angkanya akan terus berubah.

Apa pentingnya memahami time horizon ini kaitannya dengan keputusan Anda untuk memasukkan emas dalam portfolio investasi Anda ?. Berikut penjelasannya :

Bila uang yang Anda investasikan tersebut akan diperlukan kurang dari setahun lagi, maka investasi emas akan cukup berisiko rugi . Grafik pertama berikut adalah contohnya.
 
Contoh Trend Setahun...
Contoh Trend Setahun...
Peluang rugi ini akan menjadi lebih besar lagi kalau uang tersebut lebih cepat lagi akan digunakan – misalnya 6 bulan seperti dalam contoh grafik kedua di bawah.

Enam Bulan
Contoh Trend 6 Bulan...
Fungsi investasi dan proteksi nilai atas tabungan emas yang merupakan hasil jerih payah Anda, baru akan terasa efektifitasnya – dan kecil kemungkinannya untuk rugi - bila time horizon Anda relatif panjang misalnya 3 tahun seperti dalam contoh grafik ketiga dibawah.

Tiga Tahun
Contoh Trend 3 tahun...
 
Emas benar-benar terbukti ampuh dalam memberikan proteksi nilai – sekaligus juga investasi yang sangat menarik bila time horizon Anda benar-benar panjang – misalnya 10 tahun seperti pada contoh grafik ke 4 dibawah.

Sepuluh Tahun
Contoh Trend 10 Tahun...
 
Jadi dari gerakan harga emas 10 tahun terakhir yang saya sajikan dalam empat grafik tersebut diatas, emas atau Dinar akan cocok untuk instrumen investasi dan proteksi nilai yang terkait dengan biaya sekolah anak-anak sampai lulus perguruan tinggi , biaya pergi haji yang kini antriannya semakin panjang, biaya pemeliharaan kesehatan di hari tua, perencanaa pensiun dan kebutuhan lain yang bersifat jangka panjang.

Sebaliknya emas atau Dinar tidak kita rekomendasikan untuk spekulasi jangka pendek yang time horizon-nya kurang dari 12 bulan.

Sabtu, 01 Januari 2011

Harga Emas/Dinar : 2010 Review & 2011 Outlook

Harga Emas/Dinar : 2010 Review & 2011 Outlook PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Sabtu, 01 January 2011 09:04
2010 baru saja berlalu dan kini kita melangkah ke 2011. Bagi yang mempersepsikan emas atau Dinar sebagai investasi, 2010 adalah tahun yang menggembirakan karena emas atau Dinar mengalami appresiasi nilai sekitar 23 % dalam Rupiah atau sekitar 3.5 kali hasil deposito atau tabungan. Akhir tahun 2009 lalu harga Dinar ditutup di angka Rp 1,444,040  sedangkan akhir tahun 2010 Dinar ditutup pada harga Rp 1,777,760,-. Dalam US$ kenaikan ini lebih menyolok lagi karena harga emas Dunia akhir 2009 adalah US$ 1,087.50 sedangkan akhir 2010 harga emas ini ditutup pada angka US$ 1,421.60 atau mengalami peningkatan sekitar 30%.

Diantara penyebab kenaikan harga emas dunia tersebut yang bersifat sangat fundamental adalah apa yang dilakukan oleh bank central-nya Amerika atau the Fed, dengan perilaku kontroversialnya dalam mencetak uang dari awang-awang atau yang disebut quantitative easing. Kenaikan harga emas 2010 masih terkait langsung dengan dampak quantitative easing 1 yang dilakukan Amerika sejak November 2008. Saat itu mereka mulai ‘mencetak uang’ US$ 600 milyar untuk membeli apa yang disebut Mortgage-Backed Securities (MBS) dan berbagai bentuk surat hutang lainnya, namun karena kompleksitas problem negeri itu angka ini menggelembung sampai US$ 2.1 trilyun pertengahan tahun 2010.

