Contact

Rizky maulana / Sofi Pujiastuti

telp 08112240196 / 081320140019

email Rizfajzan @ gmail

twitter follow@AlfabbyRizky

Pasar Soreang Blok I & II E ( Hj Wewen ) Soreang Bandung

No Rek 13000 - 1122 - 4030 Bank mandiri Cab Soreang - Bandung

Hari kerja Senin - Jum'at ( kecuali hari Libur Nasional)

Jam kerja 08.00 - 16.00 WIB

Rabu, 18 Januari 2012

Harga Emas : Dari Mana dan Akan Kemana…?

Harga Emas : Dari Mana dan Akan Kemana…?


Oleh Muhaimin Iqbal

Jum'at, 13 January 2012 06:53

Dalam dunia usaha, posisi sesaat tidaklah terlalu penting dibandingkan dengan trend-nya. Misalnya Anda punya warung sembako yang tahun 2011 lalu omset-nya Rp 50 juta, Angka ini tidak bisa untuk menjelaskan kinerja Anda apakah baik atau buruk. Angka ini baru berarti sesuatu bila misalnya dibandingkan dengan penjualan tahun sebelumnya. Bila tahun 2010 omset Anda Rp 25 juta, berarti kinerja Anda tahun 2011 meningkat luar biasa 100 %. Sebaliknya bila tahun 2010 omset Anda sudah Rp 100 juta, maka usaha Anda sedang mengalami sunset atau sedang tenggelam di tahun 2011. Maka demikian pulalah dalam melihat perkembangan harga emas.
Pada akhir tahun 2011 lalu harga emas perdagangan London ditutup pada angka US$ 1,531.00/Oz – ini tidak menjelaskan apa-apa bila tidak dilengkapi dengan pembanding dari angka-angka tahun sebelumnya. Dari data di Kitco.com misalnya Anda bisa tahu bahwa harga emas penutupan London tahun sebelumnya (2010) adalah US$ 1,405.50, dan penutupan lima tahun sebelumnya (2007) adalah US$ 833.75. Jadi harga emas dunia akhir tahun 2011 sejatinya mengalami kenaikan sekitar 9 % dibanding tahun sebelumnya, dan naik sekitar 84 % dibandingkan lima tahun sebelumnya.
Dalam rupiah angka-angka ini berbeda karena faktor kurs. Akhir 2011 harga emas di pasar Indonesia sekitar Rp 500,000/gr, dibandingkan dengan akhir tahun 2010 sekitar Rp 400,000/gr dan akhir 2007 sekitar Rp 250,000/gr. Artinya di Indonesia harga emas telah mengalami kenaikan 25 % setahun terakhir dan 100 % dalam lima tahun terakhir !.
Apa makna angka-angka tersebut sesungguhnya ?, masyarakat harus melihat emas ini dalam perspektif jangka panjang. Pemerintah China nampak-nya melihat hal ini dengan baik sehingga bank sentralnya terus menambah persediaan emasnya disamping juga mereka mendorong dan mempermudah rakyatnya rame-rame membeli emas.
Tidak demikian halnya dengan negara-negara lain, dengan alasan-nya sendiri-sendiri dan sebagian juga karena ketidak tahuannya – negara-negara lain lebih condong mendorong rakyatnya mengakumulasi kekayaan dalam uang kertasnya – mereka justru kawatir bila rakyatnya terlalu banyak memegang emas maka mata uang kertas mereka akan jatuh.
Disinilah sebenarnya pentingnya peran pemerintah, bank sentral dan dunia per-bank-an untuk dapat melihat emas ini dari perpekstif jangka panjang dan dari perspektif kepentingan masyarakat/rakyat-nya untuk bisa bertahan - bila krisis mata uang seperti yang pernah kita alami tahun 1997/1998 berulang.
Sejak dua tahun lalu saya sebenarnya termasuk yang tidak setuju dengan akselerasi pembelian emas oleh masyarakat yang didanai dengan uang pinjaman atau gadai - bila tidak didukung oleh proses penciptaan nilai tambah. Namun bila kini direm mendadak sebenarnya juga tidak tepat, apalagi bila keputusan pengereman-nya dilandasi dengan persepsi jangka pendek bahwa seolah harga emas akan nyungsep.
Yang harus dilakukan oleh pemerintah, bank sentral dan dunia perbankan adalah meng-edukasi secara benar agar masyarakat tahu betul karakter dan funsgi emas ini. Mereka harus mementingkan kemampuan masyarakat dalam memutar ekonomi kemudian juga mampu mempertahankan kemakmurannya dengan baik – di atas kepentingannya untuk menjaga nilai mata uang kertas yang costly dan toh terbukti terus mengalami penurunan daya beli - sekuat apapun mereka berusaha mempertahankannya.
Fungsi semacam ini juga yang diemban oleh Gerai Dinar dalam skala Mikro, melalui tulisan dan melalui briefing ke agen-agen baru selalu kami ingatkan bahwa membuat masyarakat paham jauh lebih penting ketimbang membuat masyarakat membeli. Agen tidak kami kenakan target penjualan karena memang bukan menjual emas atau Dinar ini target utama kami – tetapi membuat masyarakat paham.
Itulan sebabnya tulisan di www.geraidinar.com jauh lebih banyak yang mengajak untuk memutar emas atau Dinar dengan membangun jiwa dan semangat entrepreneurship – ketimbang yang membahas Dinar atau emas itu sendiri.
Tulisan-tulisan mengenai emas seperti pada tulisan ini hanya saya buat bila dipandang perlu untuk untuk me-refresh posisi perkembangan terakhir dan memberi perspektif yang lebih luas kepada masyarakat.
Dari waktu ke-waktu harga emas berayun seperti bandul jam. Bila posisi jam 6 kita anggap harga rata-rata, posisi jam 5 adalah harga tertinggi dan posisi jam 7 adalah harga terendah – maka begitulah harga emas – kadang menuju angka terendah (ayunan dari arah jam 6 ke jam 7) – kadang menuju angka tertinggi (dari arah jam 6 ke jam 5).
Untuk membantu memahaminnya saya sajikan grafik harga emas dalam Rp/gr yang saya kumpulkan sejak hampir empat tahun lalu dibawah. Harga rata-rata untuk mengetahui posisi jam 6-nya saya ambil dari rata-rata bergerak 50 harian atau bila di pasar disebut Daily Moving Average – 50 (DMA-50).


Trend Harga Emas 2008-2012

Maka dari grafik harga suatu waktu dan harga DMA-50 kurang lebih kita bisa memvisualisasikan sedang berada dimana bandul jam saat itu. Untuk Saat ini kurang lebih kita berada di sekitar jam 6 karena harga emas lagi berada di kisaran Rp 510,000/gram yang bersamaan dengan itu harga DMA-50 juga berada di kisaran harga ini.
Beberapa pekan terakhir ketika masyarakat investor emas dibuat panik dengan investasi emasnya karena didorong oleh (wacana perubahan) kebijakan di bank sentral dan dunia perbankan syariah – saat itu bandul harga emas memang lagi berada di arah jam 6-7 ( berayun kebawah). Waktu-waktu di mana garis biru berada dibawah garis ungu adalah waktu bandul jam berada antara pukul 6-7 atau sebaliknya, dan ketika garis biru di atas garis ungu adalah ketika bandul jam berada antara pukul 6-5 atau sebaliknya.
Sebagaimana ayunan bandul jam yang bergerak cepat dengan urutan 6-7-6-5-6-7-6-5 dst., maka posisi gerakan cepat ini sebenarnya tidak perlu membuat panik siapapun apalagi kalau sampai menjadi dasar suatu kebijakan.
Dasar suatu kebijakan harus didukung oleh perspektif jangka panjang. Dari grafik di atas misalnya, kita tahu bahwa dari waktu ke waktu memang harga emas terus berayun – tetapi long term trend-nya jelas masih naik.
Meskipun demikian, betapa masuk akalnya sekalipun trend harga emas jangka panjang seperti yang pernah juga saya buat prediksi matematisnya di tulisan sebelumnya- dimana berdasarkan formula trend polynomial harga emas akan mencapai kisaran di atas Rp 1,000,000/gram tahun 2015 (ketika anak Anda yang kelas 3 SMP sekarang sampai kelas 3 SMA !) – ini tetaplah prediksi, bisa benar dan bisa juga keliru.
Tidak ada yang bisa melihat masa depan dengan 100% kebenaran, oleh karena itulah masyarakat harus dibuat mengerti dahulu sebelum mereka membeli atau berinvestasi di emas ini – mereka harus bisa melihat full picture-nya, bukan antusiasme sesaat seperti ketika harga emas melonjak selama Agustus – September 2011 lalu, dan bukan pula harus menjual karena kepanikan sesaat seperti yang terjadi antara November - Desember 2011 lalu. Wa Allahu ‘Alam.