Angka yang US$ 2.1 trilyun tersebut seharusnya menurun bila ekonomi negeri itu berhasil dipulihkan, namun kenyataannya kemudian di bulan November 2010 the Fed-nya negeri itu mengumumkan lagi akan dilakukannya quantitative easing 2  yang akan diimplementasikan hingga pertengahan 2011. Belajar dari quantitative easing 1 yang dampaknya terhadap kenaikan harga emas berlanjut sampai 2 tahun kemudian, maka dampak dari implementasi quantitative easing 2 juga sangat mungkin akan mendongkrak harga emas di tahun 2011 atau bahkan sampai 2012 nanti.

Jadi penyebab utama yang menjadikan harga emas melonjak sampai 30% dalam US$ tahun 2010, juga masih ada disana di tahun 2011. Apakah dampaknya akan sekuat quantitative easing 1 ?, waktu nanti yang akan menjawabnya. Namun ketika quantitative easing 1 diputuskan November 2008, tahun berikutnya (2009) harga emas dalam US$ naik 25%, dan tahun berikutnya lagi (2010) naik hingga 30%. Itulah sebabnya ketika saya membuat Estimasi Konservatif Harga Emas/Dinar 2011 dengan menggunakan statitstik 10 tahun dan 40 tahun, saya beri catatan khusus bahwa estimasi tersebut tidak memasukkan dampak dari quantitative easing 2 tersebut diatas.

Jadi kalau di estimasi konservatif harga emas di akhir tahun 2011 ini saya prediksikan di kisaran US$ 1,500/Oz s/d US$ 1,600,-/Oz, maka estimasi optimis-nya bila kita belajar dari dampak quantitative easing 1,  harga emas bisa saja mencapai US$ 1,780/Oz di tahun 2011 dan US$ 2,300/Oz di tahun 2012.

Lantas bagaimana dengan harga emas atau Dinar dalam Rupiah ?. Kenaikan harga emas atau Dinar dalam Rupiah tahun 2010 yang tidak setinggi kenaikanya dalam US$ adalah karena factor penguatan Rupiah terhadap US$.  Bila kurs rata-rata bulanan Desember 2009 adalah Rp 9,454/US$ , Desember 2010 ini rata-ratanya adalah Rp 9,024/US$ atau mengalami penguatan 4.5%.

Penguatan yang sama tidak bisa kita harapkan untuk tahun 2011 ini karena akan menurunkan daya saing ekspor kita, sebaliknya kecenderungan melemah ke kisaran angka tahun sebelumnya (2009) atau di angka Rp 9,400-an lebih memungkinkan bila negeri ini ingin terus menjaga surplus di neraca perdagangannya.

Maka bila faktor quantitative easing 2 dan sedikit pelemahan Rupiah ini yang kita gabungkan untuk membuat estimasi optimis harga emas atau Dinar dalam Rupiah,  harga emas dalam Rupiah akan mencapai kisaran Rp 540,000/gram di tahun 2011 dan Rp 700,000/gram di tahun 2012. Dengan asumsi yang sama maka Dinar akan berada di kisaran Rp 2,300,000,- tahun 2011 dan Rp 3,000,000 tahun 2012.

Sebagaimana yang sering saya ungkapkan di situs ini, tidak ada seorang-pun yang bisa tahu apa yang akan terjadi. Jadi estimasi saya baik yang konservatif maupun yang optimistis bisa saja keduanya salah. Wa Allahu A’lam.

Jumat, 31 Desember 2010

Pilihan Investasi 2011 : Pilih Yang Bukan Buih…

Pilihan Investasi 2011 : Pilih Yang Bukan Buih…PDFPrintE-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Rabu, 29 December 2010 12:45
Bagi Anda yang punya kelebihan uang dan masih bingung mau ditaruh dimana, Ada kabar baik untuk Anda karena bisa jadi petunjuk itu sudah ada di sekitar Anda. Salah satunya adalah  dari surat Ar Ra’d ayat 17 yang berbunyi : “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpaman”.

Masih belum bisa menangkap ?,  coba perhatikan salah satu kata kuncinya “…adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi…”. Jadi bila Anda invest pada sesuatu yang bermanfaat bagi manusia, maka ia akan tetap exist dan insyaAllah tidak akan merugi. Dalam ayat diatas disebutkan yang bermanfaat itu adalah benda riilnya seperti air dan logam, yang tidak bermanfaat adalah benda turunannya – yang adanya hanya sementara yaitu buih.

Untuk lebih detilnya saya beri contoh sebagai berikut.  Anda bisa investasi jagung dengan membeli atau menyewa tanah kemudian menanaminya dengan jagung.  Bila Anda tidak memiliki skills, maka bisa saja Anda mencari mitra yang tahu betul bagaimana bertanam jagung – kemudian pada saat panen hasilnya dibagi antara Anda dengan mitra Anda. Anda bisa rugi bila panenan gagal, dan tentu juga bisa untung bila panenan berhasil.

Ada cara lain lagi menanam jagung, yaitu membeli saham dari perusahaan  publik perkebunan yang bisnisnya menanam jagung. Bila uang yang Anda investasikan tersebut benar-benar untuk menanam jagung, dan bagi hasil yang diberikan ke Anda juga dari hasil panenan jagung. Maka ini insyaAllah masih juga termasuk investasi sektor riil- meskipun tidak langsung.

Tetapi bila untung rugi Anda tidak ditentukan lagi oleh berhasil tidaknya panenan jagung, tetapi oleh fluktuasi harga saham yang tidak terkait langsung dengan  kinerja penanaman jagung – maka inilah yang termasuk buih-buih dalam investasi itu. Kita tahu bahwa dalam bursa saham secara global, naik turunnya harga atau untung ruginya investasi Anda di pasar saham lebih banyak didorong oleh buih-buih ini ketimbang kinerja riil perusahaan. Mana yang lebih menguntungkan dalam jangka panjang ?, tentu investasi benda riil yang langsung bermanfaat bagi umat manusia, ketimbang buih-buihnya.

Untuk gambaran konkritnya perhatikan grafik dibawah.  Buih-buih investasi saya ambilkan dari dua Index yang paling top di dunia yaitu Dow Jones Industrial Average (DJIA) dan S & P 500. Untuk mewakili investasi benda riil saya ambilkan pada harga jagung, gandum dan emas. Karena lima item yang saya bandingkan ini memiliki satuan yang berbeda-beda; maka saya index-kan lagi dengan menyamakan start-nya Januari 2006 pada angka 100. Perhatikan hasilnya setelah 5 tahun !.

Buih-buih Investasi
Source : Barchart.com

Bila Anda memiliki uang Rp 5 juta dan di sebar ke 5 item investasi tersebut @ Rp 1 juta di awal 2006; maka uang Anda yang di perusahaan-perusahaan S & P 500 tidak memberikan hasil apa –apa setelah 5 tahun atau uang Anda tetap Rp 1 juta. Uang Anda yang ditaruh di rata-rata perusahaan dalam Dow Jones Index akan memberikan hasil sekitar 7% atau Rp 70,000,-.

Yang Anda investasikan di Jagung memberikan hasil 200% atau Rp 2,000,000,-. Yang di gandum memberikan hasil 134% atau Rp 1,340,000 dan yang di emas memberikan hasil Rp 177 % atau Rp 1,770,000,-. Semuanya dalam waktu periode yang sama 5 tahun.

Maka dengan petunjuk Al-Qur’an dan bukti langsung di lapangan tersebut, memilih investasi Anda tahun 2011 insyaAllah akan jauh lebih mudah. Tinggal dipilah dan dipilih, mana yang buih dan mana yang bukan – tinggalkan yang buih dan ambil yang riil. Wa Allahu A’lam.

enambal Ember Bocor : Cara Mengalahkan Inflasi...

Menambal Ember Bocor : Cara Mengalahkan Inflasi...PDFPrintE-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Selasa, 28 December 2010 07:13
Dalam tulisan saya tanggal 16 Desember 2010 lalu saya menjelaskan bahwa inflasi itu seperti ember bocor untuk mengangkut air,  seberapa keras-pun kita bekerja – hasilnya tidak akan optimal karena tabungan  kita terus tergerus oleh inflasi. Bila Anda punya uang banyak dan ditaruh di Deposito, hasil bersihnya setelah pajak hari-hari ini akan berada di kisaran 5 % per tahun. Bila di tabungan biasa, hasil bersihnya akan lebih rendah lagi yaitu di kisaran 3 % per tahun. Apalah artinya hasil yang 5% atau bahkan 3 % ini bila dibandingkan dengan inflasi rata-rata year on year (yoy) delapan tahun terakhir sejak Januari 2003 berada di kisaran 8% per tahun?.