Minggu, 01 Januari 2012

Catatan Akhir Tahun 2011 : Apakah Dinar/ Emas Masih Menguntungkan…?

Catatan Akhir Tahun 2011 : Apakah Dinar/ Emas Masih Menguntungkan…?
Oleh Muhaimin Iqbal
Sabtu, 31 December 2011 07:45

Karena tanggal 31 Desember 2011 jatuh pada hari libur tidak ada transaksi di pasar, maka transaksi terakhir di pasar emas dunia untuk 2011 adalah bersamaan dengan ditutupnya pasar New York tanggal 30 Desember 2011 sore hari atau pagi ini waktu Indonesia. Harga emas dunia ditutup pada harga US$ 1,568/Ozt , dan harga Dinar ditutup pada angka Rp 2,170,891. Dengan angka penutupan seperti ini, apakah investasi Dinar atau emas masih menguntungkan sepanjang tahun 2011 ?



Jawabannya tergantung kapan Anda mulai investasinya dan dari mana asal uangnya. Bila Anda sudah mulainya setahun lalu, maka investasi Dinar Anda memberikan kisaran hasil 23 % atau bila dipotong selisih harga jual dan harga beli 4 % (bisa ditekan tinggal 2 % bila Anda jual ke sesama pengguna yang juga kita fasilitasi melalui jual less 1%), hasil bersih investasi ini masih di kisaran 19 % - 21 % - atau sekitar tiga kali hasil bersih deposito.



Bila Anda mulai investasinya baru dalam 4 bulan terakhir, dipastikan Anda rugi karena Dinar mengalami trend penurunan yang significant sejak September 2011.



Yang menarik adalah bila dilihat sumber dana yang Anda gunakan untuk investasi emas ini. Hasil bersih setahun terakhir yang berada di kisaran 19%-21% tersebut diatas hanya berlaku bila dana yang Anda pakai untuk membeli emas/Dinar adalah uang Anda sendiri.



Bila dana yang Anda gunakan untuk investasi adalah uang bank atau uang pinjaman lainnya, maka hasil bersih yang 19%-21 % akan nyaris habis karena ongkos modal yang Anda gunakan (biaya gadai misalnya) berada di kisaran angka 18%. Hasil bersih yang hanya 1%- 3 % (setelah dipotong ongkos modal), tidak cukup menarik untuk mengimbangi jerih payah dan sport jantung Anda.



Itulah sebabnya melalui berbagai tulisan sejak lebih dari dua tahun lalu, saya sudah mengingatkan agar masyarakat tidak berspekulasi dengan membeli emas menggunakan dana pinjaman atau gadai. Kecuali bila dana pinjaman atau gadai ini untuk kegiatan produktif riil (bukan dari naik turunnya harga) yang menghasilkan nilai lebih besar dari ongkos dana-nya, atau yang saya sebut Gold Based Capital.



Lantas bagaimana dengan tahun 2012 ?. Parkiraan saya akan banyak factor yang bisa mendorong harga emas ke atas, antara lain adalah pengaruh jangka panjang dari Quantitative Easing dalam berbagai namanya selama krisis AS dan Eropa 2011. Yang juga bisa melejitkan harga emas dunia 2012 adalah bila krisis Iran – AS yang hari-hari ini memanas terus ter-eskalasi.



Tiga puluh tahun lalu, harga emas pernah melonjak dari angka US$ 215/Ozt (Januari 1979) ke angka US$ 850/Ozt (Januari 1980) ketika terjadi ketegangan antara Iran dan Amerika pada krisis penyanderaan 52 warga Amerika di Iran selama 444 hari dari tanggal 4 November 1979 s/d 20 Januari 1981.



Terlepas dari peluang naiknya harga emas dunia di tahun 2012 tersebut, sekali lagi saya tidak merekomendasikan untuk mendananinya dengan dana pinjaman, kecuali untuk kegiatan produktif.



Sejalan dengan tema sentral untuk produktif di tahun 2012 tersebut, maka resolusi saya untuk 2012 adalah Get Real…! InsyaAllah.

Déjà vu Harga Dinar, How Low Can You Go ?

Déjà vu Harga Dinar, How Low Can You Go ?
Oleh Muhaimin Iqbal
Jum'at, 30 December 2011 06:55

Tanpa terasa system kita sudah me-record secara kontinyu pergerakan harga Dinar selama empat tahun ini sehingga up and down-nya sudah cukup kita alami. Meskipun lebih banyak up-nya, pada tulisan ini saya akan menekankan waktu-waktu dimana harga Dinar lagi down seperti saat ini – untuk mengingatkan kita semua agar tidak menggunakan fluktuasi harga emas sebagai media spekulasi. Ada setidaknya 4 kali dalam 4 tahun terakhir ini saya menulis dengan judul “…How Low Can You Go ?”, karena ini kurang lebih mewakili pertanyaan-pertanyaan dari para pembaca ketika harga lagi rendah.



Tulisan pertama di blog lama saya tanggal 15 Agustus 2008 ketika harga Dinar jatuh ke angka Rp 1,123,000,- turun 13.5 % dari harga tertinggi 5 bulan sebelumnya pada angka Rp 1,299,000,- tanggal 17 Maret 2008. Tulisan kedua tanggal 7 April 2009 ketika harga Dinar berada pada angka Rp 1,436,000, atau turun 12 % dari angka tertinggi kurang dari dua bulan sebelumnya yang sudah sempat mencapai Rp 1,640,000,- tanggal 21 Februari 2009.



Tulisan ketiga adalah tanggal 26 September 2011 ketika harga Dinar jatuh ke angka Rp 2,152,233 atau turun 10 % dari angka tertinggi hanya sepekan sebelumnya pada harga Rp 2,396,735,-. Tulisan keempat adalah tulisan ini pada saat harga berada pada angka Rp 2,142,000,- atau lebih rendah 11 % dari angka tertinggi 4 bulan sebelumnya pada angka Rp 2,396,734 tanggal 19 September 2011.





Harga Dinar Emas 2007-2011




Tiga tulisan sebelumnya (keempat dengan yang ini) memang saya tulis dengan judul yang sama karena memang nuansa dan waktunya sama, yaitu ketika pembaca banyak sekali yang menanyakan “apakah masih bisa turun lagi, seberapa rendah, dlsb.” Ini adalah peristiwa yang dalam bahasa Perancis disebut déjà vu atau secara harfiah artinya ‘pernah melihat sebelumnya…’.



Setidaknya melalui tiga tulisan sebelumnya kita pernah melihat harga emas jatuh secara significant, tetapi kemudian setelah itu kembali ke trend jangka panjangnya yaitu naik. Ketika jangka pendek harga emas bisa turun sampai belasan persen hanya dalam beberapa bulan saja, rata-rata kenaikannya masih berada di sekitar angka 25% per tahun dalam 4 tahun terakhir. Atau secara kumulatif harga Dinar telah naik sekitar 142 % sejak system kami mencatat harganya secara kontinyu seperti yang tertuang dalam grafik diatas.



Banyak pelajaran sebenarnya dari grafik tersebut diatas, tetapi intinya jangan panik oleh penurunan harga Dinar atau emas jangka pendek. Apakah ini berarti bahwa rezim harga emas yang lagi rendah sekarang akan kembali naik seperti dalam tiga peristiwa sebelumnya ? Wa Allahu A’lam, tidak ada yang bisa menjamin. Tetapi peluang ke arah sana tentu besar – meskipun bisa jadi dalam waktu dekat turun dahulu sebelum kembali ke trend jangka panjangnya yang naik.



Lantas seberapa besar peluang naiknya dan sampai berapa ? ilustrasi grafik dibawah dapat memberikan gambaran kasarnya.





Trend Harga Dinar Emas 2007-2011




Dengan peluang di atas 90%, berdasarkan statistik 4 tahun terakhir trend harga Dinar mengikuti persamaan polynomial y (emas)=008x2 - 0.2164x + 279425. Dengan formula ini harga Dinar empat tahun ke depan akan berada di kisaran Rp 2,310,000 (2012) ; Rp 2,950,000 (2013) ; Rp 3,740,000 (2014) dan Rp 4,680,000 (2015). Angka-angka ini sekali lagi menguatkan bahwa emas atau Dinar bukan ‘mainan’ jangka pendek, bagi Anda yang sudah mengenal Dinar dalam empat tahun terakhir pasti sudah bisa merasakannya.



Tentu saja angka-angka ini hanya perkiraan statistik semata, yaitu bisa benar bila seluruh faktor-faktor yang mempengaruhi harga emas 4 tahun terakhir akan berulang dalam 4 tahun kedepan. Hasilnya akan berbeda bila faktor lingkungan yang mempengaruhinya juga berbeda. Wa Allahu A’lam.

Senin, 26 Desember 2011

Euro Jatuh, Emas Juga Jatuh …

Euro Jatuh, Emas Juga Jatuh … PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Kamis, 15 December 2011 07:59
Semalam harga emas internasional mengalami kejatuhan yang sangat significant – mirip dengan kejadian 2009, yaitu turun ke titik terendah setelah beberapa bulan sebelumnya mencapai titik tertinggi. Bedanya hanya pada penyebab naik turunnya harga, dan waktu terjadinya masing-masing titik ekstrim-nya. Naik turunnya harga di tahun 2008/2009 adalah factor krisis di Amerika sedangkan turunnya harga kali ini penyebab utamanya adalah krisis di Euro Zone.

Pola pengaruh Euro dan Dollar terhadap harga emas dunia ini dapat dilihat pada grafik dibawah.  Karena harga emas dunia dihitung dengan US Dollar maka harga emas memiliki hubungan terbalik – inverse relationship – terhadap US Dollar yang diwakili oleh US Dollar Index. Kita bisa lihat pada grafik dibawah, area abu-abu yang mewakili US Dolar Index melonjak sangat significant beberapa hari terakhir.

Kinerja Euro, US Dollar dan EmasKinerja Euro, US Dollar dan Emas
 

Grafik di atas juga menunjukkan bahwa Euro-pun memiliki hubungan terbalik dengan US Dollar sama dengan emas,  atau dengan kata lain Euro memiliki hubungan yang sejalan dengan harga emas dalam US Dollar.  Ketika nilai tukar Euro jatuh, harga emas-pun jatuh.

Pertanyaannya adalah apakah kejatuhan Euro yang membuat orang berbondong-bondong memindahkan dananya kedalam US Dollar ini akan berlangsung lama sehingga Euro dan emas sama-sama akan terus merosot ?. Kemungkinan itu tetap ada, setidaknya dua faktor dibawah yang akan menjadi penyebabnya.

·       Bila kondisi Euro Zone semakin memburuk dan tidak terselamatkan, maka pelarian ke safe haven sementara  US Dollar akan semakin meningkat. US Dollar menjadi semakin mahal dan berarti harga emas semakin turun.
·       Bila Euro Zone tidak mengalami pemburukan yang bersifat fundamental lebih lanjut –pun harga emas bisa tetap turun oleh panic selling seperti yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Kalau dua factor tersebut menyebabkan harga emas turun dalam waktu dekat, lantas apakah ada factor yang akan mendorongnya naik ?. Tentu juga ada, meskipun kemungkinan terjadinya agak bersifat jangka panjang.

Euro Zone adalah mitra dagang utama Amerika Serikat, oleh karenanya dalam menghitung kekuatan US Dollar  atau yang kemudian dicerminkan oleh US Dollar Index – bobot Euro adalah yang paling besar yaitu 57.6% disusul oleh Yen Jepang yang hanya 13.6 % dan mata uang negara-negara lain yang lebih kecil pengaruhnya.

Bila krisis di Euro Zone berkelanjutan, Amerika pasti kena juga getahnya antara lain melalui ekspor ke negara-negara mitra dagang utamanya yang akan menurun dan risiko yang membesar di pasar financial karena  saling keterkaitannya antara  pasar financial yang satu dengan yang lain. Jadi US Dollar hanya diuntungkan sementara oleh krisis Euro.

Lantas bagaimana kita seharusnya menyikapi anjlognya harga  emas ini ?, terutama bagi Anda yang baru mulai membeli emas atau Dinar justru pada saat harga tertinggi beberapa bulan terakhir ?.

Pertama yang perlu diingat adalah krisis Euro tidak bersifat unique, US Dollar-pun (dan berbagai mata uang kertas lainnya) berpeluang mengalami krisis yang sama – bahkan US Dollar juga sedang mengalaminya, hanya karena pembandingnya adalah Euro yang lebih buruk – US Dollar kelihatannya membaik. Bila wajah buruk US Dollar sudah tidak lagi tertutupi oleh keburukan Euro, Dollar-pun akan berkinerja seperti Euro. Karena Dollar memiliki inverse relationship dengan emas, saat itulah harga emas akan kembali pulih seperti puncaknya beberapa bulan lalu.

Kedua gonjang-ganjing harga emas dunia  yang di-trigger oleh fluktuasi daya beli US Dollar ini, seharusnya bisa menyadarkan kita semua – bahwa tidak ada investasi yang aman dari risiko. Itulah sebabnya, melalui tulisan seperti ini dan juga tulisan-tulisan sebelumnya, kami lebih menekankan kepahaman masyarakat dibandingkan dengan upaya untuk menjual emas atau Dinar itu sendiri, ilmu sebelum amal.

Ketiga, krisis ini mengingatkan kita pentingnya membangun kekuatan ekonomi sektor riil minimal untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, sandang dan papan. Tidak mudah memang, tetapi investasi yang lain-pun toh juga terbukti tidak mudah, jadi tetap harus terus dicoba dan diupayakan. Wa Allahu A’lam.

Gold Based Capital (II) : Bijak Investasi Menggunakan Emas…

Gold Based Capital (II) : Bijak Investasi Menggunakan Emas… PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Selasa, 13 December 2011 04:56
Setiap kali harga emas jatuh seperti beberapa hari ini saya selalu dihujani banyak pertanyaan dari pembaca, para vendor dan mitra kerja. Rata-rata pertanyaan mereka adalah seputar sampai kemana harga emas akan turun , mengapa turun, kapan akan naik lagi, apa yang harus kita lakukan dlsb. Tulisan ini barangkali bisa merangkum secara garis besar , jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut sekaligus.