Mau ditaruh di deposito dalam mata uang asing seperti US$ ?, lebih buruk lagi hasilnya. Hari-hari ini deposito US$ hanya akan memberikan hasil di kisaran 0.30% per tahun sementara tingkat inflasi rata-rata US$ adalah di kisaran 4% per tahun. Walhasil dimanapun uang Anda ditaruh, asal masih berupa uang kertas – akan tetap tergerus oleh inflasi – Anda tetap membawa air dalam ember yang bocor !.

Lantas apa yang Anda bisa lakukan, agar jerih payah Anda tetap bernilai ketika kelak dibutuhkan untuk biaya sekolah anak-anak, membayar biaya kesehatan di hari tua, agar di usia pensiun Anda tetap perkasa dari sisi financial ?.

Pertama ember yang bocor tersebut harus ditambal dahulu !, dengan apa ?, yang jelas sudah terbukti mudah dikelola dan available adalah mengamankan hasil jerih payah Andasecukupnya (agar tidak menimbun) dalam bentuk emas atau Dinar. Perhatikan grafik dibawah yang menggambarkan perbandingan appresiasi harga emas (yoy) dengan inflasi (yoy) selama 8 tahun terakhir sejak Januari 2003. Data Inflasi saya ambilkan dari datanya Bank Indonesia, harga emas saya ambilkan dari datanya Kitco, sedangkan konversinya ke Rupiah saya gunakan data dari Pacific Exchange Rate Services.

Emas vs Inflasi
Source : BI, Kitco, Pacific Exchange Services

Dari grafik diatas Anda bisa lihat, appresiasi harga emas hampir selalu bisa melampaui inflasi dengan tingkat perbedaan yang cukup tinggi. Bila ditarik angka rata-ratanya selama 8 tahun terakhir, rata-rata appresiasi harga emas dalam Rupiah berada di kisaran 19 % per tahun , sedangkan rata-rata inflasi berada di kisaran 8 % per tahun. Jadi grafik tersebut diatas menunjukkan bahwa emas atau Dinar dengan mudah dapat Anda gunakan untuk menambal ember bocor yang namanya inflasi.

Kedua setelah ember Anda tidak lagi bocor, kini saatnya Anda dapat bekerja keras tanpa perlu kawatir hasilnya akan tergerus oleh inflasi. Bila diamnya emas atau Dinar saja dengan mudah akan mampu mengalahkan inflasi, tentu hasilnya akan lebih baik lagi dan lebih bermanfaat untuk umat yang luas bila emas atau Dinar tersebut digunakan untuk memutar sektor riil atau untuk berusaha.

Itulah sebabnya, kampanye penggunaan Dinar di situs ini tidak hanya berhenti pada sekedar menggunakan Dinar untuk proteksi nilai, tetapi lebih dari itu kita juga mendorong untuk lahirnya usaha-usaha sektor riil yang insyaAllah akan memberi manfaat yang lebih luas. Bahkan insyaallah kedepannya, bersamaan dengan sudah memasyarakatnya Dinar – kampanye untuk mendorong lahirnya berbagai usaha sektor riil ini akan lebih banyak kami tekankan. InsyaAllah.

Enstimasi Konservatif Harga Emas/Dinar 2011…

Enstimasi Konservatif Harga Emas/Dinar 2011…PDFPrintE-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Jum'at, 24 December 2010 14:53
Menjelang akhir tahun seperti ini pertanyaan yang paling banyak sampai ke saya adalah bagaimana perkiraan harga emas  atau Dinar tahun depan. Jawaban saya tetap sama, tidak ada yang tahu dengan pasti apa yang akan terjadi. Hanya untuk menjawab rasa penasaran para penanya, melalui tulisan ini saya buat prediksi sederhana yang sifatnya sangat konservatif.