Pertama yang ingin saya sampaikan adalah tidak ada seorang-pun yang bisa tahu persis apa yang akan terjadi, jadi yang bisa kita lakukan hanyalah menduga-duga berdasarkan peristiwa dan data startistik sebelumnya .  Pengalaman harga emas  anjlog beberapa bulan setelah angka tertingginya ini memang bukan untuk pertama kalinya terjadi.

Pada bulan Juli 2009 harga emas sempat jatuh ke angka Rp 297,000/gram  atau turun 20% dari harga tertinggi lima bulan sebelumnya di bulan Februari tahun yang sama yang sempat mencapai angka Rp 370,000/gram. Pagi ini harga emas akan berada di kisaran Rp 497,000/gram atau ‘baru’ turun sekitar 9 % dari angka tertinggi September lalu yang sempat mencapai kisaran Rp 545,000/gram.

Lantas apakah pola penurunan sekarang akan mengikuti pola penurunan 2009 yang mencapai 20 % ?, Wa Allahu A’lam , tetapi kemungkinan itu ada saja. Dari statistic jangka pendek beberapa bulan terakhir memang trend itu masih akan menurun – lihat grafik dibawah.

Trend Emas 4 BulanTrend Emas 4 Bulan
 

Trend penurunan ini utamanya disebabkan oleh peristiwa krisis global khususnya yang terjadi di Uni Eropa. Karena kepercayaan pasar terhadap Uni Eropa terus merosot, Euro hancur dan bahkan sudah ada wacana untuk membubarkannya. Krisis Euro ini menguatkan demand terhadap Dollar – karena berkurangnya daya tarik salah satu rival terkuatnya. Ketika US Dollar naik, harga emas dunia dalam US$ jatuh – bukan karena harga emasnya yang rendah, tetapi daya beli US$-nya yang menguat.

Pada saat harga emas cenderung turun dalam jangka pendek seperti ini, lantas apakah kita harus rame-rame menjual emas kita saat ini ?. Tidak demikian saran saya. Karena bisa jadi pola recovery seperti 2009 diatas juga berulang. Yaitu ketika harga emas sempat anjlog dalam jangka pendek (kurang dari 6 bulan), harga pulih ke angka tertinggi sebelumnya dalam 1.5 tahun dan bahkan jauh melampauinya hingga kini.

Grafik harga emas setahun terakhir yang masih menunjukkan trend menaik dibawah menconfirm hal ini, setahun terakhir harga emas masih mengalami kenaikan di kisaran 27 %.

 
Trend Emas 1 TahunTrend Emas 1 Tahun

Trend kenaikan ini menjadi lebih nyata bila kita tarik dalam jangka yang lebih panjang lagi, misalnya untuk 3 tahun seperti pada grafik dibawah. Tiga tahun terakhir harga emas mengalami kenaikan lebih dari 74 %.

Trend Emas 3 TahunTrend Emas 3 Tahun
 

Dari tiga grafik diatas, bisa kita simpulkan begini : Bila Anda investasi di emas untuk orientasi jangka panjang – satu tahun keatas, kemungkinan terbesarnya hingga kini Anda masih mengalami keuntungan yang significant – dikisaran 27 % atau sekitar 4 kali dari hasil deposito Anda.

Tetapi bila orientasi Anda jangka pendek seperti 4 bulan terahir misalnya, memang bisa jadi investasi Anda telah mengalami kerugian yang sangat berarti. Perhitungan saya kerugian Anda berada di kisaran 9 % dalam 3-4 bulan terakhir. Kerugian ini bisa menjadi lebih besar lagi bila Anda investasi emas menggunakan uang gadai/pinjaman dari bank/pegadaian. Bila diambil rata-rata biaya gadai 1.5% per bulan misalnya; maka kerugian Anda dalam 4 bulan terakhir bisa mencapai 15 % yaitu 9 % dari penurunan harga dan 6 % dari biaya gadai 4 bulan.

Lantas bagaimana yang seharusnya berinvestasi di emas, agar Anda tidak mengalami kerugian besar seperti dalam ilustrasi tersebut diatas ? Tiga ‘jangan’ berikut barangkali membantu :

1.     Pertama jangan berspekluasi dengan harga emas. Statistik jangka panjang memang menunjukkan trend kenaikan yang kuat, tetapi bukan berarti tidak bisa turun juga – khususnya dalam jangka pendek.

2.     Kedua jangan menggunakan uang pinjaman/gadai untuk membeli emas, karena ini akan menambah kerugian Anda ketika harga emas turun seperti sekarang.

3.     Ketiga jangan terjebak anut grubyuk dalam investasi – termasuk investasi emas sekalipun. Mayoritas orang yang ikut anut grubyuk – mereka membeli emas justru pada harga tertingginya karena mendengar cerita baiknya saja dari orang-orang sekitarnya, sebaliknya ketika harga rendah seperti sekarang mereka malah jarang yang membeli – karena hanya mendengar cerita buruknya saja dari yang telah mengalaminya. Yang benar adalah dengarkan cerita baiknya, tetapi juga perhatikan cerita buruknya seperti yang terilustrasi melalui tiga grafik diatas.

Dengan menyampaikan poin-poin tersebut diatas, khususnya poin 2 ; bukan berarti produk-produk gadai emas atau pinjaman dengan jaminan emas dari perusahaan pegadaian ataupun perbankan tidak baik untuk investasi. Produk-produk ini adalah produk yang baik dan telah lolos verifikasi para Dewan Pengawas Syariahnya masing-masing, jadi mestinya seluruh aspek produk ini telah dipikirkan matang-matang.  Hanya saja penggunaannya yang seharusnya bijaksana.

Salah satu penggunaan produk gadai emas atau pinjaman dengan jaminan emas yang saya sarankan adalah dengan konsep Gold Based Capital yang pernah saya tulis di situs ini. Emas sebagai jaminan atas modal untuk proses penciptaan nilai tambah (value creation), sehingga dari nilai yang di-create ini – biaya modal (biaya gadai misalnya) dapat terkompensasi dengan cukup bahkan ketika harga emas turun sekalipun. Penggunaan gadai emas untuk Gold Based Capital dapat menjadi peluang baru bagi bank-bank syariah karena mereka akan dapat menggerakkan sektor riil dengan jaminan yang sangat likwid yaitu emas – peluang ini tidak dimiliki oleh pesaing-pesaing mereka dari bank-bank konvensional.

Contoh aplikasinya begini : Kalau saya punya pabrik krupuk misalnya, untuk membeli mesinnya saya dapat dibiayai oleh bank syariah dengan dua cara, pertama dengan aqad murabahah terhadap mesin tersebut misalnya , dan yang kedua dibiayainya dengan menggadaikan emas saya – kemudian dananya saya pakai untuk membeli mesin. Bank kemungkinan besarnya akan lebih suka cara yang kedua karena ‘jaminan’nya lebih likwid , lebih mudah menentukan nilainya dan proses pembiayaan akan sangat cepat – sehari cair. Proses pembiayaan sehari cair ini tidak bisa disaingi oleh proses-proses pembiayaan yang konvensional !.

Pertanyaan spontan Anda mungkin adalah, kalau punya emas cukup untuk membeli mesin – mengapa masih perlu pinjam/gadai ke bank ?. Bila Anda memiliki usaha yang produktif seperti contoh pabrik krupuk tersebut diatas, Anda akan perlu memiliki dana-dana cadangan yang terakumulasi seperti keuntungan yang belum diambil, cadangan penggantian mesin (penyusutan), cadangan dana pengembangan usaha, cadangan pesangon karyawan dlsb. Dana-dana ini bila Anda simpan dalam Rupiah atau Dollar sekalipun akan terus tergerus nilainya, maka disimpannya dalam bentuk emas/Dinar.  Bila waktunya dana ini digunakan-pun tidak harus dijual tetapi bisa melalui proses gadai atau penjaminan tersebut diatas, dengan demikian Anda dapat melakukan wealth preserving sekaligus wealth producing  melalui proses nilai tambah di sektor riil tersebut.