Saya menggunakan data harga emas yang dibeli dengan US$ sejak dilepaskannya kaitan US$ terhadap emas yang ditandai oleh kejadian yang disebut Nixon Shock 15 Agustus 1971. Sejak kejadian 40 tahun lalu tersebut, harga emas dalam US$ mengalami kenaikan rata-rata sekitar 8.88% per tahun hingga kini. Maka bila kita gunakan angka rata-rata kenaikan 40 tahun ini, harga emas akhir tahun depan insyaAllah akan berada di kisaran US$ 1,500/Oz. Lihat ujung garis merah pada grafik di bawah.

Emas 2011
Estimasi Konservatif Harga Emas 2011
 
Namun karena ada kecenderungan percepatan penurunan daya beli US$ selama sepuluh tahun terakhir, khususnya lagi sejak krisis akhir 2008 – maka apabila diambil angka rata-rata 10 tahun terakhir saja – kenaikan harga emas dunia dalam US$ adalah 16.3% per tahun. Berdasarkan kenaikan rata-rata pertahun selama 10 tahunan tersebut, maka harga emas setahun kedepan dapat diprediksi akan berada di kisaran US$ 1,600/Oz. Lihat ujung garis hijau pada grafik di atas.

Jadi prediksi konservatif harga emas dunia tahun depan akan berada di range US$ 1,500/Oz s/d US$ 1,600/Oz. Saya katakan ini prediksi konsevatif karena murni mengandalkan statistik 10 tahun atau bahkan 40 tahun ke belakang – tanpa memperhatikan perubahan lingkungan ekonomi di tahun-tahun terakhir ini. Realitanya nanti bisa saja yang terjadi jauh lebih tinggi dari prediksi konservatif tersebut karena ada factor kejadian luar biasa di ekonomi AS pada tahun 2011 – yaitu realisasi ‘pencetakan  uang dari awang-awang’ atau yang disebutQuantitative Easing 2 – yang sudah diketok palunya awal bulan November lalu.

Dengan asumsi Rupiah juga akan sedikit melemah ke kisaran Rp 9,400/US$ tahun 2011 – karena bila terus perkasa ekspor kita yang akan terganggu – maka harga emas dalam Rupiah estimasi konservatif-nya setahun mendatang akan berada di kisaran Rp 460,000/gram s/d Rp 490,000/gram, atau mengalami kenaikan sekitar 11%-19%  dari harga emas sekarang yang berada di kisaran Rp 410,000/gram. Dengan dasar perhitungan yang sama, maka Dinar setahun kedepan insyaallah akan berada di kisaran harga Rp 1,940,000/Dinar s/d Rp 2,070,000/Dinar.

Dengan dasar perhitungan yang konservatif inipun apresiasi harga emas atau Dinar setahun kedepan masih akan memberikan hasil lebih dari dua kali lipat bila dibandingkan dengan tingkat bagi hasil deposito atau tabungan yang diberikan oleh dunia perbankan.

Namanya juga estimasi, maka saya bisa saja keliru….tetapi setidaknya inilah angka yang bisa saya berikan bagi para penanya agar tidak penasaran. Wa Allahu A’lam.

Senin, 13 Desember 2010

Apa Yang Terjadi Dengan Harga Emas Bila Terjadi Hyperinflasi...?

Apa Yang Terjadi Dengan Harga Emas Bila Terjadi Hyperinflasi...?PDFPrintE-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Minggu, 12 December 2010 14:55
Hyperinflasi terjadi bila otoritas moneter suatu negeri mencetak uang terus menerus tanpa dibarengi dengan pertumbuhan yang proporsional terhadap produksi barang dan jasa. Perilaku demikian tidak hanya terjadi di negara yang tegolong terbelakang seperti Zimbabwe yang harus membuang 12 angka nol dari uang lamanya 2 Februari 2009 lalu karena inflasi tahunan negeri itu mencapai 89.7 sextillion (1021) percent atau 89,700,000,000,000,000,000,000; tetapi bisa terjadi di mana saja – termasuk di negara adikuasa sekalipun.