Hanya memang penggunaan akad rahn atau gadai sebagi instrumen Gold Based Capital menuntut bank selektif dalam menerima gadai. Tidak bisa lagi orang menggadaikan emas hanya untuk membeli emas berikutnya, yang bisa adalah orang menggadaikan emas untuk keperluan yang riil yaitu untuk proses nilai tambah – atau sekalian untuk keperluan dharurat seperti pembiayaan orang sakit dlsb.

Karena delicate-nya produk berbasis emas ini, saya sendiri tidak pernah menganjurkan produk ini dijual secara masal. Situs ini dan para agen Gerai Dinar-pun misi utamanya bukan untuk menjual Dinar ataupun produk turunannya - tetapi membuat masyarakat paham dahulu. Bahkan prinsip yang kami tekankan adalah membuat orang paham lebih penting dari membuat orang membeli. Wa Allahu A’lam.

Selasa, 29 November 2011

Cara Mudah Mengelola Risiko Investasi…

Cara Mudah Mengelola Risiko Investasi… PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Selasa, 29 November 2011 09:46
Apapun investasi Anda, risiko pasti Anda hadapi. Yang belum pasti adalah peluang terjadinya risiko atau yang dalam bahasa teknis disebut frequency, dan dampaknya bila suatu risiko bener-bener terjadi atau disebut severity. Inti dari pengelolaan risiko dari investasi Anda adalah tentang frequency dan severity ini, karena dengan ini Anda akan bisa bersikap dan bertindak secara proporsional sesuai dengan tingkatan risiko yang ada.  Ada cara yang mudah untuk memahami dan mengelola risiko ini yaitu dengan apa yang saya sebut Frequency and Severity Matrix  (FSM), hanya dengan dua lembar kertas Anda sudah bisa memahami, mengambil keputusan dan mengelola risiko-risiko Anda baik dalam hal investasi atau bahkan dalam aspek-aspek kehidupan yang lebih luas.

Pada lembar kertas pertama, Anda buat garis horizontal atau sumbu x dan garis vertical atau sumbu y, garis horizontal untuk merepresentasikan frequency dari risiko sedangkan garis vertical untuk severity-nya. Atau buat saja empat persegi panjang dengan panjangnya frequency sedangkan tingginya adalah severity. Kemudian masing-masing sumbu mulai dari titik awal (0,0) Anda bagi tiga bagian dan diberi tanda low, medium dan high. Bidang persegi yang terbentuk akan menjadi tempat Anda menaruh jenis-jenis risiko yang Anda hadapi.  Untuk menguatkan pemahaman, bisa saja Anda beri warna – tetapi dibiarkan kertas polos juga tidak apa.

Sekarang Anda tinggal menaruh jenis-jenis risiko yang Anda kawatirkan pada matriks frequency dan severity tersebut diatas. Berikut adalah beberapa contoh yang saya lakukan.

1.     Gempa Bumi : Saya kategorikan frequency-nya rendah (belum tentu terjadi seumur hidup) , tetapi bila terjadi tingkat kerugiannya bisa sangat dasyat atau severity-nya high.
2.     Berbagai bentuk kecelakaan yang serius : cukup rendah frequency-nya tetapi rata-rata orang pernah mengalaminya, dampaknya tidak setinggi gempa bumi.
3.     Perampokan : frequency-nya lebih rendah dari kecelakaan tetapi dampak risikonya bisa lebih besar.
4.     Banjir : Di Jakarta frequency banjir berada antara  medium high , sekitar lima tahun sekali terjadi banjir besar. Bila terjadi dampak risikonya juga bisa lumayan besar.
5.     Pencurian : cukup sering terjadi tetapi dampaknya biasanya tidak terlalu besar.
6.     Kecelakaan ringan : tergantung kebiasaan kita atau kegiatan kita sehari-hari , frequency-nya bisa rendah sampai tinggi – tetapi secara umum dampaknya rendah.
7.     Penyakit : Risiko ini termasuk yang cukup tinggi dan dampaknya-pun serius karena tidak jarang menjadi penyebab kematian penderitanya.
8.     Kehilangan Nilai/Daya Beli : Diluar kesadaran banyak orang, kehilangan nilai atau daya beli adalah suatu risiko yang mendekati kepastian statistik – artinya bisa dihadapi oleh siapapun kapan saja dan dampaknya sangat serius. Setiap 4.3 tahun kita kehilangan daya beli separuh dari uang kertas yang kita miliki dan peristiwa seperti krismon 1997/1998 menghabiskan sekitar 75% dari nilai atau daya beli uang kita semua.

Baik jenis risiko maupun posisinya di FSM tersebut diatas berbeda dari satu individu ke individu lainnya. Ini wajar saja karena menyangkut pengalaman yang berbeda, kebiasaan hidup, tempat tinggal, lingkungan dlsb. yang semuanya berpengaruh pada persepsi terhadap risiko.
 Matriks Identifikasi Risiko
Setelah kita taruh masing-masing risiko tersebut pada matriks frequency dan severity seperti dalam ilustrasi diatas, lembar kertas kedua adalah kertas contekannya yang kurang lebih seperti pada ilustrasi grafik dibawah.

Matriks Penanganan Risiko 

Dengan membandingkan masing-masing posisi risiko dengan lembar contekannya, Anda sudah bisa untuk memutuskan apa yang akan Anda lakukan terhadap risiko-risiko tersebut diatas.

Risiko yang frequency-nya tinggi tetapi  severity atau dampaknya rendah, maka bisa Anda tahan (retain atau absorb) saja InsyaAllah tidak masalah.  Sedangkan risiko yang meskipun frequency-nya rendah tetapi dampaknya bisa sangat serius seperti gempa bumi, maka Anda perlu mencari solusi-nya. Bentuk solusi jenis risiko yang kedua ini yang umum di pasaran adalah asuransi atau takaful.

Bagaimana dengan risiko yang cukup sering terjadi dan dampaknya juga cukup serius seperti banjir ?, sedapat mungkin dijegah (prevent). Usaha pencegahan ini ada yang  dalam kapasitas individu seperti memilih lokasi rumah/usaha yang bebas banjir, ada pula yang sifatnya harus dilakukan masyarakat secara luas atau pemerintah – seperti membuat waduk-waduk penampungan air, banjir kanal dlsb.

Bagaimana dengan risiko yang berada di zone merah dalam grafik diatas ?, ini adalah jenis risiko yang sedapat mungkin dihindari. Contohnya adalah risiko inflasi atau penurunan daya beli yang saya taruh di zone merah ini, mengapa ?. Bayangkan bila ada risiko yang mengambil harta Anda separuh setiap 4.3 tahun, bukankah ini adalah risiko yang sangat tinggi dari sisi frequency maupun severity-nya ?. Itulah realitas yang dihadapi uang kertas dengan inflasinya. Solusinya adalah menghindari (avoid) penggunaan uang kertas sebagai sarana penyimpan hasil jerih payah Anda dalam jangka panjang karena Anda pasti rugi !.

Ketika Anda memindahkan atau mengkonversi dari satu jenis asset ke asset lain, otomatis berubah pula jenis risiko yang dihadapinya – oleh karena itulah ketika Anda melakukannya, faktor risiko ini juga harus dipertimbangkan. Misalnya Anda menukar tabungan jangka panjang Anda menjadi property asset; maka dari uang kertas yang berisiko tinggi terhadap inflasi, Anda pindahkan ke property yang berisiko terhadap banjir, gempa bumi dlsb. Tetapi risiko gempa bumi dan banjir lebih rendah dari inflasi, bahkan untuk gempa bumi dan banjir masih memungkinkan untuk diproteksi terhadap melalui asuransi atau takaful – sedangkan risiko inflasi tidak ada asuransinya.

Walhasil dengan memahami karakter masing-masing investasi Anda dari sisi risiko yang dihadapinya, insyaAllah Anda akan bisa mengelola investasi Anda dengan lebih aman. Amin.

Pilihan Investasi : Antara Saham vs Emas…

Pilihan Investasi : Antara Saham vs Emas… PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Kamis, 24 November 2011 08:51
Saya sering sekali mendapatkan pertanyaan yang terkait pilihan investasi antara saham atau emas, baik dari kalangan investor individu maupun korporasi. Saya sudah pernah menulisnya dari thesis S 2 Ibu Sri Pangestuti lebih dari setahun lalu – juga dalam beberapa tulisan sebelumnya, namun karena masih banyak pertanyaan dan juga sambil meng-update data – analisa sejenis saya munculkan lagi dalam tulisan ini dengan data yang lebih baru.

Data-data yang saya gunakan dalam tulisan ini berasal dari dua sumber yaitu dari Kitco untuk data emas, dan dari saluran Yahoo Finance untuk data bursa saham dunia yang terwakili oleh Dow Jones Industrial Average (DJIA) maupun saham-saham di Indonesia Stock Exchange yang terwakili melalui IHSG-nya. Masing-masing saya ambil data untuk lima tahun untuk dapat menggambarkan situasi yang berkembang dalam perekonomian Indonesia maupun global akhir-akhir ini.

Saya tidak akan gunakan analisa teknis, tetapi cukup dengan menggunakan tiga ilustrasi dibawah untuk memberi gambaran mana yang lebih menarik bila harus memilih investasi antara saham atau emas.

Grafik pertama dibawah memberikan ilustrasi kinerja saham-saham di dunia yang terwakili oleh DJIA. Dengan mudah kita bisa melihat bahwa kinerja DJIA cenderung menurun dari kisaran angka 12,500 ke kisaran 11,500 dalam lima tahun terakhir, sebaliknya pada periode yang sama harga emas melonjak dari kisaran angka US$ 600-an/ozt ke kisaran angka mendekati US$ 1,800/ozt.
 
Emas vs DowEmas vs Dow
Artinya untuk jumlah emas yang sama yang Anda miliki lima tahun lalu, rata-rata akan mendapatkan tiga kali jumlah saham yang lebih banyak bila Anda belanjakan untuk membeli saham-saham perusahaan kelas dunia di bursa internasional. Grafik kedua dibawah menggambarkan hal ini dalam bentuk trend Dow Gold Ratio.
 
Dow Gold RatioDow Gold Ratio
Lantas bagaimana kinerja saham yang ada di Indonesia ?. Rata-rata lima tahun terakhir memang lebih baik dari saham di bursa global, namun tetap belum bisa melebihi kinerja emas dalam periode yang sama. Lebih jauh lagi dalam grafik dibawah, kita bisa tahu bahwa kinerja saham ternyata lebih berfluktuasi atau lebih beresiko ketimbang emas. Artinya trend lima tahun terakhir masih sejalan dengan trend yang lebih panjang yang dikaji oleh Ibu Sri Pangestuti dalam thesisnya tersebut diatas, bahwa emas memberikan hasil lebih baik dan dengan resiko yang lebih kecil.
 
Emas vs IHSGEmas vs IHSG
Tetapi bagaimana dengan sektor riil bila orang terus rame-rame pindah ke emas ?, inilah yang sering saya sampaikan bahwa emas hanyalah untuk mempertahankan nilai agar hasil jerih payah kita tidak tergerus oleh inflasi. Investasi idealnya adalah bila kita bisa memutar sendiri dana kita di sector riil dengan baik, insyaallah hasilnya akan lebih baik dari emas dan otomatis akan lebih baik dari saham karena ternyata saham tidak lebih baik dari emas seperti yang ditunjukkan oleh grafik-grafik tersebut diatas.

Inilah jawaban saya untuk Anda yang masih menanyakannya. Wa Allahu A’lam.

Jumat, 07 Oktober 2011

Harga Emas : Belajar Dari Krisis Financial Global 2008…

Harga Emas : Belajar Dari Krisis Financial Global 2008… PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Jum'at, 07 October 2011 06:41
Ketika krisis financial melanda dunia tahun 2008, harga emas di pasar sempat menyentuh angka US$ 1,011/Ozt (17/04/08) kemudian merosot lagi sekitar 30%-nya dalam rentang tujuh bulan kemudian -  tinggal US$ 713/Ozt ( 24/10/08). Perlu waktu kurang lebih satu setengah tahun kemudian untuk harga emas mampu melebihi angka tertinggi sebelumnya, yaitu ketika harga emas menyentuh US$ 1016 /Ozt (16/09/09). Apakah pola semacam ini akan bisa berulang untuk harga emas tertinggi bulan lalu yang mencapai US$ 1,895/Ozt (05/09/11) ?.

Ada yang menyebabkan statistik sejarah berulang yaitu perilaku manusianya. Ketika di puncak krisis para pelaku pasar melihat langit seolah akan runtuh, anut grubyug mereka mencari penyelamatan aset-aset mereka pada aset riil yang dipandang aman dari krisis – salah satunya emas. Emas diburu dan dibeli orang pada harga berapa saja, maka saat itulah harga emas menjulang tinggi.

Perilaku para pengelola kebijakan ekonomi dunia juga demikian,  mereka akan mengerahkan segala daya dan upaya untuk bisa memberi angin surga bagi pasar, bahwa krisis dapat ditangani, bahwa ekonomi akan segera pulih. Solusi-solusi jangka pendek-pun mereka tempuh demi untuk menghasilkan efek sentiment positif di pasar, tidak peduli bila solusi ini dalam jangka panjang akan membahayakan ekonomi itu sendiri – seperti diakui atau tidak solusi yang sering disebut Quantitative Easing atau mencetak uang dari awang-awang.

Terlepas dari efek jangka panjangnya yang menyimpan bom waktu inflasi atau bahkan hiper-inflasi, solusi jangka pendek tersebut biasanya efektif untuk meredam gejolak pasar. Untuk sementara pasar menjadi tenang dan kembali bergairah, saham dan produk-produk turunannya kembali diburu orang dan kembali anut grubyug investor dunia-pun rame-rame menjual emasnya – inilah yang membuat harga emas turun drastis untuk beberapa bulan setelah puncak tertingginya – yang identik dengan puncak krisis atau puncak kepanikan pasar.

Seperti penyakit yang hanya diobati gejalanya – tetapi bukan penyebabnya,  maka krisis atau kepanikan serupa kemudian berulang dan mendorong harga emas kembali menjulang. Begitulah siklus semacam ini berulang dan relatif predictable karena perilaku kegilaan massa  - madness of crowds - yang memang mudah ditebak.

Maka bila statistik perilaku pasar tersebut berulang untuk krisis yang baru lewat, harga emas sekarang yang sudah cukup rendah di pasar global masih sangat mungkin turun lagi. Bila rentang penurunun 2008 yang berulang – yang berada pada kisaran 30% tersebut diatas – bisa saja emas turun kembali ke angka US$ 1,300 –an dalam beberapa bulan ini  - yaitu turun sekitar 30% dari angka tertinggi sbelumnya US$ 1,895/Ozt.

Bila ini terjadi, Anda tidak perlu panik – asal Anda tidak segera membutuhkan uang Anda – bertahanlah sampai akhir tahun depan (2012) atau awal tahun sesudahnya (2013) – karena saat itulah investasi emas Anda akan kembali menjualng nilainya.  Itulah sebabnya melalui situs ini selalu tidak saya sarankan untuk menggunakan emas ini sebagai instrument spekulasi jangka pendek – Anda bisa rugi karenanya.