Hal ini dapat kita tengok dari sejarah abad lalu ketika terjadi inflasi besar-besaran di salah satu negara adikuasa pada jamannya.

Pada akhir 1923 misalnya, pemerintahan Weimar Republic of Germany mengeluarkan uang dengan nominal 100,000,000,000,000 (seratus trilyun) – yang saat itu nilainya kurang lebih hanya setara US$ 25,-. Begitu buruknya inflasi negeri itu, sampai orang yang akan membeli roti harus membawa kereta dorong – bukan untuk membawa rotinya tetapi untuk membawa uangnya.

Pasca Perang Dunia II; inflasi di Hungaria pernah mencapai 41,900,000,000,000,000% (4.19 × 1016% atau 41.9 quadrillion percent), sampai-sampai pada pertengahan 1946 harga barang-barang di negeri itu naik berlipat dua kalinya setiap 13.5 jam. Pekerja yang habis menerima gaji harus berlari cepat-cepat membelanjakan uangnya karena bila tidak uang mereka segera basi – rusak daya belinya.

Apa yang bisa kita tarik dari ketiga kejadian tersebut sesungguhnya ?, bahwa dalam situasi hyperinflasi – uang kertas benar-benar kehilangan maknanya. Lantas apa yang bisa menjadi ukuran atau takaran yang tetap akurat untuk menentukan harga saat itu ?. Apalagi kalau bukan emas atau perak.

Perhatikan grafik dibawah untuk kasus Jerman tersebut diatas yang datanya tersimpan dengan baik. Selama sepuluh tahun sebelum hyperinflasi terjadi sampai puncak hyperinflasi, wholesale price index negeri itu naik sampai 1,000,000,000,000,- atau satu trilyun kali-nya. Tetapi kenaikan harga-harga ini bila diukur dengan emas – hanya ber-fluktuasi stabil di rentang angka 0.6 – 1.6 atau hanya naik turun karena mekanisme pasar  supply & demand semata.

Hyperinflasi 

Fungsi emas dan perak sebagai proteksi nilai yang adil terbukti efektif ketika hyperinflasi yang paling parah sekalipun terjadi. Perhatikan grafik kedua dibawah yang menunjukkan kenaikan harga emas dan perak pada tahun-tahun hyperinflasi di Jerman tersebut diatas.

Hyperinflasi 
Saat ini kita memang tidak hidup di era hyperinflasi, namun dunia seperti tersandera oleh reserve currency global yang benama US$. Siapa yang percaya bahwa perilaku otoritas moneter negeri itu tidak akan membawa bencana financial global – padahal mereka  sudah dua kali dengan cerdiknya mencetak uang dari awang-awang dalam jumlah yang sangat besar – terus diberi nama yang indah quantitative easing ?.

Belajar dari apa yang terjadi di Jerman abad lalu dengan lonjakan harga tersebut, siapa yang bisa menjamin bahwa Ben Bernanke-nya the Fed Amerika tidak akan menjerumuskan warga dunia ke era yang kurang lebih sama ?. Kalau di Amerika sendiri sampai ada National Inflation Association (NIA) yaitu lembaga swadaya masyarakat yang tujuannya adalah menyiapkan warga Amerika untuk siap menghadapi hyperinflasi; lantas kita yang tidak tahu menahu dan sama sekali tidak harus terkait dengan Amerika dan uang Dollar-nya masak mau jadi korbannya begitu saja. Ndak lah yao...!

Selasa, 07 Desember 2010

Kapan Harga Emas Menjadi Terlalu Tinggi Untuk Dibeli...?