Meskipun statistik sejarah sangat mungkin berulang, tetapi ada juga faktor yang memungkinkan perulangan ini tidak identik dengan yang terjadi sebelumnya.  Struktur pasar emas telah mengalami banyak perubahan dalam tiga tahun terakhir.

Bila tiga tahun lalu bank-bank sentral dunia plus IMF masih net sellers emas, kini bank-bank sentral menjadi net buyers dan IMF-pun sudah tidak menjual emasnya lagi. Ditambah lagi kesadaran penduduk dunia untuk mengamankan asset telah menyentuh masyarakt tingkat bawah sekalipun, China yang daya belinya terus meningkat di tengah penduduknya yang berjumlah 1. 3 milyar lebih – membuat demand emas di China sangat besar kini. Di Indonesia-pun orang sampai mengantri emas karena seolah-olah terbangun dari tidur dan sadar akan perlunya memproteksi hasil dari jerih payah kerjanya. Kini 70% demand emas datangnya dari negeri-negeri  yang sedang berkembang seperti China, India, Indonesia dlsb. yang perilakunya berbeda dengan pemain pasar barat pada umumnya.

Dengan hal yang terakhir ini – yaitu struktur pasar yang berubah, ditambah kita yang ada di Indonesia membeli emas dengan Rupiah kita yang daya belinya juga terus berubah-ubah – maka bisa jadi siklus pasar yang saya uraikan diatas tidak sepenuhnya sama bagi kita. Wa Allahu A’lam.

Sabtu, 01 Oktober 2011

Harga Dinar Dan Kekuatan Pasarnya …

Harga Dinar Dan Kekuatan Pasarnya … PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Rabu, 28 September 2011 07:17
Bila Anda memiliki 4.25 gram emas 24 karat dan 1 koin Dinar Gerai Dinar 22 karat produksi Antam atau PERURI, mana yang lebih tinggi nilainya bila Anda jual ?. Anda bisa buktikan dan tes hari ini juga, bahwa Dinar Gerai Dinar lebih tinggi nilainya dan lebih mudah menjualnya !. Ini pula yang terjadi kemarin sore  ketika seorang wartawati majalah bisnis terkemuka – men-challenge nilai Dinar. Kok bisa ?, inilah antara lain yang disebut kekuatan pasar itu.

Ketika berusaha membuktikan hal ini kemarin sore (27/09), pembanding yang kami gunakan adalah informasi harga buy back resmi di Logam Mulia – Antam dan pasar emas Cikini – selain tentu saja harga jual beli Dinar Gerai Dinar yang tersebar informasinya melalui web GeraiDinar.Com, facebook dan twitter-nya.

Harga buy back di situs Logam Mulia - Antam kemarin adalah Rp 465,000/gram, tetapi bila Anda menjual emas Anda kemarin sore di pasar Cikini – Anda bisa menjualnya sampai harga tertinggi Rp 517,000/gram. Pada saat yang bersamaan, harga Dinar sessi siang sampai sore kemarin adalah jual pada Rp 2,293,674 dan beli pada harga Rp 2,201,927,-.

Jadi bila Anda memiliki 4.25 gram emas 24 karat dan Anda jual kemarin sore, maka Logam Mulia – Antam akan membelinya seharga 4.25 x Rp 465,000 = Rp 1,976,250,-. Bila anda jual ke Cikini dan memperoleh harga terbaiknya, maka Anda akan mendapatkan harga 4.25 x Rp 517,000 = Rp 2,197,250. Anda bisa lihat sekarang bahwa keduanya – baik LM Antam maupun toko emas di Cikini menghargai emas Anda lebih rendah dibandingkan bila Anda menjual Dinar kemarin sore juga pada harga beli kami Rp 2,201,927.

Perbedaan ini akan semakin tinggi ketika Anda menjualnya ke sesama pengguna yang kami fasilitasi juga, Anda akan memperoleh hasil bersih pada harga tengah Rp 2,247,800,-.

Bagaimana kami bisa menghargai lebih tinggi ?.  Ada dua ‘rahasia’ yang ingin saya share disini.  Pertama kami fasilitasi pertukaran Dinar tanpa mengghilangkan ongkos cetaknya baik ketika Anda menjual maupun membeli. Hal ini berbeda dengan perdagangan emas pada umumnya, yaitu Anda membayar biaya cetak ketika membeli – dan Anda kehilangan biaya cetak ini ketika Anda menjualnya kembali.

Kedua adanya virtual market yang kini menjadi sangat besar bagi pengguna Dinar Gerai Dinar. Ketika  Anda menitipkan Dinar Anda untuk dijual ke sesama pengguna dan kami umumkan di situs ini misalnya, niat jual Anda itu ‘terlihat’ oleh puluhan ribu pengguna lainnya yang mengunjungi GeraiDinar.Com  dan bahkan juga diteruskan melalui  facebook  dan twitternya. Itulah sebabnya iklan-iklan jual di situs ini biasanya hanya muncul sesaat saja, karena setelah dibeli oleh pengguna lainnya iklan akan kami cabut kembali.

Bandingkan virtual market untuk Dinar dari Gerai Dinar ini dengan emas lantakan 24 karat Anda misalnya. Kemungkinan besarnya Anda menjual emas Anda hanya di tempat Anda membelinya atau ke pihak lain yang Anda mengenalnya langsung.

Bagaimana sustainability dari  virtual market  Dinar ini kedepan-nya ?, kinipun Anda sudah bisa melihat sebenarnya siapa yang ikut ‘menjaga’ pasar ini. Selain Gerai Dinar sendiri, ada lima puluhan agen-agen resmi yang situsnya dapat Anda kunjungi dan bisa jadi salah satu dari mereka adalah tempat terdekat Anda untuk menjual dan membeli Dinar Anda .

Anda bisa buktikan sendiri sekarang bila Anda punya emas lantakan 24 karat dan Dinar dari Gerai Dinar, jual keduanya hari ini dan lihat hasilnya !. Kemungkinan besarnya perhitungan seperti yang saya contohkan di atas masih tetap berlaku. Selamat bergabung di ‘virtual market’ yang sangat besar – yang menghargai uang Anda lebih dari yang lain.

Selasa, 27 September 2011

How Low Can You Go 3

How Low Can You Go 3 PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Senin, 26 September 2011 15:46
Ini judul yang saya gunakan untuk ketiga kalinya, bukan karena saya kehabisan judul – tetapi untuk merespon banyaknya pertanyaan sejenis yang muncul secara berulang.  Pertama saya gunakan pada tanggal 15 Agustus 2008 ketika harga Dinar turun sekitar 9 % dari harga tertinggi di bulan sebelumnya, saat itu harga Dinar berada pada angka Rp 1,123,450. Kedua saya gunakan tanggal 7 April 2009 ketika harga emas jatuh 12 % dari harga tertinggi satu setengah bulan sebelumnya, saat itu harga Dinar berada pada angka Rp 1,436,000.

Ketiga saya gunakan pada tulisan ini karena per siang ini harga Dinar turun sekitar 11 % dari angka tertinggi sebelumnya yaitu pekan lalu, saat tulisan ini saya buat harga Dinar berada pada angka Rp 2,152,233,-. Bahwasanya harga akan turun kali ini sebenarnya juga sudah saya ‘ingatkan’ pekan lalu ketika harga Dinar lagi tinggi-tingginya dalam tulisan Harga Emas Bukan Harga Cabe, penyebabnya-pun sudah saya jelaskan.  Meskipun demikian, tetap saja harga turun yang significant kali ini tentu menimbulkan banyak pertanyaan – khususnya bagi yang baru mengenal Dinar akhir-akhir ini.

Bagi yang sudah mengenal Dinar 2 – 3 tahun lalu, penurunan demikian mestinya sudah tidak mengejutkan lagi.  Harga rendah yang membuat panik mereka Agustus 2008 – terbukti tidak berlangsung lama. Demikian pula yang mengalami kepanikan yang sama di bulan April 2009, harga pulih dalam beberapa bulan kemudian.

Lantas bagaimana yang sekarang ?, apakah harga akan segera pulih ?. Dugaan saya sendiri mungkin akan perlu waktu beberapa bulan juga sebelum kembali menuju ke angka tertinggi sebelumnya. Sementara itu kemungkinan turun lagi tentu saja masih ada karena penurunan yang sekarang baru berlangsung sepekan.

Tetapi poin-nya adalah emas memang tidak untuk di spekulasikan – apalagi untuk meraih keuntungan jangka pendek. Dari grafik yang tersusun otomatis melalui data harga Dinar yang dihimpun di situs ini sejak 06 April 2008, kita akan tahu bahwa up and down-nya harga Dinar ini terjadi setiap saat. Hanya yang berorientasi jangka panjang yang bisa melihat trend yang sesungguhnya – meskipun trend tersebut kali ini tidak saya cantumkan secara eksplisit di grafik.
 
How Low can You Go ?How Low can You Go ?
Jadi jawaban umum yang datang ke email saya yang rata-rata  menanyakan tentang apakah harga yang sekarang anjlog masih akan turun lagi ?, jawaban umumnya adalah : “ Iya, jangka pendek masih memungkinkan untuk turun lagi dan lagi, namun bila orientasinya jangka panjang – dari grafik diatas kita tahu bahwa kemungkinan naiknya lebih besar ketimbang turunnya”. Wa Allahu A’lam.

Rupiah Oh Rupiah…

Rupiah Oh Rupiah… PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Kamis, 22 September 2011 07:33
Rupiah nampaknya sedang diuji, setelah kurang lebih tujuh bulan sejak Februari lalu Rupiah mampu bertahan dibawah Rp 9,000/US$ - semalam bergejolak dalam range yang sangat lebar dari kisaran Rp 8,800 –an sampai Rp 9,300-an per US$. Perjuangan penyelamatan Rupiah kemungkinan akan terus berlangsung hingga hari ini dan hari-hari mendatang, sehingga fluktuasi yang tajam mungkin belum akan mereda. Pelemahan nilai tukar semalam juga terjadi di hampir seluruh mata uang regional kita, tetapi pada umumnya memang tidak se-fluktuatif Rupiah.

Perhatikan grafik pergerakan Rupiah terhadap US$ dalam 24 jam terkahir yang saya ambilkan datanya dari Yahoo Finance.  Dua kali penguatan tajam di sekitar jam 3 PM dan jam 5 PM waktu GMT bisa jadi karena ada upaya keras untuk meredam pelemahan Rupiah. Bahwasanya kemudian kembali ke angka Rp 9,300-an per US$ hingga pagi ini, ini menunjukkan kondisi pasar yang sesungguhnya – pasar yang tidak mudah dilawan.
 
Source : Yahoo FinanceSource : Yahoo Finance
Saya sendiri berharap upaya penyelamatan Rupiah ini terus dilakukan oleh pihak-pihak yang berwenang di negeri ini – agar uang kita masih tetap bernilai tinggi, karena realitanya mayoritas penghasilan kita dalam bentuk Rupiah.

Bila Grafik Rupiah 24 jam terakhir tersebut diatas kita sandingkan dengan grafik mata uang regional lainnya, kita akan dapat memperoleh gambaran yang lebih komprehensif. Di antara negara tetangga yang kemungkinan juga melakukan upaya penyelamatan nilai tukarnya adalah Philippine, grafik penguatan Peso mereka pada akhir perdagangan semalam menjadi indicator intervensi pihak berwenang mereka.
 
Source : Yahoo FinanceSource : Yahoo Finance
Lantas bagaimana dampak fluktuasi Rupiah ini pada harga emas atau Dinar ?. Seperti yang saya ungkapkan dalam tulisan “Harga Emas Bukan Harga Cabe…”, harga emas internasional semalam turun drastis ke kisaran angka US$ 1,780-an per troy ounce.  Hanya saja karena Rupiahnya yang melemah significant tersebut diatas – efek resultante-nya harga emas dan Dinar juga naik secara significant dalam Rupiah.

Bila fluktuasi harga masih seperti semalam yang mencapai rentang 5 % - terlihat dari grafik Rupiah biru dari – 1.5 ke + 3.5 ; maka ada kemungkinan kami akan meng-override ‘auto pilot’ engine harga emas dan Dinar kita – agar tidak menjadi ajang spekulasi.

Rentang yang kami anggap aman untuk tidak menjadi ajang spekulasi adalah 4 % yaitu perbedaan antara harga jual dan harga beli, oleh karenanya bila harga turun atau naik melebihi rentang 4 % - kemungkinan akan ada harga antar waktu – yaitu harga yang kami update diantara waktu-waktu update yang rutin jam 06.30, 12.30 ; 18.30 dan 00.30.

Semoga Rupiah masih akan berdaya…!. Amin.

Rabu, 14 September 2011

Bila Rupiah (Terus) Melemah…

Bila Rupiah (Terus) Melemah… PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Rabu, 14 September 2011 13:47
Bagi yang mengamati harga Dinar/Emas hari ini, barangkali Anda terkejut dengan kenaikannya yang mencapai sekitar Rp 50,000/Dinar pada harga siang - padahal harga emas internasionalnya lagi menurun. Ini tidak lain karena melemahnya Rupiah yang terus berlanjut yang terjadi sejak dua hari lalu. Pada saat artikel ini saya tulis misalnya, Rupiah menyentuh angka Rp 8,950/US$ di pasar internasional yang juga dapat diikuti di rate yang kami tampilkan secara real time di situs ini. Mengapa kok tiba-tiba Rupiah melemah ?.


Masalah bahwa Rupiah akan melemah ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan karena dalam situasi krisis ekonomi yang melanda negara-negara maju saat ini – Indonesia pasti kena dampaknya.  Demand import mereka menurun – maka export Indonesia juga akan menurun. Pasar yang mengecil diperebutkan banyak pemain, yang tidak kuat pasti juga akan mendapatkan kue pasar export yang lebih kecil.

Bahkan bila Rupiah tetap perkasa, kemungkinan memperoleh kue export-nya akan lebih kecil lagi karena produk-produk kita menjadi kurang bersaing. Jadi penurunan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar yang memang lagi mulai menguat ini – lihat grafik dibawah, tidak sepenuhnya buruk bagi ekonomi Indonesia.
 
Currency Trend IDR, USD, JPY and EURCurrency Trend IDR, USD, JPY and EUR
Bagi Anda yang terbiasa membeli produk import atau produk-produk yang nilainya mengikuti pasar internasional , tentu akan Anda rasakan produk-produk tersebut semakin mahal.

Salah satunya ya emas atau Dinar ini !.  Bila Rupiah melemah sampai Rp 9,500/US$ - yang saya anggap masih wajar mengingat situasi ekonomi global saat ini – maka pada kisaran harga emas yang terjadi sebulan terakhir saja – harga Dinar akan bisa mencapai lebih dari Rp 2,500,000 per Dinar, dan harga emas lebih dari Rp 600,000/gram.

Lebih detilnya Anda dapat lihat pada table dibawah untuk melihat kemungkinan-kemungkinannya – yaitu harga Dinar pada perbagai tingkat harga emas dunia dan perbagai tingkat nilai tukar. Wa Allahu A’lam.
 
Dinar at Various Exchange Rate and Intl. PriceDinar at Various Exchange Rate and Intl. Price