Kapan Harga Emas Menjadi Terlalu Tinggi Untuk Dibeli...? PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Selasa, 07 December 2010 07:47
Sekitar dua bulan lalu ketika harga emas dunia mendekati US$ 1,300/Oz yang menurut sebagian orang sudah ketinggian,  saat itu saya membuat tulisan dengan judul Harga Emas Tinggi Tetapi Tidak Ketinggian.  Pagi ini harga emas dunia sudah mencapai US$ 1,424/Oz atau naik sekitar US$ 125/Oz sejak tulisan tersebut saya buat, pertanyaanya adalah apakah kini harga emas tersebut sudah menjadi ketinggian ?. Jawaban saya tetap belum. Lantas bagaimana caranya mengetahui kapan harga emas dunia menjadi terlalu tinggi untuk dibeli ?.
Begini, emas adalah uang hakiki sepanjang zaman. Saat ini uang hakiki tersebut nilainya - secara keliru – ditakar dengan uang fiat yang bisa dengan begitu mudah dicetak atau diketik dari awang-awang. Tetapi bolehlah untuk sementara karena uang fiat yang saat ini digunakan untuk membeli apapun di dunia – termasuk untuk membeli emas – maka untuk keperluan menjawab pertanyaan tersebut diatas saya gunakan uang kertas juga untuk menakar harga emas.
Saya mencoba mencari formula yang lebih baru, namun sejak kejadian Nixon Shock 1971 rupanya tidak ada lagi yang mengembangkan teori hubungan antara uang kertas dengan emas. Maka saya gunakan teori pra 1971 untuk melihat hubungan ini,  saya gunakan apa yang disebut persamaan Breton Woods yaitu  The Value of Money = (Monetary Base : Official Gold Holdings ).
Monetary base adalah uang yang beredar plus reserve. Reserve adalah uang bank yang ada di bank sentral dan uang yang ada di brankas perbankan. Official Gold Holdings adalah cadangan emas yang dimiliki oleh bank sentral.
Nah sekarang kita akan menggunakan formula tersebut untuk menentukan pada tingkat berapa harga emas menjadi terlalu tinggi untuk dibeli dengan uang kertas. Untuk mengaplikasikan teori tersebut saya perlu data Monetary base US Dollars dan cadangan emas yang dimiliki Amerika. Untuk monetary base saya lebih bercaya data dari Shadow Government Statistic seperti pada grafik dibawah. Posisinya saat ini berada di kisaran US$ 2 trilyun.
Monetary Base US$Monetary Base US$
Untuk cadangan emas resmi pemerintah saya ambil dari datanya World Gold Council yang untuk AS saat ini menunjukkan angka 8,133.5 ton atau  261 juta Oz.  Jadi untuk US$ , the value of Money-nya saat ini adalah =  US$ 2 trilyun/261 juta Oz atau 7,663 US$/Oz. Artinya apa angka ini ?.  Bila harga emas tersebut saat ini dapat melampaui angka US$ 7,663/Oz – baru harga emas dunia menjadi terlalu mahal untuk dibeli dengan US$.
Tetapi karena angka ini dinamis, pembilangnya (monetary base) cenderung bertambah sedangkan penyebutnya cenderung tetap (Official Gold Holdings) ; maka angka tersebut diatas akan cenderung naik terus dari waktu ke waktu. Perhatikan grafik dibawah yang dibuat oleh perusahaan asset management terkenal QB Assets management. Dalam sejarah dunia modern, hanya pernah sekali harga emas ini terlalu mahal untuk dibeli dengan uang US$ yaitu pada tahun 1980 (perhatikan grafik biru yang berada dibawah grafik kuning tahun 1980 ).

Shadow Gold PriceShadow Gold Price by QBAM
Dari grafik tersebut diatas kita juga bisa melihat, bahwa sejauh mata kita memandang – kita belum bisa melihat harga emas ini akan ketinggian untuk dibeli dengan US$. Saya kesulitan menyimpulkannya dalam bahasa Indonesia, tetapi ada bahasa jawa yang pas untuk ini yaitu tangeh lamun – untuk menggambarkan sesuatu yang amat sangat kecil peluangnya. Jadi tangeh lamun (sangat-sangat kecil peluangnya) harga emas menjadi terlalu mahal untuk dibeli dengan US$ kapan-pun.
Lantas bagaimana dengan harga emas dalam Rupiah ?, ya sami mawon – lha wong US$ dan Rupiah ini satu guru satu ilmu... Wa Allahu A’lam.